Berkurban Atas Nama Orang Yang Meninggal

BERKURBAN ATAS NAMA ORANG YANG MENINGGAL
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:
Apa hukum berkurban dan apakah boleh berkurban atas nama orang yang telah meninggal ? 

Jawaban:
Berkurban merupakan sunah yang sangat ditekankan (sunah muakad) menurut pendapat kebanyakan ulama karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga berkurban dan mendorong umatnya untuk melakukannya. Pada dasarnya menyembelih hewan kurban disunahkan bagi orang yang masih hidup untuk dirinya dan keluarganya. Jika ia mau, ia bisa menjadikan orang -orang yang masih hidup atau yang sudah mati untuk menjadi sekutunya dalam mendapatkan pahala.
Adapun hewan kurban atas nama orang yang telah meninggal , jika orang meninggal tersebut pernah mewasiatkannya agar mengambil dari sepertiga hartanya misalkan atau menjadikannya wakaf, maka orang yang menunaikan wakaf atau wasiat si mayit wajib melaksanakannya. Apabila si mayit tidak mewasiatkan dan tidak juga mewakafkan sementara keluarganya senang untuk berkurban atas nama bapaknya, ibunya atau selain keduanya, maka itu merupakan suatu hal yang baik. Namun, hal itu tergolong sedekah atas nama orang yang sudah Meninggal sedangkan sedekah atas nama orang yang sudah meninggal disyariatkan menurut pendapat Ahlussunnah wal Jamaah.
Adapun bersedekah dengan nilai hewan kurban karena berkeyakinan bahwa hal itu lebih utama daripada berkurban, apabila berkurban itu tertulis dalam wakaf atau wasiat, maka yang diamanahkan tidak boleh mengubahnya menjadi sedekah senilai dengan hewan kurban . Adapun apabila sedekahnya dilakukan untuk orang lain atas dasar suka rela, maka dalam masalah ini diberikan kelonggaran. Adapun berkurban atas nama seorang Muslim yang masih hidup atau keluarganya yang masih hidup, maka hukumnya sunah muakad (yang ditekankan) bagi siapa pun yang mampu. Berkurban lebih utama daripada bersedekah senilai hewan kurban . Semoga Allah memberi kita taufik.
http://www.binbaz.org.sa/fatawa/3806
http://t.me/ukhwh
27/08/2017
الأضحية عن الميت
ما حكم الأضحية؟ وهل تجوز عن الميت؟[1]
الأضحية سنة مؤكدة في قول أكثر العلماء؛ لأنه صلى الله عليه وسلم ضحى، وحث أمته على الأضحية.
والأصل أنها مطلوبة في وقتها من الحي عن نفسه وأهل بيته، وله أن يشرك في ثوابها من شاء من الأحياء والأموات.
أما الأضحية عن الميت، فإن كان أوصى بها في ثلث ماله مثلاً، أو جعلها في وقف له، وجب على القائم على الوقف أو الوصية تنفيذها، وإن لم يكن أوصى بها، ولا جعل لها وقفا، وأحب إنسان أن يضحي عن أبيه أو أمه أو غيرهما، فهو حسن، ويعتبر هذا من أنواع الصدقة عن الميت، والصدقة عنه مشروعة في قول أهل السنة والجماعة.
وأما الصدقة بثمن الأضحية؛ بناء على أنه أفضل من ذبحها، فإن كانت الأضحية منصوصاً عليها في الوقف أو الوصية، لم يجز للوكيل العدول عن ذلك إلى الصدقة بثمنها، أما إن كانت تطوعاً عن غيره، فالأمر في ذلك واسع.
وأما الأضحية عن نفس المسلم الحي وعن أهل بيته، فسنة مؤكدة للقادر عليها، وذبحها أفضل من الصدقة بثمنها، وبالله التوفيق.
[1] نشر في (نشرة الحسبة) العدد 17 في شهري ذي القعدة وذي الحجة 1417هـ.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim