Apakah Pencipta Itu Ada?


أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥  أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

Ayat yang Menggetarkan Hati

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Thur dalam shalat maghrib. Tatkala sampai pada firman-Nya,
أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ٣٧
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (ath-Thur: 35—36)

Jubair berkata, “Hampir saja hatiku melayang (karena tercengang mendengar hujah yang sangat kokoh dalam ayat ini).” (HR. al-Bukhari 6/4854)

Dalam riwayat lain pada Shahih al-Bukhari, Jubair radhiallahu ‘anhu berkata, “Itu merupakan pertama kali iman menetap dalam hatiku.”

As-Sindi rahimahullah menjelaskan makna ‘hampir saja hatiku melayang’, “Karena begitu jelasnya kebenaran dan begitu terangnya kebatilan sesuatu yang batil.” (Hasyiah as-Sindi ala Sunan Ibni Majah, 1/275)

Tafsir Ayat

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun….”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini.

Maksudnya, “apakah mereka diciptakan tanpa ada Rabb yang menciptakan?”

Tafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Diciptakan tanpa Rabb yang menciptakannya.”

Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa ayah dan ibu sehingga mereka seperti benda-benda yang tidak berakal?”

Penafsiran ini dinyatakan kuat oleh ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya.

    Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu seperti halnya langit dan bumi?”

Maksudnya, manusia tidaklah lebih susah penciptaannya daripada langit dan bumi. Sebab, langit dan bumi diciptakan tanpa sesuatu sebelumnya, sementara manusia diciptakan dari Adam, dan Adam alaihissalam dari tanah.

    Maknanya, “Apakah mereka diciptakan bukan untuk sesuatu?” Kataمِنۡ di sini bermakna lam. Jadi, maksudnya, mereka tidaklah diciptakan dalam keadaan sia-sia tanpa ada perintah dan larangan. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Kebanyakan ulama menafsirkan dengan penafsiran yang pertama.

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan hujah yang membantah mereka dengan sesuatu yang tidak ada kemungkinan selain harus menerima kebenaran atau keluar dari akal sehat dan agama.

Penjelasannya, orang-orang yang mengingkari tauhid dalam hal ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendustakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berkonsekuensi mereka mengingkari bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah yang menciptakan mereka. Padahal akal menetapkan bahwa segala sesuatu yang berwujud ini tidaklah terlepas dari tiga kemungkinan:
1) Mereka diciptakan tanpa ada sesuatu, maksudnya tanpa ada pencipta yang menciptakan mereka. Mereka berwujud tanpa diwujudkan dan tanpa ada yang mewujudkannya. Ini hal yang mustahil.
2) Atau mereka mewujudkan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil karena tidak bisa dibayangkan ada sesuatu yang mewujudkan dirinya sendiri.
Jika dua kemungkinan di atas batil dan mustahil, tidak ada kemungkinan lain kecuali:
3) Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka.

Jika ini telah pasti, diketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla semata yang berhak untuk disembah. Tidak sepantasnya, bahkan tidak boleh, suatu ibadah diserahkan kecuali hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata.” (Taisiral Karimir Rahman)

Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Apakah orang-orang musyrik itu diciptakan tanpa sesuatu, yakni tanpa ayah dan ibu, sehingga mereka seperti benda-benda lainnya yang tidak berakal dan tidak memahami hujah Allah ‘azza wa jalla, tidak dapat mengambil pelajaran, dan tidak bisa memetik sebuah nasihat?” (Tafsir ath-Thabari, 22/481)

Demikian pula yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Seorang manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum memiliki wujud, dia tidak ada. Tidak ada adalah bukan sesuatu, dan apa yang bukan sesuatu tidak mungkin mewujudkan sesuatu.

Ayahnya tidaklah menciptakannya, tidak pula ibunya, tidak pula seorang makhluk pun. Tidak mungkin pula dia muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang mewujudkan. Sebab, setiap yang ada permulaan wujudnya, ada yang mewujudkannya.

Adanya wujud seluruh makhluk yang teratur dan sepadan, saling melengkapi, menjadikan tidak mungkin hal tersebut terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Sebab, sesuatu yang terjadi secara spontan, tidaklah beraturan pada asal wujudnya. Bagaimana mungkin bisa tetap teratur dan tersusun rapi dalam perjalanan dan perkembangannya?!

Maka dari itu, sudah pasti bahwa Allah ‘azza wa jalla Dialah satu-satu-Nya pencipta. Tidak ada pencipta dan tidak ada yang menetapkan satu urusan pun selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

Tidak diketahui ada seorang makhluk pun yang mengingkari rububiyah Allah ‘azza wa jalla, kecuali karena kesombongannya, seperti yang terjadi pada Fir’aun.” (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah hlm. 29)

Tiga pembagian yang disebutkan dalam ayat ini dikenal dalam istilah ushul dengan sebutan as-sabr wat-taqsim, yaitu menyebutkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu karena suatu hal, lalu menyebutkan kebatilan berbagai kemungkinan itu dan menetapkan satu kebenaran yang pasti.

Hal ini diterangkan oleh al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan. Beliau rahimahullah berkata, “Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa keadaan ini tidak terlepas dari salah satu di antara tiga keadaan berdasarkan pembagian yang sahih:
1) Mereka diciptakan tanpa sesuatu, yaitu tanpa ada yang menciptakannya sama sekali.
2) Mereka menciptakan diri mereka sendiri
3) Ada Pencipta yang menciptakan mereka selain mereka sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa dua poin yang pertama adalah batil. Kebatilannya merupakan hal yang pasti sebagaimana yang disaksikan. Karena itu, tidak perlu ditegakkan hujah untuk menjelaskan kebatilannya karena begitu jelasnya kebatilan tersebut. Poin yang ketiga adalah kebenaran yang tidak diragukan bahwa Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka, satu-satu-Nya yang berhak mereka ibadahi.” (Adhwaul Bayan 3/493)

Wujud Allah, Sesuatu yang Pasti


Beriman kepada adanya Allah ‘azza wa jalla adalah kepastian yang tidak dapat diingkari, baik secara akal, pancaindra, fitrah, dan terlebih lagi berdasarkan tanda-tanda yang bersifat kauniyah (alam) dan syar’iyah (ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla).

Adapun secara akal, tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa ada pencipta yang menciptakannya terlebih ketika kejadian tersebut muncul dengan sangat teratur dan berjalan dengan begitu rapi. Ini merupakan kepastian yang diyakini tanpa harus dipelajari.

Seorang yang berasal dari suku Badui ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui Rabbmu?”

Ia menjawab, “Jejak menunjukkan bekas perjalanan. Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka dari itu, langit yang berbintang, bumi yang memiliki jalan, lautan yang berombak, bukankah itu menunjukkan adanya Maha Mendengar dan Maha Melihat?”

Dikisahkan, ada sekelompok orang dari firqah (sekte) Sumaniyah (salah satu kelompok pengingkar adanya Rabb) mendatangi Abu Hanifah rahimahullah. Mereka berasal dari India. Mereka mendebat Abu Hanifah tentang Sang Pencipta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Abu Hanifah menjanjikan mereka untuk datang kembali setelah sehari atau dua hari.

Mereka pun datang pada hari yang ditentukan. Mereka berkata, “Apa yang hendak engkau katakan?”

Abu Hanifah berkata, “Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh barang dan berbagai rezeki. Ia datang membelah gelombang hingga tiba di sebuah pelabuhan. Lalu barang-barang itu turun dan kapal pun pergi. Kapal ini tidak memiliki nakhoda, tidak pula buruh.”

Mereka berkata, “Engkau berpikir demikian?”

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

Mereka berkata, “Berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal, ada sebuah kapal yang datang tanpa nakhoda, lalu barang-barang turun sendiri dan kapal pun pergi? Ini tidak masuk akal.”

Abu Hanifah pun berkata kepada mereka, “Bagaimana bisa kalian menganggap itu tidak masuk akal, sedangkan kalian menganggap masuk akal bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, pegunungan, pepohonan, hewan, dan manusia, semuanya ada tanpa pencipta?!”

Akhirnya mereka sadar bahwa Abu Hanifah sedang mendebat mereka dengan apa yang mereka ketahui. Mereka tidak mampu menemukan jawabannya.

Adapun secara pancaindra, ditetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dari dua sisi:

1) Kita mendengar berita tentang terkabulnya doa manusia dan pertolongan terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan.

Ini jelas menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَنُوحًا إِذۡ نَادَىٰ مِن قَبۡلُ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلۡكَرۡبِ ٱلۡعَظِيمِ ٧٦

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.” (al-Anbiya: 76)

Demikian pula firman-Nya,
إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ٩

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu dikabulkan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (al-Anfal: 9)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki masuk ke dalam masjid pada hari Jum’at saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki itu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta (hewan ternak) dan perjalanan terhenti (karena lemahnya hewan tunggangan). Berdoalah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menurunkan hujan kepada kami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat ada kumpulan awan tebal maupun tipis di langit. Tiada penghalang antara kami dan Bukit Sala’, baik rumah maupun bangunan. Tibatiba, dari arah belakang bukit tersebut muncul sekumpulan awan yang berbentuk seperti perisai (bulat), Awan tersebut menuju ke arah tengah lalu menyebar dan segera menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak pernah menyaksikan matahari selama enam hari.

Jum’at berikutnya, seorang lelaki masuk dari pintu masjid tersebut saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki tersebut mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa hewan ternak (disebabkan banyaknya air dan sulitnya memelihara hewan tersebut) dan perjalanan terhenti (karena sulitnya menempuh perjalanan yang dipenuhi air, -pen.). Berdoalah kepada Allah agar menahan hujan tersebut dari wilayah kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah, serta tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Hujan tiba-tiba berhenti. Kami pun keluar di tengah terik matahari.” (Muttafaq ‘alaihi)

Manusia masih terus merasakan terkabulnya doa tatkala mereka berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla. Semua ini menunjukkan bahwa Dia benar-benar ada.

 2) Tanda-tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan melalui kebenaran para rasul-Nya yang disebut mukjizat

Mukjizat para rasul disaksikan dan didengarkan oleh manusia. Mukjizat adalah urusan yang di luar kemampuan manusia. Mukjizat tersebut adalah bagian dari kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang menguatkan para rasul-Nya.

Misalnya, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintah untuk memukulkan tongkatnya ke lautan yang menyebabkan terbelahnya lautan tersebut dan membentuk dua belas jalan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ ٦٣

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 63)

Contoh yang kedua, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam diberi kemampuan menghidupkan orang yang telah mati dan mengeluarkan mereka dari kuburnya, dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٤٩

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka),  “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah; aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada hal itu ada tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali Imran: 49)

Firman-Nya,
إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَۖ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ بِإِذۡنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِيۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ١١٠

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu waktu Aku menguatkanmu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia sewaktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) waktu Aku mengajarimu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)

Demikian pula mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala kaum Quraisy meminta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menampakkan tanda kebenaran wahyu Allah yang beliau bawa. Beliau pun mengisyaratkan ke bulan, lalu bulan tersebut terbelah menjadi dua. Manusia melihat kejadian yang menakjubkan tersebut. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya,
ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ ١  وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ ٢

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka  (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” (al-Qamar: 1—2)

Masih banyak mukjizat para rasul yang lain yang di luar kemampuan manusia. Semua itu menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dan senantiasa memberi pertolongan kepada para rasul-Nya.

Secara fitrah, yang menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla ialah bahwa fitrah setiap hamba meyakini adanya pencipta, tanpa harus berfikir secara mendalam dan waktu yang lama. Tidak ada seorang pun yang keluar dari fitrah ini kecuali yang fitrahnya telah dirusak oleh berbagai pemikiran sesat dan menyimpang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتِجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti halnya hewan melahirkan seekor hewan, apakah engkau melihat telinganya terpotong?” (Muttafaq ‘alaihi)

Semua bukti dan petunjuk ini merupakan hujah pasti yang menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada, Dzat yang menciptakan segala yang ada di jagad raya ini, dan Dia sajalah yang berhak untuk disembah. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia semata. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ٣٧

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

dari http://asysyariah.com/apakah-pencipta-itu-ada/
22/02/2017

Postingan terkait:

2 Tanggapan

  1. Bismillah, dalam artikel di atas ada penyebutan Asma Allah Ta'ala yg diikutkan shalawat, mohon dikoreksi. baarakallahufiikum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah kami perbaiki. Jazaakallahu khairan akhi atas koreksinya

      Hapus

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim