Faedah Untuk Para Mutazawwij

FAEDAH UNTUK PARA MUTAZAWWIJ

Berkata penanya:

Apakah telanjang di dalam berjimak adalah boleh atau makruh (yang dibenci), dan apakah ada adab-adab yang wajib diikuti di dalam berjimak?

Beliau رحمه الله menjawab:

"Yang menjadi Sunnah di dalam berjimak adalah seseorang mengucapkan ketika berjimak:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

"Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah  kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami".

Dan adapun telanjang ketika berjimak sungguh dimakruhkan (dibenci) oleh sebagian ahli ilmu dan ia mengatakan sesungguhnya yang sepantasnya ia menjimaknya dalam keadaan masing-masing dari keduanya tetap berpakaian, akan tetapi bersama itu seandainya keduanya telanjang (saat jimak) maka tidaklah mengapa sebab Allah berfirman:

"Dan orang-orang yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka, kecuali atas istri-istri mereka atau hamba sahaya mereka sungguh mereka tidaklah tercela".

Jika tidak ada celaan di dalam hal tidak menutupi kemaluan (saat jimak) maka yang selainnya lebih pantas (tidak mendapatkan celaan).

****

Berkata penanya:

Hai syeikh yang mulia: pada salah satu malam ketika aku membiasakan berjimak bersama istriku syaitan mengalahkan aku, aku mulai mengawali jimak (muda'abah/foreplay) bukan pada tempat yang dikhususkan dan itu terjadi pada payu dara. Ia (penanya) berkata: sungguh aku ejakulasi (mengeluarkan mani) pada tempat ini, dan ia berkata juga: hatiku (perasaanku) belum tentram dan sungguh saja ia menghantuiku, kami mengharapkan dari yang mulia memberikan fatwa kepadaku di dalam perkara itu dan apa kaffah (tebusan) bagi perkara itu, berikanlah faidah kepadaku semoga Allah memberikan pahala kepada Anda dan kami memohon kepada Allah taufik untuk kami dan anda?

Beliau رحمه الله menjawab:

"Yang sepantasnya bagi seorang insan adalah menggunakan segala sesuatu pada tempatnya, Allah سبحانه وتعالى berfirman:

"Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian dimanapun kalian inginkan".

Al harts (ladang) adalah tempat benih dan tempat benih jika ditinjau bagi seorang wanita adalah farj (kemaluan) karena itulah yang sampai kepada tempat benih yaitu rahim, maka inilah yang sepantasnya bagi seorang insan mendatangi istrinya padanya, akan tetapi bersama itu seandainya ia mendatanginya pada tempat yang lain selainnya selain dubur (anus) maka sungguh dzahir firman-Nya:

" Dan orang-orang yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka, kecuali atas istri-istri mereka atau hamba sahaya mereka sungguh mereka tidaklah tercela".

Dzahirnya keumuman ini adalah menunjukkan boleh dan boleh ia beristimta' dengan istrinya pada apa yang ia inginkan selain dubur sebab tidak boleh bagi seseorang menjimak istrinya padanya".

Sumber:
Fatawa nurun alad darb, oleh Imam ibn utsaimin, maktabah syamilah, ver android

Teks Arab oleh Al ustad tasyrif al ambuny via group telegram ikhwan sultra

يقول هل التعرية في الجماع جائزة أم مكروهة وهل هناك آداب يجب اتباعها في الجماع؟

فأجاب رحمه الله تعالى: السنة في الجماع أن يقول الإنسان عند الجماع بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا وأما التعري عند الجماع فقد كرهه بعض أهل العلم وقال إن الذي ينبغي أن يجامعها وكل منهما عليه لباس ولكن مع ذلك لو تعريا فلا حرج لأن الله يقول (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٥) إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ) فإذا كان لا ملامة في عدم ستر الفرج فما سواه من باب أولى.

Ternyata boleh dilakukan.

***
 يقول يا فضيلة الشيخ في أحد الليالي عندما كنت أمارس الجماع مع زوجتي تسلط علي الشيطان وأخذت أداعب زوجتي في غير المكان المخصص وذلك في الثدي يقول وقد أنزلت في ذلك الموضع ويقول أيضاً ضميري لم يرتاح وإنما يؤنبني ونرجوا من سماحتكم إفتائي في ذلك وما كفارة ذلك أفيدوني أثابكم الله ونسأل الله لنا ولكم التوفيق؟

فأجاب رحمه الله تعالى: الذي ينبغي للإنسان أن يستعمل كل شيء في موضعه وقد قال الله سبحانه وتعالى (نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شيءتُمْ) والحرث هو موضع البذر وموضع البذر بالنسبة للمرأة هو الفرج لأنه الذي يصل إلى مكان البذر وهو الرحم فهذا هو الذي ينبغي للإنسان أن يأتي زوجته فيه ولكن مع ذلك لو أتاها في محل آخر غيره سوى الدبر فإن ظاهر قوله تعالى (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٥) إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ) ظاهر هذا العموم يقتضي الجواز وأنه يجوز أن يستمتع بزوجته فيما شاء ما عدا الدبر فإنه لا يجوز للرجل أن يجامع زوجته فيه.

Ternyata boleh dilakukan.

***

Sumber: Fatawa Nurun 'Alad Darb, oleh Imam Ibn Utsaimin, Maktabah Syamilah, ver android.

http://tlgrm.me/salafykolaka
[ 22/09/2016 ]

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim