Membaca Al Qur'an Tanpa Hukum Tajwid

MEMBACA AL QUR'AN TANPA HUKUM TAJWID

🔸Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah :

🔘 Pertanyaan :
Bolehkah seorang muslim membaca Al-Qur'an tanpa memenuhi ketentuan pada sebagian hukum-hukum tajwid?

🔘 Jawaban :
☑ Iya, demikian itu boleh, jika tidak ada lahn (kesalahan) padanya. Jika melakukan kesalahan di dalamnya, maka wajib baginya meluruskan kesalahan tersebut.

📌 Adapun tajwid, maka tidaklah wajib. Tajwid adalah memperbagus lafazh saja. Dan memperbagus lafazh pada Al-Qur'an tidak diragukan lagi bahwa itu adalah baik dan bahwa itu lebih sempurna dalam memperbagus bacaan.

⚠ Akan tetapi (menganggap) wajib, dimana kita mengatakan bahwa orang yang tidak membaca Al-Qur'an dengan tajwid maka dia berdosa, merupakan pendapat yang tidak ada dalilnya.

⚠ Bahkan dalil yang ada justru menyelisihinya. Bahkan sungguh Al-Qur'an diturunkan diatas tujuh dialek, sampai dahulu masing-masing manusia membacanya dengan gaya bahasanya (masing-masing). Kecuali setelah dikhawatirkan muncul perselisihan dan perpecahan diantara kaum muslimin, maka kaum muslimin menyatukan bacaan diatas gaya bahasa Quroisy, di masa Amirul Mu'minin Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Dan ini termasuk kemulian beliau, prestasi dan perhatian yang bagus dari beliau, di masa kepemimpinan beliau, yaitu mengumpulkan manusia diatas dialek yang satu, agar tidak terjadi perselisihan.

🚫 Dan kesimpulannya, bahwa membaca dengan tajwid bukanlah wajib, dan yang wajib hanyalah membaca dengan tepat harokat-harokatnya dan mengucapkan huruf sebagaimana mestinya. Sehingga tidak mengganti ro' dengan lam, misalnya. Tidak pula (mengganti) dzal dengan zai, dan yang semisal itu. Inilah yang terlarang.

📚 Fatawa Nur 'Alad Darb Libni Utsaimin: 2/157

==================

🔸الشيخ إبن عثيمين رحمه الله:

🔘 السؤال:
هل يجوز للمسلم أن يقرأ القرآن دون الانضباط ببعض أحكام التجويد؟

🔘 الجواب:
نعم يجوز ذلك إذا لم يلحن فيه فإن لحن فيه فالواجب عليه تعديل اللحن

وأما التجويد فليس بواجب التجويد تحسين للفظ فقط وتحسين اللفظ بالقرآن لا شك أنه خير وأنه أتم في حسن القراءة

لكن الوجوب بحيث نقول من لم يقرأ القرآن بالتجويد فهو آثم قول لا دليل عليه

بل الدليل على خلافه بل إن القرآن نزل على سبعة أحرف حتى كان كل من الناس يقرؤه بلغته إلا أنه بعد أن خيف النزاع والشقاق بين المسلمين وحد المسلمون في القراءة على لغة قريش في زمن أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه وهذا من فضائله ومناقبه وحسن رعايته في خلافته أن جمع الناس على حرف واحد لئلا يحصل النزاع

والخلاصة أن القراءة بالتجويد ليست بواجبة وإنما الواجب إقامة الحركات والنطق بالحروف على ما هي عليه فلا يبدل الراء لاما مثلا ولا الذال زاياً وما أشبه ذلك هذا هو الممنوع.

📚 [ فتاوى نور على الدرب لابن عثيمين : 2/157 ]

•┈┈┈┈••••❁📚❁••••┈┈┈┈•
🎯 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
🚀©hannel telegram: https://tlgrm.me/ashhabussunnah
•┈┈┈┈••••❁✒️❁••••┈┈┈┈•
[ 03.09.2016 ]


Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim