Syarat Syarat dan Sunnah Sunnah I'tikaf

Silsilah Fikih Puasa Lengkap (Bahagian 32 – Akhir)
Bab 12 : Ibadah I’tikaf
Syarat-Syarat I’tikaf
Antara syarat-syarat dalam i’tikaf adalah:
1: Islam. Tidak sah jika i’tikaf dilakukan oleh orang kafir.
2: Minimum telah berusia tamyiz (mampu memahami perkataan dan boleh menjawab pertanyaan), dan biasanya pada usia tujuh tahun.
3: Suci dari haidh dan nifas bagi kaum wanita. Jadi, i’tikaf sah dilakukan oleh wanita yang mengalami istihadhah (keluarnya darah di luar masa haidh dan nifas) jika ia menjaga darahnya tidak terjatuh di masjid.
4: Berniat i’tikaf.
5: Melaksanakannya di masjid. Menurut pendapat yang benar, i’tikaf sah dilakukan di setiap masjid.
6: I’tikaf sah dilakukan meskipun tidak disertai puasa, menurut pendapat yang benar. Ini adalah pendapar azh-Zhahiriyah, asy-Syafi’i, dan yang masyhur pada mazhab Ahmad, serta diriwayatkan dari sejumlah sahabat. Ini yang dipilih oleh asy-Syaukani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah qadha i’tikaf yang dilakukan oleh Rasulullah pada sepuluh hari pertama di bulan Syawal, sedangkan awal Syawal adalah Hari Raya ‘Idul Fitri yang diharamkan berpuasa padanya.
7: Tidak melakukan jima’, berdasarkan firman Allah, “Janganlah kalian menggauli isteri-isteri itu selagi kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah: 187)
8: Tidak melakukan hal-hal kontradik (bertentangan) dengan tujuan i’tikaf, seperti keluar untuk bersetubuh dengan isteri di rumah, keluar untuk menjalankan pekerjaannya, keluar untuk transaksi jual beli, melakukan pekerjaan (seperti upah menjahit) di tempat i’tikafnya, dan transaksi jual beli di tempat i’tikafnya, atau lainnya.
9: Tidak keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan yang tidak bersifat harus dilakukan. Adapun keluar untuk urusan yang bersifat harus dilakukan, hal itu boleh, baik urusan yang bersifat tabiat manusiawi, seperti buang hajat, makan dan minum, mahupun yang bersifat aturan syariat seperti wudhu, mandi janabah dan solat jumaat.
“Sesungguhnya Nabi biasanya tidak masuk rumah kecuali untuk suatu hajat manusiawi jika sedang beri’tikaf.” (HR Muslim)
❗Jika seseorang yang beri’tikaf mengeluarkan sebahagian anggota tubuhnya dari masjid, i’tikafnya tidak batal. Sebab ketika i’tikaf, Nabi pernah mengeluarkan kepalanya dari masjid dan kepalanya dibasuh oleh Aisyah dari luar, kerana Aisyah sedang haidh, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Sunnah-Sunnah I’tikaf
Antara unnah-sunnah dalam i’tikaf adalah:
1: Hendaknya seseorang mengambil tempat khusus dengan membuat tenda (khemah) di dalam masjid, sebagaimana amalan Rasulullah dan isteri-isterinya.
2: Hendaknya seseorang menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah khusus, seperti solat sunnah mutlak di waktu-waktu yang tidak terlarang, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa dan beristighfar. Khususnya i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malamnya dihidupkan dengan solat tarawih.
3: Hendaknya meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Bukan bermakna tidak boleh berbicara atau tidak boleh dikunjungi keluarga atau teman. Namun yang ditekankan agar menghindar dari perkara yang tidak bermanfaat.
(Faedah dari Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din -Kitab ash-Shiyam-, karya Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di, disyarah al-Ustadz Muhammad as-Sarbini, diterbitkan Oase Media)
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
13/06/2017

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim