Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma

Ahli Ibadah Pun Ahli Riwayat

Abdullah bin Amr bin Al Ash adalah seorang putra dari tokoh Quraisy sekaligus sahabat yang mulia. Abdullah bin Amr bin Al Ash bin Wail bin Hasyim bin Sa’id bin Sahm bin Amr adalah nasabnya secara lengkap. Abdullah masuk Islam sebelum ayahnya.

Suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma“Wahai Abdullah bin Amr, apa benar berita bahwa engkau memaksakan dirimu untuk shalat malam dan puasa ketika siangnya (setiap hari)?”
“Ya.” Jawab Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma.
“Sebenarnya, cukup bagimu puasa setiap bulan tiga hari. Satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Sehingga, seakan-akan engkau puasa selamanya.” Bimbing Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Aku punya kekuatan untuk melakukan lebih dari itu.”
“Cukup bagimu untuk berpuasa setiap pekan tiga hari.”
“Aku punya kekuatan untuk melakukan lebih dari itu.”
“Sesungguhnya puasa yang paling adil di sisi Allah adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihis salam. Beliau dulu puasa setengah masa (sehari puasa sehari tidak). Sesungguhnya matamu, tamumu, dan keluargamu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan.”

Kisah teladan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma yang kita baca dengan redaksi di atas merupakan kisah yang disampaikan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitab Mu’jam. Dan beliau mengomentari derajatnya, “Ini adalah hadits hasan shahih.”

Kisah ini menunjukkan semangat beliau dalam beribadah. Dan inilah salah satu keutamaan Abdullah bin Amr. Ahli ibadah dari kalangan shahabat.

Jangan disimpulkan dari kisah di atas bahwa Abdullah adalah seorang figur yang suka menyanggah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak. Abdullah adalah orang yang sangat patuh kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas kenapa Abdullah seolah-olah menolak tawaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mungkin saja karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahnya. Tidak ada kalimat perintah dari beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berusaha untuk memberikan keringanan kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma. Maka dari itu, Abdullah pun berusaha untuk menawarnya.

Di sisi yang lain, ada sebuah kisah yang menggambarkan betapa seorang Abdullah bin Amr sebagai figur sangat patuh kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, “Taatilah ayahmu!” Beliau melaksanakannya dengan sepenuh hati. Tak pernah satu kali pun beliau durhaka terhadap perintah ayahnya. Bahkan, ketika ayahnya memerintahkan untuk mengikuti perang Shiffin, perang saudara antara kaum muslimin, beliau pun ikut. Meskipun sebenarnya beliau sangat membenci hal itu.

Kebencian itu tercermin dalam ucapannya, “Ada apa denganku dan dengan perang Shiffin?! Ada apa denganku dan memerangi kaum muslimin?! Demi Allah, aku berharap mati sepuluh tahun sebelumnya.”

Tak sekadar ucapan, perbuatan beliau pun menguatkan, “Demi Allah, aku tidak pernah sekali pun menebas dengan pedangku, menusuk dengan tombakku, atau melempar panahku. Aku sangat berharap tidak pernah mendatanginya sedikit pun. Aku istighfar dan bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dari hal itu.” Ya, itulah ungkapan yang menunjukkan penyesalan karena ikut dalam perang yang berkecamuk antara kaum muslimin. Padahal, beliau sama sekali tidak pernah menebaskan pedang atau alat peperangan lainnya. Tidak pernah! Beliau waktu itu hanya membawa bendera perang. Itu pun membuatnya sangat menyesal. Hanya satu yang membuatnya mengayun langkah ke medan perang itu: perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau menaati ayahnya.

Ditinjau dari segi yang lainnya, kisah ini mencerminkan sebuah kualitas dari seorang ahli ibadah dari kalangan sahabat. Banyak ibadahnya, namun masih merasa berdosa dengan hal kecil yang diperbuatnya. Tidak seperti ahli ibadah pada umumnya, yang waktunya dihabiskan untuk ibadah, tanpa mau merenungi dosa yang telah diperbuatnya. Mereka merasa telah melakukan ibadah yang banyak, padahal siapa tahu pahalanya telah gugur dengan riya` dan sum’ah yang dilakukannya. Ya, Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma bukan tipe ahli ibadah yang demikian. Ibadah sesuai dengan sunnah, tanpa merasa dirinya aman dari salah.

Penulis Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tak hanya ibadah, Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma juga sangat menonjol dalam periwayatan hadits. Sampai-sampai, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengakui banyaknya riwayat hadits beliau. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki lebih banyak hadits Rasulullah dariku, kecuali Abdullah bin Amr. Karena, dia menulis hadits namun aku tidak menulis.” [riwayat Al-Bukhari]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengizinkan Abdullah bin Amr untuk menulis hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma sendiri yang bercerita, “Dahulu aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kuhafal. Maka, orang Quraisy pun melarangku. Mereka mengatakan, ‘Kenapa engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal beliau adalah manusia yang berbicara saat marah maupun saat senang?’ Aku pun tidak melanjutkan untuk menulisnya. Lalu aku menyebutkan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah pun mengisyaratkan pada mulutnya dan mengatakan, ‘Tulislah! Demi Dzat Yang jiwaku berada di Tangan-Ny, tidak ada yang keluar dari mulut ini kecuali kebenaran.’” [H.R. Abu Dawud dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhuma pun kemudian menamai lembaran yang tertulis hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dengan nama Ash Shahifah Ash Shadiqah. Kurang lebih artinya adalah lembaran-lembaran yang jujur lagi benar. Di dalam lembaran ini, Abdullah bin Amr menuliskan hadits yang beliau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara.

Nah pembaca, sudah terbayang ‘kan semangat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma? Namun, mungkin masih tersisa tanya, kenapa justru riwayat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang sampai kepada kita lebih banyak daripada hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma? Padahal, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sendiri telah menegaskan bahwa Abdullah bin Amr memiliki hadits yang lebih banyak. Jawabnya, hal ini disebabkan kesibukan beliau dalam beribadah, sehingga sedikit waktu beliau untuk meriwayatkan hadits.

Menurut Ibnu Sa’ad, sejarawan terkemuka. Abdullah bin Amr bin Al Ash wafat di Syam pada tahun 65 H. Beliau berumur 72 tahun waktu itu.

Demikianlah pembaca, sekelumit cermin dari seorang sahabat yang mulia. Semoga biografi yang ringkas ini bisa kita teladani dan melecutkan semangat kita dalam beribadah dan menuntut ilmu. Allahu a’lam bish shawab. [abdurrahman]

Referensi:
Thabaqatul Kubra (Thabaqat Ibni Sa’d), karya Muhammad bin Sa’ad rahimahullah
Al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, karya Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah
Al Isti’ab fi Ma’rifatil Ash-hab, karya Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 40 volume 04 1435 H / 2014 M, rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim