Abdurahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu

Pada masa jahiliah, beliau bernama Abdu ‘Amr. Ada yang menyebutkan Abdul Ka’bah. Abdurrahman dilahirkan sepuluh tahun setelah tahun Gajah. Tepatnya 44 tahun sebelum Hijrah. Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin ‘Auf bin Abdu ‘Auf bin Abdul Harits. Beliau dari Bani Zuhrah yang masih termasuk bangsa Quraisy. Beliau biasa dipanggil dengan Abu Muhammad. Ibu beliau adalah As Syifa’. Mengenai fisik beliau; perawakan tinggi, wajahnya tampan, kulitnya sawo matang dan tipis, telapak tangannya besar begitu juga jari-jarinya.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu termasuk kelompok delapan orang yang pertama masuk Islam. Yaitu dua hari setelah keislaman Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Beliau juga termasuk sepuluh shahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga. Termasuk pula enam orang shahabat yang dipilih oleh Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu untuk bermusyawarah dalam pemilihan khalifah sesudah beliau. Lebih dari itu, beliau adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berfatwa di Madinah, selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.

Sebagaimana shahabat lain yang masuk Islam pada awal dakwah, beliau tidak luput dari tekanan dan penyiksaan dari kaum kafir Quraisy. Namun, beliau tetap kokoh dan teguh. Bersabar mempertahankan hidayah.

Beliau turut berhijrah ke Habasyah. Setelah itu hijrah ke Madinah, bersama-sama saudara seiman menyelamatkan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy. Bahkan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu termasuk shahabat yang menjadi pelopor bagi orang-orang yang hijrah ke Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan beliau dengan Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari radhiyallahu ‘anhu.

Dalam perang Badar, beliau turut berjihad fi sabilillah. Beliau berhasil membunuh musuh-musuh Allah. Antara lain Umair bin Utsman bin Ka’ab bin ‘Auf At Taimy. Dalam perang Uhud, ketika situasi sangat kacau, tentara kaum muslimin banyak yang meninggalkan medang laga, beliau tetap teguh bertahan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selesai peperangan, beliau mendapatkan sembilan luka parah yang menganga, dan dua puluh satu luka kecil di tubuh beliau. Kedua gigi seri beliau patah, kaki beliau juga pincang sebab luka yang mengenainya.

Beliau tidak pernah absen dalam mengikuti berbagai pertempuran bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perjuangan dan pengorbanan jiwa di medan tempur, beliau iringi dengan perjuangan dan pengorbanan dengan harta benda.

Salah satu keistimewaan beliau yang tidak dimiliki shahabat yang lain selain Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mengimami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abdurrahman bin ‘Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin, ibunda kaum mukminin, istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka, dan mengadakan pengawalan untuk ibu-ibu yang mulia itu bila bepergian.

Inilah salah satu bidang khusus yang ditangani oleh shahabat Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau pantas bangga dan bahagia dengan tugas dan kepercayaan yang dilimpahkan oleh ibunda orang-orang mukmin kepadanya.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu juga pernah membeli sebidang tanah seharga empat ribu dinar. Lalu tanah itu dibagi-bagikan seluruhnya kepada fakir miskin Bani Zuhrah dan kepada para Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika jatah ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha diberikan, ibunda yang mulia itu bertanya, “Siapa yang menghadiahkan tanah itu buat saya?” Dijawab, “Abdurrahman bin ‘Auf.” Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku, kecuali orang-orang yang sabar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang Abdurrahman bin ‘Auf, “Abdurrahman adalah orang terpercaya di bumi dan di langit.”

Shahabat Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang kaya raya. Beliau sangat pandai berdagang. Walalupun begitu kaya raya, harta kekayaan itu seluruhnya tidak memengaruhi jiwanya yang penuh iman dan takwa. Apabila beliau berada di tengah-tengah budaknya, orang tidak dapat membedakan di antara mereka, mana yang majikan dan mana yang budak. Demikian sikap tawadhu’ dan wara’ yang beliau miliki. Selama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah meriwayatkan kurang lebih 65 hadits.

Beliau radhiyallahu ‘anhu wafat mewariskan sekitar seribu unta, tiga ribu kambing, dan seratus kuda. Beliau juga memiliki emas dan perak, serta perkebunan di daerah Jurf.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Aku melihat setelah meninggalnya Abdurrahman bin ‘Auf, setiap istrinya memperoleh harta sebanyak seratus ribu dirham.”

Beliau radhiyallahu ‘anhu meninggal pada tahun 32 Hijriyah dalam umur sekitar 76 tahun. Beliau radhiyallahu ‘anhu dimakamkan di Baqi’. Sebelum meninggal, beliau ditawari oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk dimakamkan di dekat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar. Namun, beliau menolaknya karena rasa malu.

Pada hari wafat beliau, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Pergilah wahai putra ‘Auf. Sungguh engkau telah menemukan kebaikan dan meninggalkan keburukan (dunia).”

Turut menghantarkan jenazah beliau ke tempat terakhir di dunia, shahabat yang mulia ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Semoga Allah meridhai beliau. [Hammam]
 
Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 22 vol.02 1434H-2012M, rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim