Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu

Nama lengkap beliau adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri. Beliau berkuniah Abu Ishaq. Beliau juga sering dipanggil dengan nama Sa’ad bin Malik Az Zuhri. Kakeknya ialah Uhaib, putra dari Manaf yang merupakan paman dari Aminah bintu Wahb, ibunda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, berdasarkan garis keturunan, beliau termasuk paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jalan ibu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membanggakan beliau kepada para shahabat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Inilah pamanku. Coba tunjukkan padaku siapa yang punya paman seperti pamanku.”

KEUTAMAAN SAAD BIN ABI WAQQASH

Sangat banyak keutamaan shahabat yang mulia ini. Beliau adalah salah seorang di antara sepuluh shahabat yang diberikan kabar gembira dengan janji surga. Beliau merupakan orang keempat yang masuk Islam dalam umur 17 tahun. Beliau seorang yang mahir membuat panah, juga pandai dalam memainkannya. Bahkan, beliau adalah orang pertama yang melontarkan panah dalam perang fi Sabilillah, sekaligus orang pertama yang terkena panah dalam jihad fi sabilillah.

Beliau merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, beliau adalah salah seorang shahabat yang doanya senantiasa dikabulkan. Hal itu disebabkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuknya. Pada suatu hari, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan pada diri Sa’ad sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau. Beliau pun berdoa, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya.”

Inilah contoh seorang pemuda yang begitu gigih dalam berpegang terhadap agamanya. Hal ini terbukti ketika beliau memutuskan untuk memeluk Islam. Beliau diuji dengan ibunya yang mogok makan sampai beliau mau kembali kepada agama yang dahulu. Sungguh ucapan beliau ini begitu masyhur, “Sesungguhnya aku sangat mencintaimu wahai ibuku. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu mempunyai seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu persatu (supaya aku keluar dari agamaku), sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku karenanya.”

Tatkala ibu beliau mengetahui kesungguhan ucapan ini, maka ibunya pun akhirnya mengalah. Lalu, dia pun menghentikan aksi mogok makan meski dengan terpaksa. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Dan kalau keduanya (orang tua) memaksamu untuk menyekutukan-Ku (dengan) apa yang engkau tidak ketahui, jangan ditaati, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” [Q.S. Luqman:15].

Beliau turut mengikuti perang Badar. Dalam perang tersebut, gugurlah adik kesayangan beliau Umair, yang kala itu masih belum baligh, namun memaksa untuk ikut terjun dalam kancah perang. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Beliau juga merupakan pahlawan dalam perang Uhud. Bersama kurang lebih sepuluh orang shahabat, beliau melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kala kaum muslimin dalam suasana kacau dan berpencar jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan cekatan beliau memanah kaum musyrikin dan membunuh mereka. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap, “Panahlah wahai Saad, ayah ibuku menjadi tebusanmu.” Demikianlah beliau senantiasa mengikuti peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

SINGA YANG MENYEMBUNYIKAN KUKUNYA, SANG PENAKLUK QADISIYAH

‘Singa yang menyembunyikan kukunya’ demikianlah julukan untuk beliau yang diberikan oleh Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, beliau diangkat sebagai komandan pasukan yang dikirimkan untuk memerangi Persia. Berkumpullah kaum muslimin dari seluruh penjuru negeri ke Madinah untuk mengikut peperangan ini. Sebanyak 30.000 kaum muslimin yang terdiri dari veteran perang Badar, Bai’atur Ridwan, serta para shahabat yang bergabung dalam Fathu Makkah. Ikut serta pula sekitar 700 orang putra-putra para shahabat, ditambah pejuang-pejuang muslim lainnya.

Walaupun pejuang kaum muslimin begitu banyak, tetap saja jumlah tersebut terlalu sedikit dibanding jumlah tentara Persia yang berlipat ganda dan lengkap dengan alat-alat perang. Namun, dengan tekad yang kuat disertai tawakal kepada Allah, kaum muslimin tak sedikit pun gentar dengan musuh. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mampu menyeberangi sungai Tigris yang dalam dan berbahaya. Lalu bertempur dengan pasukan persia yang berada di seberang sungai. Sungguh merekalah para pejuang Islam yang patut dibanggakan.

Pada hari kemenangan, kaum muslimin berhasil membunuh panglima Persia yang bernama Rustum. Dengan sebuah lembing milik salah seorang muslimin, terpisahlah kepala dari jasadnya. Ciutlah nyali tentara api, dan gentarlah mereka dengan keberanian kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin berhasil menaklukkan Persia pada tahun 15 H di Qadisiyah (salah satu daerah di Irak). Setahun setelahnya, Julailak dapat ditaklukkan. Pada tahun 17 H dapat menaklukan Madain dan Bani Al-Kuffa. Demikianlah pasukan Allah subhanahu wa ta’ala yang dipimpin oleh Sa’ad dapat memadamkan api persia dan mengalahkan para penyembahnya.

MURID-MURID BELIAU

Murid-murid Sa’ad bin Abi Waqqash ada banyak. Di antara yang meriwayatkan hadits dari beliau dari kalangan shahabat adalah Abdullah bin AbbasAbdullah bin Umar, dan Khaulah binti Hakim radhiyallahu ‘anhum. Dari kalangan tabi’in, adalah Mujahid, ‘Alqamah bin Qais, Sa’id bin Al-Musayyib.

AKHIR KEHIDUPAN

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dikaruniai Allah subhanahu wa ta’ala usia lanjut, lebih dari 80 tahun. Beliau cukup memiliki kekayaan. Beliau dilimpahi harta yang banyak, baik, dan sekaligus halal. Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, beliau memberi isyarat ke arah peti simpanannya. Ketika mereka buka dan keluarkan isinya, ternyata sehelai kain tua yang telah usang dan lapuk. Disuruhlah keluarganya mengafani mayatnya nanti dengan kain itu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kafani aku dengan jubah ini. Ia kudapatkan dari seorang musyrik dalam perang Badar. Aku ingin menemui Allah subhanahu wa ta’ala dengan jubah itu.” Jubah tersebut adalah salb, yaitu harta yang dibawa orang kafir saat perang, kemudian dimiliki oleh kaum muslimin yang membunuhnya.

Demikianlah, gemerlapnya dunia tidak menyilaukan dan membuat takjub shahabat mulia ini. Hanya kerinduan untuk bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan jannah-Nya yang diidamkan olehnya. Allah subhanahu wa ta’ala pun mengambil ruh dari shahabat mulia ini, pada tahun 55 Hijriyah di Aqiq. Beliau radhiyallahu ‘anhu dimakamkan di pekuburan Baqi’ bersama shahabat lainnya.

Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, jasa-jasamu akan senantiasa dikenang oleh kaum muslimin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan kita di jannah-Nya. Amin. Wallahu a’lam bish shawab. [Hammam].

Referensi:
Tahdzib At Tahdzib karya Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah.
Shifat Ash Shafwah karya Ibnul Jauzi rahimahullah.
Shuwarun min Hayatish Shahabah karya Abdurrahman Rafat Basya rahimahullah.

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 23 volume 02 1434 H/2013 M, rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim