Bantahan Terhadap Pendalilan Mungkarnya Berdzikir Dengan Suara Keras Setelah Shalat Wajib

AL-UKHUWWAH:
BANTAHAN TERHADAP  PENDALILAN MUNGKARNYA BERDZIKIR DENGAN SUARA KERAS SETELAH SHALAT WAJIB
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata:

Adapun orang yang mengingkari amalan mengeraskan (dzikir setelah shalat ini) dengan firman-Nya:
(وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ).
“Sebutlah (wahai Muhammad) nama Tuhanmu di dalam dirimu, dengan
rendah hati dan suara yang lirih serta tidak mengeraskan suara, ketika
awal dan akhir hari. Dan janganlah kamu menjadi orang yang lalai”.(al-A’rof: 205).
Maka bisa dijawab dengan mengatakan: “Sesungguhnya yang diperintah
untuk berdzikir dalam diri dengan rendah hati dan suara lirih (yaitu
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau juga yang dulunya
mengeraskan dzikir setelah shalat wajib.”
Lalu apakah orang itu lebih tahu maksud Alloh dalam ayat itu melebihi
rasul-Nya?! Ataukah ia beranggapan bahwa Rasul -shallallahu alaihi
wasallam- sebenarnya tahu maksud ayat itu, tapi beliau sengaja
menyelisihinnya?!

Adapun orang yang mengingkari amalan mengeraskan (dzikir setelah sholat ini) dengan hadits berikut:
قال: “أيها الناس أربعوا على أنفسكم”
Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sayangilah diri kalian, karena
kalian tidaklah berdoa kepada Dzat yang …! (sampai akhir hadits)”.
(Maka bisa dijawab dengan mengatakan…) Sesungguhnya orang yang
menyabdakan hal itu, dia juga yang dulunya mengeraskan dzikir setelah
shalat wajib ini. Itu berarti, tuntunan ini punya tempat sendiri,
sedangkan yang itu juga ada tempatnya sendiri. Dan sempurnanya mengikuti
sunnah beliau adalah dengan memakai semua nash yang ada, pada tempatnya
masing-masing.ً

Adapun orang yang mengatakan bahwa amalan itu bisa mengganggu orang lain, maka bisa dijawab dengan mengatakan padanya:
Jika maksudmu akan mengganggu orang yang tidak biasa dengan hal itu,
maka hal itu akan hilang (dengan sendirinya), ketika ia tahu bahwa
amalan itu adalah sunnah.
Jika maksudmu akan mengganggu orang yang shalat, maka jika tidak ada
ma’mum yang masbuq, tentu hal itu tidak akan mengganggu mereka,
sebagaimana fakta di lapangan. Karena mereka sama-sama mengeraskan
dzikirnya.ً

Adapun jika ada ma’mum masbuq yang sedang menyelesaikan shalatnya,
maka jika ia dekat denganmu hingga kamu bisa mengganggunya dengan
(kerasnya) suara dzikirmu, maka janganlah kamu meninggikan suara dengan
tingkatan suara yang bisa mengganggunya, agar kamu tidak mengganggu
shalatnya. Sedang jika ia jauh darimu, maka tentu kerasnya suara
(dzikir)-mu tidak akan mengganggunya sama sekali.
Dengan keterangan yang kami sebutkan di atas, menjadi jelas bagi
kita, bahwa mengeraskan dzikir setelah shalat wajib adalah sunnah. Hal
itu sama sekali tidak bertentangan dengan nash yang shahih maupun dengan
sisi pendalilan yang sharih (jelas).
Aku memohon kepada Alloh, semoga Dia memberikan kita semua ilmu yang
bermanfaat dan ilmu yang baik, sesungguhnya Dia itu maha dekat lagi maha
mengabulkan doa.
https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=94686
http://telegram.me/ukhwh
27/06/2017
وأما احتجاج منكر الجهر بقوله تعالى: (وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ).
فنقول له: إن الذي أمر أن يذكر ربه في نفسه تضرعاً وخيفة هو الذي كان يجهر بالذكر خلف المكتوبة، فهل هذا المحتج أعلم بمراد الله من رسوله، أو يعتقد أن الرسول صلى الله عليه وسلم يعلم المراد ولكن خالفه، ثم إن الآية في ذكر أول النهار وآخره (بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ) وليست في الذكر المشروع خلف الصلوات، وقد حمل ابن كثير في تفسيره الجهر على الجهر البليغ.
وأما احتجاج منكر الجهر أيضاً بقوله صلى الله عليه وسلم: "أيها الناس اربعوا على أنفسكم". الحديث.
فإن الذي قال: "أيها الناس أربعوا على أنفسكم" هو الذي كان يجهر بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، فهذا له محل، وذاك له محل، وتمام المتابعة أن تستعمل النصوص كل منها في محله.
ثم إن السياق في قوله: "اربعوا على أنفسكم" يدل على أنهم كانوا يرفعون رفعاً بليغاً يشق عليهم ويتكلفونه، ولهذا قال: "أربعوا على أنفسكم". أي: ارفقوا بها ولا تجهدوها، وليس في الجهر بالذكر بعد الصلاة مشقة ولا إجهاد.
أما من قال: إن في ذلك تش
ويشاً.
فيقال له: إن أردت أنه يشوش على من لم يكن له عادة بذلك، فإن المؤمن إذا تبين له أن هذا هو السنة زال عنه التشويش، إن أردت أنه يشوش على المصلين، فإن المصلين إن لم يكن فيهم مسبوق يقضي ما فاته فلن يشوش عليهم رفع الصوت كما هو الواقع، لأنهم مشتركون فيه، وإن كان فيهم مسبوق يقضي فإن كان قريباً منك بحيث تشوش عليه فلا تجهر الجهر الذي يشوش عليه لئلا تلبس عليه صلاته، وإن كان بعيداً منك فلن يحصل عليه تشوش بجهرك.
وبما ذكرنا يتبين أن السنة رفع الصوت بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، وأنه لا معارض لذلك لا بنص صحيح ولا بنظر صريح، وأسأل الله تعالى أن يرزقنا جميعاً العلم النافع والعمل الصالح، إنه قريب مجيب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim