Ady bin Hatim radhiyallahu ‘anhu

Allah Maha membolak-balikkan qalbu. Allahlah yang menunjuki seseorang kepada hidayah, dan menjadikan yang lainnya lari menjauh meninggalkan hidayah. Betapa banyak kita saksikan, seorang yang dahulu begitu benci terhadap Islam berubah menjadi sangat mencintainya. Sebagaimana kita saksikan pula, begitu banyak Allah gantikan keimanan yang menancap dalam qalbu seseorang dengan kekufuran.

Ady bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, shahabat yang mulia ini adalah salah seorang yang Allah berikan karunia kepadanya untuk meniti hidayah Islam setelah sebelumnya sangat membencinya. Betapa tidak, semula beliau adalah pembesar kaumnya, suku Thay. Beliau ketika itu biasa mengambil upeti dari kaumnya sebagaimana lazimnya raja di zamannya. Beliau dahulu adalah seorang yang memeluk agama Nasrani. Sebelum masuk Islam, beliau radhiyallahu ‘anhu merasa bahwa agama ini akan menghalangi keinginannya dan bahkan merebut kekuasaan yang sedang ia nikmati. Maka beliau dahulu adalah orang yang sangat antipati terhadap Islam, dan menjadi orang yang melarikan diri saat cahaya Islam datang berpendar menyebarkan hidayah di daerahnya. Pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berhasil menaklukkan kota Makkah, dan mengembalikan kota tersebut ke dalam pangkuan Islam. Setelah penaklukan jantung jazirah Arab ini, banyak suku-suku Arab yang bergabung dengan Islam. Di antara suku tersebut ada yang kemudian memeluk Islam, sebagian lain tunduk terhadap Islam walaupun belum masuk agama ini. Adapun suku-suku yang belum mau tunduk terhadap aturan Islam dan masih beribadah kepada berhala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan kesatuan-kesatuan tempur ke daerah-daerah tersebut, bertujuan agar semua berhala yang diibadahi dihancurkan, sehingga Islam unggul atas seluruh agama batil yang ada.

Adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam utus bersama sepasukan tempur ke daerah Thay -daerah kekuasaan Ady bin Hatim- guna menghancurkan berhala yang ada di daerah ini. Terjadilah pertempuran antara pasukan kaum muslimin dan orang-orang Thay. Ady bin Hatim sendiri, ia bersama sebagian keluarganya telah lebih dahulu lari menyelamatkan diri. Sedangkan kaumnya akhirnya dapat dikalahkan dalam pertempuran tersebut.

Allah Yang Maha Bijaksana berkehendak lain. Takdir Allah subhanahu wa ta’ala merubah keadaan ini. Ady bin Hatim pun datang ke Madinah dari tempat pelariannya, setelah mendapatkan kabar dari adik perempuan beliau tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terpuji dan banyak memberi maaf. Pada akhirnya beliau tunduk memeluk agama Islam setelah sebelumnya lari menghindarinya.

Ady bin Hatim bin Abdillah bin Sa’ad At-Thayy, terkenal dengan kunyah Abu Tharif. Beliau radhiyallahu ‘anhu masuk Islam pada bulan Sya’ban, tahun kesepuluh hijriah. Tahun-tahun di mana Islam sudah mulai merambah ke Jazirah Arab secara umum. Setelah masuk Islam, tak henti-hentinya beliau beramal shalih dan bersemangat melaksanakan amalan ketaatan. Ady bin Hatim radhiyallahu ‘anhu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun beliau termasuk shahabat yang masuk Islam belakangan semenjak pembukaan kota Makkah. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah aku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali beliau melapangkan tempat untukku, atau beliau meminta para shahabat untuk bergeser. Sungguh pernah suatu hari aku menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan di sekitar beliau penuh dengan para shahabat. Maka beliau pun meluaskan tempat untukku, sehingga aku duduk di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, tepatnya setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, banyak suku-suku yang berada di luar Madinah dan Makkah yang murtad, keluar dari Islam. Banyak di antara suku tersebut yang berbalik dari ketaatan menjadi musuh Islam. Mereka menolak membayar zakat yang sebelumnya mereka tunaikan, serta penyelisihan yang lain. Namun, Ady bin Hatim tetap datang kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan membawa harta zakat dari kaum beliau. Ini menunjukkan sikap beliau yang kukuh memegang janji dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tak hanya itu, beliau bersama beberapa orang mencegah sebagian kaumnya dari kemurtadan, keluar dari Islam. Beliau radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pemimpin yang memiliki kemuliaan di sisi kaumnya. Beliau sangat pandai dalam berpidato serta dapat dengan cepat menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada beliau radhiyallahu ‘anhu. Kokohnya pendirian beliau di atas Islam, baiknya pandangan, serta pendapat beliau, -setelah kehendak Allah tentunya-, akhirnya dapat mencegah kaumnya dari kemurtadan.

Pada masa khalifah yang kedua, beliau datang kepada Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata kepada Umar, “Aku sangka Anda tidak mengenaliku.” Maka Umar pun menjawab, “Bagaimana aku tidak mengenalmu, padahal shadaqah pertama kali yang menjadikan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar adalah zakat kaum Thay. Aku mengenalmu sebagai orang yang beriman tatkala mereka kufur. Engkau datang ketika mereka menjauh. Engkau menunaikan amanah tatkala mereka mengkhianatinya.”

Demikianlah sosok mulia shahabat ini radhiyallahu ‘anhu. Murid-murid yang mengambil ilmu dari beliau adalah para penduduk Kufah dan Bashrah. Di antara mereka yang terkenal adalah: Hammam bin Al Harits, ‘Amir As Sya’by, Abu Ishaq Al Hamdany, Khaitsamah bin Abdurrahman, dan selain mereka.

Beliau pindah ke Kufah kemudian tinggal di sana. Bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengikuti perang Siffin dan Nahrawan, ikut pula dalam pembukaan kota Iraq. Beliau meninggal di negeri Kufah pada masa pemerintahan Al Mukhtar pada tahun 68 hijriyah dalam usia yang ke 120. Semoga Allah meridhai beliau. Amiin. [Hammam].

Maraji’:
Isti’ab fi Ma’rifati Ashhab karya Al Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah.
Ishabah fi Tamyizi Ash Shahabah karya Al Imam Ibnu Hajar rahimahullah.

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 14 vol.02 1433H-2012M, rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim