Fudhail bin Iyadh rahimahullah

Sungguh luar biasa pengaruh Kalamullah dalam melembutkan qalbu manusia! Itulah untaian kata yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan keajaiban Al-Qur`an yang satu ini. Hati sekeras apa pun bisa menjadi lembut dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala.

Setidaknya, sebuah kisah tobatnya seorang hamba berikut ini menunjukkan keagungan Al-Qur`an sebagai Kalamullah. Bacaan ayat-ayat Al-Qur`an telah merasuk dalam jiwa orang pilihan Allah. Sehingga betapa pun kelamnya masa lalu, tidak menghalanginya untuk menjadi ulama besar di zamannya. Dikisahkan oleh Al-Fadhl bin Musa seperti tersebut dalam Siyar A’lamin Nubala bahwa Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang perampok yang melakukan aksinya di sebuah wilayah antara Abiward dan Sirkhis. Peristiwa yang melatarbelakangi tobatnya Al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah karena ia pernah terpesona dengan seorang budak wanita. Suatu ketika, ia tengah memanjat tembok untuk menuntaskan keinginannya terhadap wanita tersebut, di saat itulah ia mendengar seseorang membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَـٰسِقُونَ ﴿١٦﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Q.S. Al Hadid:16].
Mendengar ayat tersebut, Al-Fudhail rahimahullah berkata, “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba waktunya bagiku untuk bertobat.” Beliau pun kembali dan mengurungkan niatan buruknya terhadap wanita tersebut. Malam itu ia berlindung di balik reruntuhan bangunan, ternyata di sana ada orang-orang yang sedang lewat di jalanan. Sebagian mereka berkata, “Kita lanjutkan perjalanan.” Sebagian yang lain berkata, “Kita lanjutkan perjalanan besok pagi, karena Al-Fudhail akan menghadang kita di jalan ini.” Mendengar perbincangan itu, ia pun berkata, “Kemudian aku merenung dan berkata, ‘Aku telah menjalani berbagai kemaksiatan di malam hari dan kaum muslimin di sini merasa ketakutan kepadaku. Tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan supaya aku berhenti dari kemaksiatan ini. Ya Allah, sungguh aku telah bertobat kepada-Mu dan aku jadikan tobatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.” Sejak saat itulah Al-Fudhail berubah total, tercatat dalam sejarah ia pergi ke Kufah di Irak untuk menimba ilmu dari ulama di negeri itu. Seperti Manshur, Sulaiman bin Mihran, Shafwan bin Salim dan yang lainnya. Kemudian Fudhail menetap di kota Makkah karena ia telah bertekad menjadikan tobatnya untuk tinggal di Baitul Haram. Di sana ia memiliki seekor unta yang digunakan untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari sini, nampak kesahajaan Al-Fudhail setelah tobatnya dari penyamun. Ia berusaha untuk bekerja dengan cara yang halal meskipun hasilnya tidak seberapa. Tidak seperti masa lalunya yang lebih tercukupi secara perekonomian namun diperoleh dengan cara yang haram.

Selain dikenal sebagai ahli ibadah, Al-Fudhail juga dikenal sebagai ulama yang sangat wara’ dalam urusan harta. Beliau hanya mau mengonsumsi makanan yang halal dan menolak pemberian para penguasa di masanya. Bisyr bin Al-Harits pernah menyatakan, “Ada sepuluh orang di antara sekian manusia yang senantiasa mengonsumsi makanan yang halal. Tidaklah mereka memasukkan sesuatu ke dalam perut mereka kecuali makanan yang halal.” Lantas ia ditanya, “Siapa mereka wahai Abu Nashr?” Ia pun menyebutkan di antaranya adalah Al-Fudhail bin Iyadh.

Hati Fudhail juga sangat mudah tersentuh oleh bacaan ayat Al-Qur`an. Sebagaimana dahulu tobatnya karena mendengar bacaan Al-Qur`an. Ibrahim bin Al-Asy’ats rahimahullah berkisah, “Aku belum pernah melihat seseorang yang qalbunya sangat mengagungkan Allah dibanding Al-Fudhail. Apabila ia mengingat Allah, nama Allah disebut, atau mendengar Al-Qur`an maka nampaklah rasa takut dan sedih pada dirinya. Berlinanglah air matanya dan menangis sampai-sampai orang-orang yang hadir merasa kasihan kepadanya. Ia adalah orang yang selalu bersedih dan banyak berpikir. Aku tidak pernah melihat seseorang yang menginginkan Allah dalam ilmunya, amalannya, pengambilannya, pemberiannya, penolakannya, pengorbanannya, kebenciannya, cintanya dan seluruh perangainya kecuali Al-Fudhail. Tatkala kami pergi bersama Al-Fudhail untuk mengantar jenazah, ia pun selalu memberi nasihat, peringatan dan menangis. Seolah-olah ia hendak berpisah dengan sahabat-sahabatnya menuju kehidupan akhirat. Setibanya di pemakaman, ia pun duduk di antara mayat-mayat dengan rasa sedih dan menangis sampai berdiri. Seakan-akan ia baru saja kembali dari alam akhirat untuk memberitakan berita tentangnya.”

Demikianlah para pembaca keadaan Al-Fudhail bin Iyadh setelah bertobat dari masa lalunya yang kelam. Sungguh keadaan Al-Fudhail jauh lebih baik dibandingkan keadaannya sebelum bertobat. Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang bertobat ada yang tidak mampu kembali ke derajat semula. Tetapi ada juga yang bisa kembali ke derajat yang lebih tinggi. Sebagaimana keadaan Nabi Dawud ‘alaihis salam setelah bertobat, beliau lebih baik dibandingkan keadaan beliau sebelum bertobat.

Pembaca yang budiman, demikian seharusnya seseorang yang bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita lihat Al-Fudhail mengubur dalam-dalam masa lalunya dan meninggalkan segala tindak kejahatannya selama menjadi penyamun. Bahkan lebih dari itu, ia selalu menghadiri majelis-majelis para ulama besar di masanya. Bahkan beliau sempat pergi ke Kufah untuk menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut. Sebelum akhirnya menetap di Baitul Haram yang dijadikan sebagai salah satu bagian tobatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan tobat yang sebenar-benarnya ini, Allah akan melebur segala dosa yang pernah dilakukan. Sehingga tidak ada istilah terlambat untuk bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala betapa pun banyaknya dosa yang dilakukan oleh seseorang. Allah selalu membuka kesempatan bagi siapa pun untuk bertobat dari segala perbuatan dosa meskipun dosa syirik sekali pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu yang artinya, “Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat orang-orang yang berbuat dosa di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang-orang yang berbuat jelek di malam hari sehingga matahari terbit dari arah barat.”

Selama matahari belum terbit dari arah barat, maka tidak ada kata terlambat untuk bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’alaAllahu a’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 13 vol. 2 1435 H/2013 M, rubrik Ulama, pemateri Ustadz Abu Hafy Abdullah.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim