Ibadah I’tikaf

Silsilah Fikih Puasa Lengkap (Bahagian 31)
Bab 12 : Ibadah I’tikaf
==========================
Al-Imam as-Sa’di berkata, “Rasulullah senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga baginda diwafatkan oleh Allah. Para isteri baginda pun melakukan i’tikaf sepeninggal baginda.” (Muttafaq ‘alaih)”
==========================
Definisi & Hukum I’tikaf
Definisi i’tikaf secara bahasa adalah al-Habs (menahan diri), al-Mukts (berdiam diri), dan al-Mulazamah (menetapi). Jadi, i’tikaf adalah menetapi sesuatu dan menahan diri padanya untuk kebaikkan atau untuk perkara dosa.
Adapun definisi i’tikaf secara syariat, adalah seperti keterangan sebahagian ulama:
➡Al-Imam an-Nawawi berkata, “I’tikaf adalah berdiam diri di masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan niat tertentu.”
➡Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “I’tikaf adalah menetap di dalam masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.”
Hukum i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah sunnah (tidak wajib), kecuali bagi orang yang bernazar untuk melakukannya, hukumnya menjadi wajib.
Pendapat yang masyhur bahawa i’tikaf disunnahkan pada setiap waktu dan lebih ditekankan di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Waktu Mula & Berakhirnya I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Hadits menunjukkan bahawa Nabi memulai i’tikaf baginda sejak terbenam matahari di malam ke-21 Ramadhan. Sebab, sepuluh hari terakhir Ramadhan bermula dari terbenamnya matahari di malam ke-21 Ramadhan. 
“Rasulullah sering beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadhan. Baginda lalu beri’tikaf pada suatu tahun. Ketika tiba malam ke-21 yang merupakan malam yang di pagi harinya (hari ke-20) baginda keluar dari i’tikaf, baginda berkata ketika itu, ‘Barangsiapa beri’tikaf bersamaku, hendaklah ia beri’tikaf (kembali) pada sepuluh hari terakhir’.” (Muttafaq ‘alaih)
Akan tetapi, telah datang riwayat dari Aisyah bahawa Rasulullah bersabda, “Jika Rasulullah ingin melakukan i’tikaf, baginda menunaikan solat fajar (Subuh) lalu masuk ke tempat i’tikafnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam memahami hadits-hadits ini, ada perbezaan pendapat di kalangan ulama:
1: Pendapat empat imam mazhab dan jumhur ulama yang menyatakan bahwa Rasulullah memulai i’tikaf di masjidnya ketika matahari terbenam di awal malam ke-21, kemudian baginda masuk ke dalam tenda (khemah) yang telah disiapkan untuk dirinya dan menyendiri di sana setelah solat Subuh. Pendapat ini dinyatakan kuat oleh al-Utsaimin. Dan pendapat ini yang benar, insyaAllah.
2: Pendapat al-Auza’i, al-Laits dan Sufyan ats-Tsauri yang mengambil zahir makna dari hadits Aisyah. Mereka mengatakan bahawa awal waktu dimulainya i’tikaf di masjid tempat i’tikaf adalah setelah solat Subuh. Pendapat ini dinyatakan kuat oleh ash-Shan’ani dan Ibnu Baz.
Berdasarkan hadits Aisyah yang disebutkan al-Imam as-Sa’di, menunjukkan i’tikaf Rasulullah berakhir ketika matahari terbenam di akhir Ramadhan. Berdasarkan hal ini, i’tikaf berakhir ketika matahari terbenam di malam ‘Id. Inilah pendapat yang benar, iaitu pendapat jumhur ulama dan Ibnu Hazm.
(Faedah dari Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din -Kitab ash-Shiyam-, karya Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di, disyarah al-Ustadz Muhammad as-Sarbini, diterbitkan Oase Media)
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
11/06/2017

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim