Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu

“Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah sebagai orang yang memberi petunjuk dan mendapat hidayah. Jadikanlah manusia mendapat hidayah melalui dirinya.” Terlantun doa mulia melalui lisan mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nama ayah beliau adalah Shakhr bin Harb bin Umayah bin Abdis Syamsi bin Abdil Manaf. Ibu beliau adalah Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdis Syamsi bin Abdil Manaf. Muawiyah terkenal dengan kuniahnya Abu Abdirrahman. Masuk Islam pada peristiwa Fathul Makkah bersama ayah dan saudaranya.

Bahkan, disebutkan dalam kitab Tarikh Dimasyqi, karya Ibnu ‘Asakir, bahwa beliau telah beriman terlebih dahulu sebelum Fathul Makkah. Tetapi, beliau menyembunyikannya. Tepatnya setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan Hudaibiyyah. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma memiliki kedekatan nasab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saudarinya seayah, Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan radhiyallahu ‘anha, adalah salah satu ummahatul mukminin, ahlu bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mu’awiyah pun menjadi saudara ipar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapat julukan “Khal Al-Mukminin” (paman kaum mukminin). Sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah.

Beliau juga seorang yang fasih berbicara, lembut, sangat berwibawa, dan dermawan. Beliau menjadi gubernur di wilayah Syam (sekarang mencakup Palestina, Yordania, Libanon, dan Siria) selama 20 tahun, dan menjadi pemimpin kaum muslimin selama 20 tahun pula.


KEUTAMAAN MUAWIYAH

Keutamaan beliau begitu banyak. Beliau termasuk sekertaris dan penulis (wahyu) untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membentuk dan memimpin langsung pasukan maritim Islam yang pertama. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Pasukan perang pertama dari umatku yang berperang di atas lautan, sungguh telah wajib atas mereka (yakni masuk al-Jannah).” [H.R. Al Bukhari dari shahabat Ummu Haram radhiyallahu ‘anha].

Beliau juga menjadi orang yang didoakan kebaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah sebagai orang yang memberi petunjuk dan mendapat hidayah. Jadikanlah manusia mendapat hidayah melalui dirinya.” [H.R. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah]. Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Ya Allah, ajarilah Mu’awiyah Al-Kitab, berhitung, dan lindungilah ia dari azab.” [H.R. AhmadIbnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, dari shahabat Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah].

Walaupun dalam perjalanan hidupnya beliau sibuk memimpin kaum muslimin, mengatur kehidupan mereka, namun, hal itu tidak menghalangi beliau dari menyampaikan ilmu yang beliau dapat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tercatat ada beberapa shahabat dan tabiin di daerah Hijaz dan Syam yang mengambil hadits dari beliau. Di kalangan shahabat ada Usaid bin Zhuhair, Malik bin Yakhamir, Mu’awiyah bin Hudaij, An-Nu’man bin Basyir, Wail bin Hujr, Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Abu Ad-Darda’, Abu Dzar Al-Ghifari, Abu Sa’id Al-Khudri, Abul Ghadiyah Al-Asy’ari. Adapun tabi’in yang menjadi murid beliau adalah Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh, Ishaq bin Yasar, Aslam maula Umar, Aifa’ bin Abdil Al-Kala’i, dan masih banyak yang lainnya.

PUJIAN PARA SHAHABAT KEPADA MUAWIYAH RADHIYALLAHU ‘ANHU

Para shahabat banyak memuji beliau. Ibnu Umar pernah berkata tentangnya, “Aku tidak pernah melihat setelah Rasulullah, seorang yang lebih dermawan dibanding Muawiyah.” Dikatakan kepadanya, “Bagaimana dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali?” Beliau mengatakan, “Mereka -demi Allah- lebih baik dari Muawiyah. Namun, Muawiyah lebih dermawan dari mereka.”

Al Hasan radhiyallahu ‘anhuma, salah seorang shahabat yang pernah bersengketa dengan beliau pun bersaksi tentangnya. Diceritakan bahwa suatu ketika Qatadah rahimahullah pernah bertanya kepada Al Hasan radhiyallahu ‘anhuma, “Wahai Abu Said, di sini ada orang-orang yang berani bersaksi bahwa Muawiyah termasuk ahli neraka.” Maka beliau berkata, “Semoga Allah melaknat mereka, dari mana mereka tahu siapakah yang akan masuk neraka!”

Bahkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sekembalinya dari perang Shiffin, peperangan yang terjadi antara beliau dengan Muawiyah, beliau berkata, “Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah. Sungguh, jika kalian kehilangan Mu’awiyah, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala manusia berguguran dari badan-badan mereka layaknya buah hanzhal.” [Al-Bidayah wan Nihayah].

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu juga menjadikan beliau sebagai pemimpin perang dan gubernur di daerah Syam. Ini menunjukkan bahwa beliau dipercaya oleh keduanya.

Beliau meninggal pada umur 78 tahun, sebagian lain berpendapat pada umur 82, atau 86 tahun. Tepatnya di pertengahan bulan Rajab, pada hari kamis di tahun 60 H di kota Damaskus dan dikuburkan di sana. Selama masa kepemimpinan beliau, tidak ada para shahabat yang masih hidup kala itu, yang melepaskan ketaatan kepada beliau. Demikianlah para shahabat menyikapi kepemimpinan beliau.

MUAWIYAH TIRAI KEHORMATAN PARA SHAHABAT

Sikap seseorang terhadap Mu’awiyah adalah barometer yang menunjukkan sikapnya terhadap para shahabat lainnya. Apabila ia lancang dalam mencela atau merendahkan beliau, maka ia akan lancang pula dalam mencela shahabat lainnya. Abu Taubah Ar-Rabi’ bin Nafi’ rahimahullah berkata, “Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang berani menyingkap tirai itu, niscaya ia akan berbuat lancang terhadap yang berada di baliknya.” [Tarikh Dimasyq].

Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah juga berkata, “Mu’awiyah di sisi kami (Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits) adalah tolok ukur. Siapa yang kita lihat ia memandang Mu’awiyah dengan pandangan jelek, kita berprasangka bahwa orang ini juga berpandangan jelek kepada seluruh shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Tarikh Dimasyq].

Oleh karenanya, tidak boleh bagi siapa pun untuk mencela beliau. Bahkan, kita katakan tentang beliau sebagaimana kita katakan kepada para shahabat lainnya, ‘Allah telah meridhainya, dan ia pun ridha kepada-Nya. Kita mencintainya dan berwala’ kepadanya, sebagaimana kita mencintai para shahabat dan berwala pula kepada mereka.’ Semoga Allah mengumpulkan kita bersama dengan mereka -para shahabat- dalam jannah-Nya. Amin. [Hammam].

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 28 vol.03 1434H-2013M, rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim