Hukum Sedekah Orang Yang Berhutang, Dan Apa Saja Hak Syar'i Yang Gugur Darinya

HUKUM SEDEKAH ORANG YANG BERHUTANG, DAN APA SAJA HAK SYAR'I YANG GUGUR DARINYA

📝Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:
Sahkah sedekah orang yang berhutang? Dan apa saja hak syar'i yang gugur dari orang yang berhutang?

Jawaban:
Sedekah termasuk infak yang diperintahkan syariat dan berbuat baik kepada hamba Allah jika ditempatkan pada tempatnya serta seseorang dibalas atas sedekahnya.

Sehingga setiap seseorang pada hari kiamat berada di naungan sedekahnya dan sedekah tersebut diterima baik orang itu berhutang maupun tidak berhutang jika terpenuhi padanya syarat untuk diterima yaitu
➡dengan niat ikhas karena Allah 'Azza wa Jalla,
➡dari usaha yang baik
➡dan ditempatkan pada tempatnya.

Dengan syarat-syarat ini sedekah akan diterima sesuai dalil-dalil syar'i dan tidak dipersyaratkan seseorang itu tidak berhutang.

Namun jika hutangnya itu menghabiskan seluruh apa yang dia miliki, maka bukanlah termasuk perkara yang bijak dan masuk akal dia bersedekah yang sifatnya sunnah---bukan wajib---dan meninggalkan hutang yang wajib atasnya. Sehingga hendaklah pertama kali memulai dengan perkara yang wajib kemudian bersedekah.

Hanya saja para ulama berbeda pendapat pada sedekah ketika memiliki tanggungan hutang yang akan menghabiskan seluruh hartanya. Sebagian ulama berpendapat: Hal tersebut tidak boleh baginya, karena akan merugikan penghutang dan menetapkannya pada urusan menanggung hutang yang wajib ini Sedangkan ulama yang lain berpendapat kebolehannya, akan tetapi pendapat ini menyelisihi yang lebih utama.

Bagaimanapun juga tidak sepantasnya seseorang yang memiliki hutang itu menghabiska seluruh apa yang dia miliki untuk bersedekah hingga dia melunasi hutangnya karena kewajiban itu lebih didahulukan di atas sesuatu yang sunnah.

Adapun hak syar'i yang dimaafkan terhadap orang yang menanggung hutang hingga dia membayarnya diantaranya: Haji, karena haji tidak wajib atas seseorang yang berhutang hingga dia melunasi hutangnya.

Adapun zakat diperselisihkan para ulama tentang gugur ataukah tidaknya dari penghutang?

Diantara ulama ada yang berpendapat: sesungguhnya zakat tidak gugur dengan adanya tanggungan hutang baik harta itu tampak maupun tidak tampak.

Ulama lainnya berpendapat: sesungguhnya zakat gugur dengan adanya tanggungan hutang, bahkan wajib dia menzakati seluruh apa yang ada di tangannya meskipun dia berhutang yang akan mengurangi nishab zakat.

Sedangkan ulama yang lain ada yang memperinci:

➡Jika hartanya itu merupakan harta tersembunyi yang kita tidak bisa melihat dan menyaksikannya seperti uang dan harta perdagangan, maka zakatnya gugur dikarenakan menanggung hutang, namun jika hartanya itu termasuk harta yang tampak seperti hewan ternak dan sesuatu yang keluar dari tanah, maka zakatnya tidak gugur.

Dan yang benar menurutku bahwa zakatnya tidak gugur, baik hartanya itu tampak atau tidak tampak dan setiap orang yang di tangannya ada harta yang termasuk wajib dizakati, maka wajib dia menunaikan zakatnya walaupun berhutang dikarenakan zakat itu hanyalah wajib pada harta berdasarkan firman Allah Ta'ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖإِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗوَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [At Taubah: 103]

dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada sahabat Muadz bin Jabal Radhiyallahu 'Anhu ketika mengutusnya ke Yaman: Beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka yang diambil dari orang kaya mereka untuk diberikan kepada kaum miskin. Hadits ini dalam Shahih Bukhari dengan lafadh ini. Berdasarkan dengam dalil dari al Quran dan hadits ini menjadi terpecahkanlah masalah, sehingga tidak ada kontradiksi antara zakat dan antara hutang. Karena hutang wajib dalam tanggungannya sedangkan zakat wajib pada harta.

Jadi, masing-masingnya wajib pada tempatnya, bukan sesuatu yang wajib pada lainnya, sehingga tidak terjadi kontradiksi dan benturan antara keduanya dan ketika itu tetaplah hutang pada tanggungan orangnya dan tetaplah zakat harta dikeluarkan darinya pada setiap kondisinya.

📚Majmu' Fatawa wa Rasail jilid 17  Kitab Zakat

http://bit.ly/Al-Ukhuwwah
[ 18/10/2016 ]

حكم صدقة المدين، وما يسقط عنه من الحقوق..

شيخ محمد بن صالح العثيمين

السؤال: هل تصح صدقة المدين؟ وماذا يسقط عن المدين من الحقوق الشرعية؟
الإجابة: الصدقة من الإنفاق المأمور به شرعاً، والإحسان إلى عباد الله إذا وقعت موقعها، والإنسان مثاب عليها، وكل امرئ في ظل صدقته يوم القيامة، وهي مقبولة سواء كان على الإنسان دين أم لم يكن عليه دين، إذا تمت فيها شروط القبول، بأن تكون بإخلاص لله عز وجل، ومن كسب طيب، ووقعت في محلها، فبهذه الشروط تكون مقبولة بمقتضى الدلائل الشرعية، ولا يشترط أن لا يكون على الإنسان دين، لكن إذا كان الدين يستغرق جميع ما عنده فإنه ليس من الحكمة ولا من العقل أن يتصدق -والصدقة مندوبة وليست بواجبة- ويدع ديناً واجباً عليه، فليبدأ أولاً بالواجب ثم يتصدق.

وقد اختلف أهل العلم فيما إذا تصدق وعليه دين يستغرق جميع ماله: فمنهم من يقول: إن ذلك لا يجوز له؛ لأنه إضرار بغريمه، وإبقاء لشغل ذمته بهذا الدين الواجب.
ومنهم من قال: إنه يجوز، ولكنه خلاف الأولى.

وعلى كل حال فلا ينبغي للإنسان الذي عليه دين يستغرق جميع ما عنده أن يتصدق حتى يوفي الدين؛ لأن الواجب مقدم على التطوع.

وأما الحقوق الشرعية التي يعفى عنها من عليه دين حتى يقضيه:
فمنها الحج، فالحج لا يجب على الإنسان الذي عليه دين حتى يوفي دينه.

. أما الزكاة فقد اختلف أهل العلم: هل تسقط عن المدين أو لا تسقط؟
- فمن أهل العلم من يقول: إن الزكاة تسقط فيما يقابل الدين، سواء كان المال ظاهراً أم غير ظاهر.
- ومنهم من يقول: إن الزكاة لا تسقط فيما يقابل الدين، بل عليه أن يزكي جميع ما في يده ولو كان عليه دين ينقص النصاب.
- ومنهم من فصّل فقال: إن كان المال من الأموال الباطنة التي لا ترى ولا تشاهد: كالنقود وعروض التجارة فإن الزكاة تسقط فيما يقابل الدين، وإن كان المال من الأموال الظاهرة: كالمواشي والخارج من الأرض فإن الزكاة لا تسقط.

* والصحيح عندي أنها لا تسقط، سواء كان المال ظاهراً أم غير ظاهر، وأن كل من في يده مال مما تجب فيه الزكاة فعليه أن يؤدي زكاته ولو كان عليه دين، وذلك لأن الزكاة إنما تجب في المال؛ لقوله تعالى: {خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَوَٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ}، ولقوله صلى الله عليه وسلم لمعاذ بن جبل رضي الله عنه حينما بعثه إلى اليمن: "أعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم"، والحديث في البخاري بهذا اللفظ، وبهذا الدليل من الكتاب والسنة تكون الجهة منفكة، فلا تعارض بين الزكاة وبين الدين؛ لأن الدين يجب في الذمة، والزكاة تجب في المال، فإذاً كلٌّ منهما يجب في موضع دون ما يجب فيه الآخر، فلم يحصل بينهما تعارض ولا تصادم، وحينئذٍ يبقى الدين في ذمة صاحبه، وتبقى الزكاة في المال يخرجها منه بكل حال.

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

مجموع فتاوى ورسائل الشيخ محمد صالح العثيمين - المجلد السابع عشر - مقدمة كتاب الزكاة.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim