Bahaya Radikalisme dan Komunisme Bagi Negara - Ustadz Luqman Ba'abduh



Merawat Ingatan, Membebat Luka

ANTIKOMUNISME.COM, BALI. Empat belas tahun berlalu. Masyarakat tak ingin amnesia. Anak-cucu akan dapat cerita. Suasana mencekam. Bau anyir darah menyeruak. Mayat bergelimpangan. Mereka setia merawat ingatan.
Melawan lupa. Ini seharusnya dilakukan setiap muslim. Bahkan semua elemen masyarakat. Atas kekejian yang dilakukan para radikalis dan komunis di negeri agraris.
12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Bali yang sudah kesohor dengan keelokan alamnya, semakin terkenal. Bukan ada penemuan pantai baru yang masih perawan. Atau titik menyelam ter-update yang belum pernah dikunjungi siapapun. Namun karena ratusan mayat turis mancanegara berjatuhan di tanah tetangga pulau Jawa itu.
Kini, satu dekade lebih. Pada 1 Muharram 1438 H, bertepatan 2 Oktober 2016. Masyarakat Bali didukung aparat pemerintahan, TNI serta Polri, tidak dalam rangka memperingati Oktober kelabu. Namun membuat antisipasi terpadu. Pencegahan virus terorisme dan komunisme. Luka mesti dibebat. Kesembuhan adalah harapan.
Berlangsung Kajian Islam Ilmiah (dauroh), Bahaya Radikalisme dan Komunisme Terhadap Negara, di Masjid Raya Ukhuwwah, Denpasar. Pembicara pengasuh Pondok As Salafy, Jember, Al Ustad Luqman Ba’abduh hafizhahullah. Sebagai moderator, Ustad Abu ‘Amr Alfian.
Hadir Ketua MUI Bali, H Taufik Asadi SAg. Staf ahli Pangdam IX/Udayana bidang Ilpengtek, Kolonel Abdidjon Sinaga mewakili Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko MBA. Kasubdit IV Dirintelkam Polda Bali, AKBP Priyanto P SIK, mewakili Kapolda Bali Irjen Pol Drs Sugeng Priyanto SH MH. Kasiwas Polresta Denpasar AKP Purnomo, mewakili Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo. Seksi Komunikasi dan Sosial Korem 163 Wirasatya, Mayor Arm I Putu Arimbawa, mewakili Danrem 163 Wirasatya Kolonel Inf Nyoman Cantiasa
Ketua MUI Bali, H Taufik Asadi SAg, menyambut baik kegiatan dauroh. Menurutnya, kita perlu saling memberi semangat dan menambah wawasan sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. “Tugas penting kita adalah menjadi mandataris Allah yang mengelola bumi sesuai rida-Nya. Kita syukuri  pula punya NKRI, karena atas berkat rahmat Allah negara ini bisa merdeka,” katanya.
Kolonel Abdidjon Sinaga menyampaikan permintaan maaf dari Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko, karena belum bisa hadir secara langsung. “Bapak Pangdam dan pejabat Kodam ada di Singaraja. Sedang ada kegiatan ‘Sehati’, Sehari Bersama TNI di Yonif Rider,” ujarnya seraya membacakan amanat Pangdam IX/Udayana terkait acara dauroh.
Pangdam IX/Udayana mengapresiasi kegiatan dauroh. Pihaknya menyambut baik peran serta masyarakat dalam menciptakan situasi yang kondusif. Paham radikalisme dan komunisme bertentangan dengan dasar negara Indonesia. Merusak tatanan kehidupan beragama dan bernegara.
Pangdam mengungkapkan bila radikalisme memaksakan keyakinan tertentu dengan jalan kekerasan. Sementara komunisme, tak mempercayai prinsip Ketuhanan yang dianut rakyat Indonesia. “Radikalisme menciptakan atmosfer kecemasan. Masyarakat dunia kini menyoroti ISIS. Paham Islam garis keras ini ternyata mengilhami sebagian WNI untuk mengikutinya. Di Medan, ada remaja belia membuat aksi teror. Atas yang demikian kita prihatin,” tuturnya dalam sambutan.
Paham komunisme, lanjut Pangdam, lewat kendaraan Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah berulangkali melakukan pemberontakan. Bahaya laten komunis merusak eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Di era reformasi, dinamika perjuangan komunis tidak mengenal kata kalah. Mereka bergerak di bawah permukaan. Menentang kebijakan politik negara.  Apabila stabilitas keamanan negara terganggu, maka komunis akan muncul,” paparnya.
Pangdam menegaskan gerakan komunis bersifat total dan berlanjut. Mereka melakukan infiltrasi dan penetrasi ke pelbagai organisasi masyarakat (ormas), parpol, birokrasi dan lembaga pemerintah. Menggunakan segala cara. Dari yang halus hingga biadab. “Mengapa ada orang yang belum sadar? Butuh kerjasama antar komponen masyarakat guna pencegahan sejak dini. Indonesia barometer keamanan dunia. Karena sebagai destinasi wisata yang terkenal. Kalau Bali aman, Indonesia aman secara umum dalam pandangan negara asing,” ujarnya.
AKBP Priyanto P mengingatkan masyarakat agar paham doktrin terorisme di sekitarnya. Pertama, ingin membangun kekhalifahan atau negara Islam. Termasuk komunisme mencita-citakan membuat negara tanpa agama.
Kedua, takfiri. Mengkafirkan yang bukan kelompok mereka. Menebar ketakutan, membunuh orang tidak berdosa, merusak objek vital. Begitupun komunisme, doktrin ‘sama rata sama rasa’ yang tidak bisa diterapkan di Indonesia.
Ketiga, intoleransi. Padahal dalam Islam diajarkan hidup berdampingan. Seperti dalam ayat, untukmu agamamu, untukku agamaku. Terakhir, doktrin jihadisasi. Kelompok radikal selalu mengidentikan jihad dengan perang. “Info dari Densus 88, mereka loyal pada amir kelompoknya. Bukan pada presiden, gubernur, atau ulil ‘amri dari kalngan kita,” bebernya.
AKBP Priyanto mengklasifikasi kelompok radikal menjadi tiga bagian. Ada simpatisan, dia setuju aksi bom bunuh diri. Tapi tidak terlibat dalam aksi. Lalu pendukung; orang yang menyiapkan kosan, bahan peledak, dana, hingga pondok (kaderisasi). Terakhir kelompok inti. “Mereka ini yang taat pada amir, sekaligus pelaku bom bunuh diri,” tandasnya seraya menfingatkan agar setiap individu bisa menjadi ‘polisi bagi diri sendiri’. Guna menjaga keluarga dan lingkungan dari paham menyimpang.
Saat diwawancarai panitia setempat, Abu Muhammad Dian, AKBP Priyanto P mengimbau masyarakat jika mendeteksi ada aktivitas radikal segera melapor ke aparat TNI/Polri. “Jaga juga anak kita. Anak yang masih muda, terkait penyebaran radikalisme lewat media sosial,” katanya.
Disinggung apakah dauroh serupa bisa diadakan di institusi pemerintahan, TNI atau Polri, perwira dengan dua melati di pundak itu menyatakan, pihaknya mendukung dimana saja kegiatan dauroh serupa diadakan. “Pada prinsipnya dimanapun kita dukung,” tegasnya.
Senada disampaikan Kolonel Abdidjon Sinaga. Menurutnya, anak muda sekarang jangan salah membaca sejarah. TNI mensinyalir ada upaya kalangan tertentu yang ingin memutarbalikan sejarah terkait kebiadaban komunis di masa lalu. “Acara semacam ini bagus! Sangat perlu diadakan di intitusi pemerintah sipil dan sekolah-sekolah,” sarannya.
Ustad Luqman Ba’abduh menyebutkan bahaya radikalisme ujung-ujungnya memang mengancam keutuhan negara. Namun lebih khusus, radikalisme, terorisme dan komunisme, bahayanya kembali kepada umat Islam. Mengancam akidah dan iman Islam. “Efeknya tidak hanya di dunia, tapi sampai akhirat saat kita berjumpa dengan Allah. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak kemudian selesai urusannya di dunia,” ucap penulis buku Mereka Adalah Teroris (bantahan buku Aku Melawan Teroris, karya Imam Samudera).
Ustad berkacamata itu melanjutkan, hanya kepada Allah kita akan kembali. Di tangan-Nya ada perhitungan segala amalan. Radikalisme akan melahirkan terorisme. Terorisme memiliki ragam latar berlakang. Ada yang bermotif ekonomi, politik, dan agama. Terorisme berlatar politik terjadi akibat persaingan pemain politik. Mereka saling mengancam, mengintimidasi, membakar aset lawan, sampai masjid Allah pun diteror karena politik.
Kemudian terorisme atas nama agama. Ini terjadi pada semua agama; Yahudi, Nasrani, serta Islam. Juga teror berlatar penegakan syariat Islam. “Muslim mana yang keberatan syariat Allah ditegakan di bumi Allah? Namun ada bimbingan, bagaimana syariat Islam diterapkan,” kata ustad yang lama menimba ilmu di Yaman.
Termasuk menegakan amar ma’ruf nahi munkar. Apakah caranya dengan meneror, membakar, atau membunuh? Amar ma’ruf nahi munkar bagian dari ibadah. Amalan saleh. Ada aturannya. “Ada kemunkaran yang boleh kita respons dengan tangan sendiri. Nabi memerintahkan jika anak kita umur dua belas tahun tidak salat, boleh dipukul oleh ayahnya sebagai pemimpin keluarga,” nasihatnya.
Namun saat di tengah masyarakat ada penjual khamr, lalu ada orang tidak puasa di siang hari bulan Ramadan. Ada perzinahan. Bukan berarti setiap elemen masyarakat sipil bisa langsung turun ke lapangan. Ustad Luqman mengingatkan tiap ibadah ada fiqih (caranya). Salat ada fiqihnya. Wudhu ada fiqihnya. Termasuk amar ma’ruf nahi munkar, ada fiqihnya. “Kalau semangat beramal, tapi tidak mencocoki fiqihnya, ini yang berbahaya. Bisa melahirkan radikalisme dan terorisme,” tuturnya seraya menegaskan kita bertanggungjawab menjelaskan apa itu jihad, apa itu amar ma’ruf nahi munkar sesuai bimbingan syariat yang benar. “Kalau diam, kita berdosa,” tandasnya. (abu ali rona)

AUDIO REKAMAN DAUROH DENPASAR BALI BAHAYA RADIKALISME DAN KOMUNISME BAGI NEGARA


✏️Dengan pemateri :
Al Ustadz Luqman Ba'abduh Hafidzahullah

Di Masjid Raya Ukhuwwah Denpasar Bali.
~~~~~~~~~~~~~~~~~

 Ahad, 1 Muharram 1438  - 02/10/2016

Sambutan-sambutan
Sambutan MUI Provinsi Bali
Sambutan Pangdam IX Udayana
Sambutan Kapolda Bali

SESI PERTAMA

Muhadharah Sesi Pertama
 18,21 MB durasi: 01:15:49
http://bit.ly/2dBtUep
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

 SESI KEDUA

Muhadharah Sesi Kedua
 22,34 MB durasi: 01:33:28
http://bit.ly/2cL946l
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Tausiyah di rumah Bapak Novel Balbed
 11,84 MB durasi : 48:39
http://bit.ly/2dn3HwK
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Join dan dapatkan rekamannya pada channel kami, copy dan
Yuk Share!
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Http://tlgrm.me/anNajiyahBali
Http://annajiyah-bali.com

Dari https://telegram.me/RadioIslamIndonesia/3224

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim