Memerangi Para Perompak & Pemberontak Adalah Boleh

Silsilah Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah (Bahagian 27)
Bab 22:
Memerangi Para Perompak & Pemberontak Adalah Boleh
Al-Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: “Memerangi al-Lushush (para perompak) serta al-Khawarij (para pemberontak) adalah diperbolehkan. Jika mereka menghadang seseorang demi (mengawasi) diri ataupun hartanya, maka boleh baginya untuk melawan demi (keselamatan) diri dan hartanya. Ia membela diri dan hartanya dengan segenap kemampuan. Tetapi jika mereka telah berpisah darinya atau meninggalkannya, maka ia tidak boleh untuk mencari mereka ataupun menelusuri jejak-jejak mereka. Tidaklah dibolehkan bagi seorangpun, kecuali hanya pemimpin atau penguasa kaum muslimin. Hanya saja ia berhak untuk membela diri di tempatnya saat itu, dan ia tetap berniat dengan sungguh-sungguh agar tidak sampai membunuh seorang pun. Namun jika orang itu mati melalui kedua tangannya kerana membela diri dalam pergulatan tersebut, maka Allah akan menjauhkan orang yang terbunuh itu. Dan jika ia sendiri yang terbunuh dalam keadaan seperti itu sambil membela diri dan hartanya, maka aku berharap ia mendapat kesyahidan*. ...”
==========================
* Asy-Syaikh Rabi’ حفظه الله menjelaskan, “Inilah perincian-perincian dalam memerangi Khawarij, para penyerang dan para pemberontak, yang kesemuanya di ambil dari hadits-hadits Nabi ﷺ:
Ketika seorang lelaki bertanyakan kepada baginda, ia berkata, "Bagaimana menurutmu jika ada orang yang hendak merampas hartamu?". Baginda menjawab, "Jangan kau berikan". Orang itu berkata, "Lalu jika ia memerangiku?". Baginda menjawab "Balas perangi". Ia berkata, "Bagaimana jika ia membunuhku?". Baginda menjawab, "Kalau begitu engkau syahid". Ia berkata lagi, "Jika aku yang membunuhnya?". Baginda menjawab, "Ia di neraka"." (HR Muslim)
Kerana itu, jika seseorang dilanggar pada harta, isteri ataupun dirinya, ia berhak untuk mempertahankannya. Dengan cara paling baik, dan tanpa bermaksud ingin membunuh. Ia lindungi dengan sebaik-baiknya.
❗Namun jika urusannya pada akhirnya mengharuskan untuk membunuhnya, maka tidak ada dosa atasnya. Bahkan yang terbunuh tadi masuk ke neraka. Sedangkan jika ia, yang teraniya terbunuh, maka ia syahid insyaAllah, jika ia meniatkan (mengharapkan) wajah Allah dalam dirinya, serta berpegang teguh dengan apa yang disyariatkan, bukan sekadar pembelaan terhadap dirinya semata.”
(Faedah dari Kitab Syarh Ushul as-Sunnah, karya asy Syaikh Rabi’ al-Madkhali, diterbitkan Maktabah Al Huda, diterjemahkan Ustadz Muhammad Higa)

WhatsApp طريق السلف
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
13/04/2017

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim