Tauhid dalam Pandangan 2 Imam Besar Mazhab Syafi’i

DARS USTADZ LUQMAN BA’ABDUH HAFIZHAHULLAH  26 MUHARRAM 1438 H/26 OKTOBER 2016 M (MAGHRIB-ISYA’) DI MASJID MA’HAD AS SALAFY
al-Imam al-Maqrizi rahimahullah menjelaskan makna tauhid dan kesyirikan kaum musyrikin di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam kitabnya Tajridut Tauhid al-Mufid. Beliau rahimahullah berkata (artinya), “Permintaan perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala yang disebutkan dalam surat an-Naas dan surat al-Falaq, diminta dengan menyebut nama Allah subhanahu wata’ala yang tiga; ar-Rabb, al-Malik dan al-Ilah (Allah).
Firman Allah subhanahu wata’ala (artinya), ”Katakanlah aku berlindung kepada Rabb (pencipta) manusia”,dalam ayat ini terdapat penetapan bahwa Allah lah yang menciptakan dan mengadakan mereka (manusia).
Kemudian dikatakan, ketika Allah subhanahu wata’ala menciptakan mereka, apakah Allah memberikan tanggungan (kewajiban), memerintah dan melarang mereka atas sesuatu?! Maka jawabannya “ya”.
Sesuai firman Allah subhanahu wata’ala (artinya), “Yang Menguasai (memerintah) sekalian manusia”. Dengan (penjelasan) ini tetaplah penciptaan dan perintah hanya milik Allah  subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfiman (artinya), “Milik-Nya lah segala penciptaan dan perintah”.
Kemudian, jika Allah subhanahu wata’ala adalah Rabb yang maha mencipta, Ia lah Penguasa yang memerintah. Apakah Ia patut dicintai dan diharapkan?! Dengan ini segala penciptaan dan perintah hanya tertuju pada-Nya.
Selanjutnya firman Allah subhanahu wata’ala , “Rabb yang berhak untuk diibadahi” yaitu tempat mereka bergantung, dan Yang dicintai. Yang mana seorang hamba, makhluk, yang diberi tanggungan (beban syari’at) dan yang rajin beribadah tidak akan mengarahkan dirinya kecuali hanya kepada-Nya. Maka sifat Ilahiyah (hak untuk diibadahi) menjadi inti sekaligus penutupnya. Adapun yang sebelumnya hanya seperti sekedar pembukaan”.
Maknanya, tujuan dari rububiyah Allah subhanahu wata’la tidak lain untuk merealisasikan tauhid uluhiyah (hak untuk menjadi satu-satunya dzat yang berhak diibadahi).
Kemudian beliau juga berkata (artinya), “Kesyirikan seluruh umat ini ada 2 jenis. Syirik pada tauhid uluhiyah dan syirik pada tauhid rububiyah. Kesyirikan pada uluhiyah dan ibadah inilah yang paling banyak dilakukan pelaku kesyirikan.”
al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika mentafsirkan surat al-Mukminun ayat 84-89, mengatakan (artinya), “Allah subhanahu wata’ala memerintah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mengatakan kepada musyrikin yang beribadah kepada-Nya juga beribadah kepada selain-Nya, yang mana mereka mengakui tauhid rububiyah, bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya , namun ternyata mereka menyekutukan Allah subhanahu wata’ala dalam tauhid Ilahiyah.
Mereka beribadah kepada-Nya bersama peribadahan kepada selain-Nya. dalam keadaan mereka tahu bahwa yang mereka ibadahi tidak menciptakan sesuatu apa pun. Dan tidak memiliki apa pun. Juga tidak mampu mencelakakan suatu apa pun. Hanya saja mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu mampu mendekatkan mereka kepada Allah shallallahu alaihi wasallam dengan sedekat-dekatnya.
Lihat: Tajridut Tauhid al-Mufid dan Tafsir al-Qur’an al-Adzim
kesimpulan dari penjelasan di atas, tauhid dalam pandangan 2 imam besar mazhab syafi’i ini adalah:
  1. Setidaknya ada 2 macam tauhid; tauhid rububiyah dan tauhid ilahiyah/rububiyah
  2. Tauhid rububiyah adalah pengesaan (menyendirikan) Allah subhanahu wata’ala dalam hal penciptaan, memberi rezeki, menimpakan mudharat, memberi manfaat dll.
  3. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan (menyendirikan) Allah subhanahu wata’ala dalam segala bentuk peribadatan.
  4. Pengakuan terhadap tauhid rububiyah harus dibarengi dangan pengakuan terhadap tauhid uluhiyah.
  5. Kaum musyrikin mengakui tauhid rububiyah tapi mengingkari tauhid uluhiyah.
  6. Sebab yang menjadikan kaum musyrikin disebut sebagai musyrik karena mereka melakukan kesyirikan pada tauhid uluhiyah.
dari http://mahad-assalafy.com/2016/10/28/tauhid-pandangan-2-imam-besar-mazhab-syafii/

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim