Penggunaan Istilah Adat Dan Tradisi Islam

PENGGUNAAN ISTILAH ADAT DAN TRADISI ISLAM

Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor (282):

Pertanyaan 3:
Ada kata-kata yang digunakan dalam komunitas mayarakat Muslim sebagai isyarat yang menunjukkan kalau panduan hidup mereka sesuai dengan ajaran Islam, kata-kata tersebut seperti perkataan mereka berdasarkan adat dan tradisi Islami maka kita menempuh jalan seperti ini. Melihat adanya perbedaan pendapat beberapa ulama kontemporer sekitar boleh atau tidaknya menggunakan kata-kata ini, sekelompok ulama melarang penggunaannya karena Islam berbeda dengan adat dan tradisi dan mereka berbicara panjang lebar tentang masalah ini. Di antara perkataan mereka bahwa kata-kata ini disusupkan oleh musuh-musuh Islam. Sebagian yang lain memandang tidak ada masalah menggunakan kata-kata ini karena hal ini menunjukkan ketundukan dan kepatuhan seorang Muslim terhadap perintah Allah 'Azza wa Jalla dan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa melihat hal lainnya, dan inilah yang menjadi tujuan ibadah. Hal ini bersumber pada kebiasaan yang dikenal oleh para ulama melalui buku-buku yang membahas perbedaan ini. Saya mohon penjelesan seputar kata-kata ini, hukum penggunaannya apakah boleh atau tidak disertai dengan dalil?

Jawaban 3:
Islam sendiri bukanlah adat istiadat dan tradisi namun wahyu dan kitab suci yang Allah turunkan kepada para rasul. Jika kaum Muslimin membiasakan diri beramal dengan nilai-nilai Islam tentu Islam akan terpatri menjadi akhlak dan jati diri mereka. Setiap Muslim tahu bahwa Islam bukanlah sistem yang berasal dari adat dan tradisi yang menuntut perlunya iman kepada Allah, rasul dan seluruh syariat Islam, tapi kata-kata yang sedang populer di radio, surat kabar dan majalah serta istilah pengembangan sistem dan peraturan telah mempengaruhi mereka, seperti yang ditanyakan terkait perkataan "sesuai dengan adat dan tradisi". Kemudian mereka menggunakannya dengan niat baik yang bertujuan untuk memperlihatkan ketundukan kepada agama Islam, tujuan ini bagus dan layak diapresiasi, namun seharusnya mereka memilih ungkapan yang jelas untuk mengungkapkan niat mereka bukan dengan memilih ungkapan yang memunculkan persepsi kalau Islam adalah kumpulan adat dan tradisi yang kita lakukan atau yang kita warisi dari pendahulu kita, misalnya dengan mengatakan sesuai dengan syariat dan hukum Islam yang adil sebagai ganti dari kalimat yang penggunaannya populer di tengah masyarakat untuk menggambarkan sistem yang mereka terapkan, dan seterusnya. Tidak cukup bagi seorang Muslim sekadar niat yang baik tanpa diiringi pemilihan kata yang tepat dan jelas. Oleh karena itu tidak boleh bagi seorang Muslim memakai ungkapan ini dan sejenisnya yang terindikasi salah dengan menganggap syariat Islam sebagai adat dan tradisi dan niat yang baik tidak akan membebaskannya dari konsekuensi yang harus ditanggung akibat kesalahan dalam pemilihan kata ketika dia sebenarnya mampu memilih kata-kata yang bisa menjaga lidahnya dan menghidarkannya dari celaan.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Al Lajnah ad Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah Walifta'

Wakil Ketua: Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi

http://bit.ly/Al-Ukhuwwah
[ 21/10/2016 ]

إطلاق لفظة العادات والتقاليد الإسلامية
السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 282 ) :
س3: هناك كلمات تقال في المجتمعات الإسلامية في مجال إبراز النهج الذي تسير عليه هذه المجتمعات وفق التعاليم الإسلامية وهي قولهم: (وتمشيا مع العادات والتقاليد الإسلامية نهجنا كذا)، ونظرا لاختلاف بعض العلماء المعاصرين في جوار استعمالها من عدمه، ففئة ترى منع استعمالها؛ لأن الإسلام يختلف ويغاير العادات والتقاليد، وأكثروا الكلام عنها، ومن ضمن كلام بعضهم أن هذه الكلمة مدسوسة من قبل أعداء الإسلام. وفئة ترى ألا بأس باستعمالها؛ لأن ذلك يدل على خضوع المسلم واستسلامه لما يأمره به ربه عز وجل، ولما يأمره به الرسول صلى الله عليه وسلم دون النظر إلى أي أمر آخر، وهذا هو غاية العبادة، وذلك استمدادا من التقليد الذي عرفه العلماء في كتب العلم لهذا الاختلاف، أرجو إيضاح ملابسات هذه الكلمة ثم حكم استعمالها جوازا أو منعا مع الأدلة؟
ج3: إن الإسلام نفسه ليس عادات ولا تقاليد وإنما هو وحي أوحى الله به إلى رسله وأنزل به كتبه فإذا تقلده المسلمون ودأبوا على العمل به صار خلقا لهم وشأنا من شؤونهم، وكل مسلم يعلم أن الإسلام ليس نظما مستقاة من عادات وتقاليد ضرورة إيمانه بالله ورسله وسائر أصول التشريع الإسلامي لكن غلبت عليهم الكلمات الدارجة في الإذاعة والصحف والمجلات وفي وضع النظم واللوائح مثل ما سئل عنه في قوله: (وتمشيا مع العادات والتقاليد) فاستعملوها بحسن نية قاصدين منها الاستسلام للدين الإسلامي وأحكامه وهذا قصد سليم يحمدون عليه، غير أنهم ينبغي لهم أن يتحروا في التعبير عن قصدهم عبارة واضحة الدلالة على ما قصدوا إليه غير موهمة أن الإسلام جملة عادات وتقاليد سرنا عليها أو ورثناها عن أسلافنا المسلمين فيقال مثلا: (وتمشيا مع شريعة الإسلام وأحكامه العادلة) بدلا من هذه الكلمة التي درج الكثير على استعمالها إلى مجال إبراز النهج الذي عليه هذه المجتمعات.. إلخ، ولا يكفي المسلم حسن النية حتى يضم إلى ذلك سلامة العبارة ووضوحها، وعلى ذلك لا ينبغي للمسلم أن يستعمل هذه العبارة وأمثالها من العبارات الموهمة للخطأ باعتبار التشريع الإسلامي عادات وتقاليد، ولا يعفيه حسن نيته من تبعات الألفاظ الموهمة لمثل
هذا الخطأ مع إمكانه أن يسلك سبيلا آخر أحفظ للسانه وأبعد عن المآخذ والإيهام.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... عضو ... نائب رئيس اللجنة
عبد الله بن منيع ... عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim