Apa Yang Dilakukan Orang Awam Dan Orang Yang Baru Menuntut Ilmu Ketika Terjadi Perbedaan Pendapat Ulama Ahlussunnah Waljamaah

APA YANG DILAKUKAN ORANG AWAM DAN ORANG YANG BARU MENUNTUT ILMU KETIKA TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA AHLUSSUNNAH WALJAMAAH
Syaikh Shalih bin Fawzan al-Fawzan hafizhahullah
Pertanyaan:
Apa sebab  perbedaan pendapat diantara ulama dalam sebuah masalah? Dan apa sikap orang yang awam dan orang yang baru menuntut ilmu terhadap perbedaan pendapat ini?
Jawaban:
Perbedaan pendapat diantara ullama terjadi sesuai dalil atau beberapa dalil yang nampak bagi mereka. Karena mereka adalah ahli ijtihad (ahli menarik kesimpulan hukum syariat) sehingga mereka mendapat pahala dalam berijtihad. Nabi Muhamnad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
“Apabila seorang hakim menetapkan satu hukum dengan berijtihad kemudian ijtihadnya benar, maka dia mendapat dua pahala. Dan apabila dia menetapkan satu hukum  dengan berijtihad kemudian ternyata ijtihadnya salah, maka dia dapat satu pahala.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya kitab Al-Itisham bil Kitab was Sunnah bab Ajril Hakim Idzajtahada fa Ashaba wa Akhta’a hadits ke 7352 dari Amr bin Ash radliyallahu anhu)
Maka ini suatu perkara yang baik dan termasuk sikap antusias terhadap kebaikan.
Adapun orang yang awam maka dia tidak mengambil pendapat yang diperselisihkan ulama maupun memilihnya akan tetapi hendaknya dia bertanya kepada ulama.
Orang yang awam hendaknya bertanya kepada ulama dan mengambil perkataan ulama. Allah Ta'ala berfirman:
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
(al-Anbiya':7)
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/16221
http://telegram.me/ukhwh
28/06/2017
السؤال:
ما سببُ اختلافِ العُلماء في المسألةِ الواحدةِ؟ وما موقف العاميّ وطالب العلم المُبتدئ مِنْ هذا الخِلاف؟
الجواب:
اختلافُهُم بحَسَبِ ما يظهر لهم مِنَ الدليلِ أو مِنَ الأدِلّةِ، فهم مُجتهدون لهم أجرٌ في الاجتهاد: (إِذَا اجْتَهَدَ الحَاكِمُ فَأصَابَ فَلَهُ أجْرَان، وإِذَا اجْتَهَدَ فَأخْطَأ فلَهُ أَجْرٌ واحِدٌ)، فهذا شيءٌ طيّبٌ، وهذا مِنَ الحِرص على الخير.
العاميّ لا يأخُذ بالخلاف، ولا يختار هو، وإنما يَسأل العلماء، العاميّ يسأل العالِم ويأخُذ بقولِ العالِم: {فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ}.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim