Hukum Memasang Gorden Pada Jendela Dan Tembok

HUKUM MEMASANG GORDEN PADA JENDELA DAN TEMBOK

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan:
Aku pernah mendengar sebuah hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam secara makna beliau shallallahu’alaihi wasallam suatu ketika masuk menemui ‘Aisyah dan mendapati (kain) penutup dinding yang dipasang (diatas pintu) atau jaman sekarang disebut gorden. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah,
” Kami adalah umat yang tidak diperintah untuk menutupi tembok.”
Berdasarkan hadits yang mulia ini apakah gorden yang dipasang hanya boleh selebar bukaan jendela? atau apakah boleh memasang gorden pada tembok yang terdapat jendela?
Jawaban:
Hadits yang disebutkan oleh penanya tersebut terdapat dalam Shahih Muslim. Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat gorden yang menjuntai dibalik pintu hal ini membuat wajah beliau menampakkan kebencian. Lalu beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan kami memakaikan kain pada bebatuan dan tanah liat (tembok).”
Kemudian beliau memotong kain tersebut.
Hadis ini menjadi dalil bahwa seseorang tidak pantas menutupi tembok rumahnya dengan jenis kain yang dibenci oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Karena kebencian itu terlihat pada wajah beliau ditambah lagi khabar beliau bahwa Allah Ta’ala tidak memerintahkan hal itu.
Adapun gorden yang digunakan orang jaman sekarang jika digunakan untuk tujuan yang benar selain sebagai “penutup” saja maka tidak apa-apa insyaallah. Sebagaiman jika seseorang memakai gorden dengan tujuan menutupi sisi jendelanya dari sengatan matahari atau dengan tujuan lainnya maka hal ini tidak masalah. Karena kondisi semacam ini bukan termasuk memakaiakan kain pada bebatuan atau tanah liat (dinding) akan tetapi masuk kategori penjagaan dari gangguan yang mendekatinya. Memberi kain penutup (kiswah) juga diperbolehkan untuk tujuan kemashlahatan lainnya. Berbeda jika kiswah tadi digunakan dalam rangka semata-mata untuk menghiasi dinding agar lebih cantik maka inilah yang termasuk dalam larangan dalam hadis. Tidak pantas untuk kita lakukan.”
Fatawa Nur ‘Ala Darb 295

➡HUKUM MENUTUP DINDING

Pertanyaan:
Larangan menutupi tembok. Apakah hukum larangan ini sampai derajat haram? Apakah maksud larangan tersebut berlaku jika menutupi satu sisi tembok saja atau harus semua sisi?
Jawaban:
Menutup dinding itu ada dua macam:
Pertama, menutupi secara riil (menyelimuti) . Sebagai contoh jika seseorang menutupi rumah atau batu dengan kain penutup (kiswah) sebagaimana ka’bah. Maka jelas ini perbuatan terlarang karena ia telah menyerupakan rumahnya dengan ka’bah.
Kedua, menutupi bagian dalam (tembok rumah) maka hal ini tidak mengapa selama ada kebutuhan. Baik untuk menjaga dari udara dingin, udara panas atau agar tidak silau dari cahaya luar tatkala seseorang ingin tidur. Karena bangunan rumah saat ini -sebagaimana kalian juga tahu- berubah menjadi dingin dimusim dingin dan akan panas dimusim panas. Maka tidak mengapa jika seseorang memasang penutup kain ditemboknya untuk mereduksi suhu dingin di musim dingin dan suhu panas di musim panas. Karena perbuatan ini tidak bermaksud menutupi secara hakiki akan tetapi dengan maksud untuk melindungi dari udara dingin, udara panas serta melindungi dari sinar matahari agar tidak menyilaukan bagi orang yang ingin tidur sehingga dia bisa istirahat dengan tenang.”
Liqa' al Bab al Maftuh 2
⬅حكم وضع الستائر على النوافذ والجدران
السؤال: سمعت حديثاً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في ما معناه أنه صلى الله عليه وسلم دخل على عائشة رضي الله عنها, ووجدها قد وضعت ستراً على الجدار وهو ما يسمى بالستائر في عصرنا الحالي, فقال لها: نحن قوم لم نؤمر بتغطية الحوائط أو الجدران, هل يفهم من هذا الحديث الشريف أنه يجب أن تكون مثل هذه الستائر على قدر فتحة النافذة, أم يجوز أن تكون بعرض الحائط التي توجد بها النافذة, أي: أن تكون على جانبي النافذة؟الجواب: الحديث الذي أشار إليه السائل في صحيح مسلم : ( أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى هذا الستر على الباب فظهر ذلك في وجهه, ثم قال صلى الله عليه وسلم:
إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين, ثم هتكه ) أي: قطعه, ففي هذا الحديث دليل على أنه لا ينبغي للإنسان أن تصل به الحال إلى أن يكسو جدران بيته بهذه الأكسية التي كرهها النبي صلى الله عليه وسلم, وبان ذلك في وجهه, وأخبر أن الله لم يأمرنا بذلك.وأما الستائر التي توضع الآن فإن كانت لغرض صحيح سوى الستر؛ كما لو أراد الإنسان بها أن يستر وجه النافذة عن الشمس أو نحو ذلك فإن هذا لا بأس به؛ لأنه ليس كسوة للحجارة والطين, ولكنه للتوقي من أذى يترقبه أو لمصلحة يرجوها بهذه الكسوة, فأما مجرد تزيين الجدار بهذه الكسوة، فإن هذا داخل في الحديث ولا ينبغي أن نفعله.
مصدر:نور علي الدرب 295
⬅ الفتوي الثاني
حكم ستر الجدران
السؤال: فضيلة الشيخ: ورد النهي عن ستر الجدر فهل هذا النهي للتحريم؟ ثم هل يحصل النهي بستر جهة واحدة أو جميع الجهات؟الجواب: ستر الجدر على قسمين:القسم الأول: أن يكون من الظاهر، فيستر البيت أو الحجرة كما تستر الكعبة، فهذا لا شك أنه منهي عنه؛ لأنه يجعل بيته شبيهاً بالكعبة.القسم الثاني: الستر الداخلي، فهذا لا بأس به إذا احتاجه الإنسان، إما للوقاية من البرد، أو الوقاية من الحر، أو الوقاية من الضوء إذا كان يريد أن ينام؛ لأن البناء الحديث -كما تعرفون- بارد في الشتاء وحار في الصيف، فإذا جعل على الجدار شيء من القماش فإنه يخفف البرودة في الشتاء ويخفف الحرارة في الصيف، فيكون هذا لا بأس به، لأنه ليس المقصود من ذلك الستر لذاته؛ ولكن المقصود ما يحصل من الستر من التدفئة في الشتاء وتلطيف الحرارة في الصيف، أو من الضوء لمن أراد أن ينام على وجه يستريح به في نومه.
مصدر: لقاء الباب المفتوح ۲

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim