Abdullah bin Mas'ud

Dalam goresan tinta sejarah keemasan Islam terukirlah nama para pejuang yang gigih memperjuangkannya. Di antara mereka adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, seorang shahabat Nabi yang telah masuk Islam sejak awal pergolakannya. Beliau berada di urutan keenam dari orang-orang yang masuk Islam pertama kali. Dengan sebab itu, banyak keutamaan yang dimilikinya. Jadilah beliau salah satu tokoh terkemuka dalam jajaran shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ayahnya adalah Mas’ud bin Ghafil sedang ibunya adalah Ummu ‘Abd binti Abdu Wadd bin Suwa’ dari Bani Hudzail. Abdullah bin Mas’ud adalah seorang shahabat yang masuk Islam dalam umur yang masih muda. Ketika itu beliau masih anak-anak. Tatkala itu pemeluk Islam masih sangat sedikit, di masa-masa sebelum masuk Islamnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Beliau masuk Islam saat menjadi seorang penggembala kambing milik tuannya. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu melewati beliau, yang sedang menggembala kambing. Berkatalah Rasulullah kepadanya, “Wahai anak kecil, apakah engkau mempunyai susu?”

Maka Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya ada, namun aku adalah orang yang diberi amanah (untuk menjaganya).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali, “Apakah ada kambing gembalaan yang sudah tidak melahirkan dan tidak ada kambing jantan yang mau mengawininya (sehingga tidak mungkin mengeluarkan susu, red.)?”

Ibnu Mas’ud kemudian membawakan kambing betina yang dimaksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengusap kantong susu kambing tersebut. Seketika itu kantong susu menggelembung penuh dengan susu. Rasulullah kemudian memerasnya dan menuangkannya di tempat minum, lalu meminumnya beserta Abu Bakar. Saat itulah keimanan merasuk ke dalam hati Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Keutamaan Abdullah bin Mas’ud

Keutamaan beliau sangatlah banyak. Sungguh, sangat sedikit manusia yang dapat menandingi keutamaan beliau. Cukup sebagai suatu keutamaan, beliau termasuk dalam golongan shahabat yang masuk Islam pada awal Islam. Beliau juga melakukan hijrah dua kali, hijrah pertama ke negeri Habasyah dan hijrah kedua ke negeri Yatsrib atau lebih dikenal dengan negeri Madinah. Selain itu beliau juga mengikuti perang Badr dan Hudaibiyah. Semua ini adalah keutamaan beliau di samping banyak lagi keutamaan yang lainnya.

Hal lain yang menunjukkan keutamaan Ibnu Mas’ud adalah sanjungan para shahabat terhadap beliau. Shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya orang yang paling serupa dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam cara pengajaran, memberi petunjuk, serta jalan hidupnya adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.”

Seorang tabi’in, ‘Alqamah bin Qais rahimahullah (w. 60 H) mengatakan, “Seseorang datang kepada Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berada di Arafah dan mengatakan, ‘Aku datang kepadamu dari negeri Kufah dan ketika aku meninggalkan negeri itu ada di sana seseorang yang membaca Al-Quran dari hapalannya.’ Mendengar penuturan itu, murkalah Umar dan mengatakan, ‘Celaka engkau, siapa orang itu?!’ Orang tersebut menjawab, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.’ Ketika mendengar nama tersebut, hilanglah kemarahan Umar dan kembali tenang seperti keadaannya semula dan mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang manusia pun yang lebih pantas melakukan hal itu kecuali dia.’”

Meski beliau dikaruniai tubuh yang kecil, beliau memiliki timbangan yang berat di hari kiamat kelak. Tatkala Abdullah bin Mas’ud memanjat pohon, para shahabat melihat betis Ibnu Mas’ud. Demi melihat betis Abdullah bin Mas’ud yang kecil, mereka pun tertawa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda yang artinya, “Kenapa kalian tertawa? Sungguh, satu kaki Abdullah bin Mas’ud lebih berat timbangannya pada hari kiamat daripada gunung Uhud.” [H.R. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah].

Demikianlah sekelumit keutamaan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Cukuplah kutipan persaksian dari para pembesar Islam yang mulia di atas untuk menggambarkan kemuliaan beliau. Beliau meninggal di Madinah pada tahun 32 H dengan umur 60 tahun lebih. Beliau dikubur di pekuburan Baqi’. Abdullah bin Mas’ud, semoga Allah meridhainya. Allahu a’lam. [Hammam]

Referensi:
Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Imam Ibnu Hajar rahimahullah
Al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab, Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah

Sumber: Majalah Tashfiyah, edisi 07 vol.01 1432H-2011M, rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim