Thawus bin Kaisan rahimahullah

Nasihat merupakan salah satu pokok ajaran Islam yang sangat mulia. Seorang muslim dituntut untuk memberikan nasihat satu sama lain demi kebaikan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa agama adalah nasihat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, penguasa kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin secara umum.

Nah, pembaca Qudwah sekalian, tokoh kita kali ini adalah seorang pembesar ulama tabi'in yang sangat komitmen dalam memberikan nasihat kepada seluruh kaum muslimin. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat lantang dalam menasihati dan menyerukan kebenaran di hadapan penguasa. Ya, tidak lain beliau adalah Dzakwan bin Kaisan yang lebih populer dengan julukan Thawus bin Kaisan. Mengenai julukan ini, Yahya bin Ma'in pernah berkata, “Ia dijuluki Thawus (burung merak) karena seringnya mempelajari ilmu agama kepada para ahli qira`ah (ahli membaca Al-Quran).” Nama lengkapnya adalah Abu Abdirrahman Dzakwan bin Kaisan al-Yamani al-Himyari. Salah seorang kibarut tabi'in (tabi'in yang awal) sekaligus wa'izh (pemberi nasihat) kaum muslimin. Ia pernah belajar dan menimba ilmu dari sekian banyak shahabat. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Thawus mengaku telah bertemu dengan 50 orang shahabat. Di antaranya Abdullah bin Abbas, Muadz bin Jabal, Jabir bin Abdullah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar dan yang lainnya radhiyallahu 'anhum.

Thawus rahimahullah pernah berkata, “Seseorang yang berbicara tentang kebaikan dan ia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka ia lebih baik daripada orang yang diam dan bertakwa kepada Allah.” Oleh sebab itu, ia memiliki prinsip bahwa seorang juru dakwah hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu jika ada kesempatan untuk menyampaikan kebenaran. Setiap kali ia diminta untuk menyampaikan nasihat dan petuah, beliau pun langsung menyanggupinya selama tidak ada penghalang. Seperti tatkala beliau dipanggil oleh Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik untuk menyampaikan nasihat. Maka beliau pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan bergegas memenuhi panggilannya. Setelah tiba di hadapannya, Thawus berkata dalam hati bahwa ini adalah sebuah forum yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ia menyadari bahwa menyatakan kebenaran di hadapan penguasa adalah sesuatu yang penuh risiko dan bukan hal yang mudah. Sehingga beliau berusaha untuk memotivasi diri supaya jangan sampai mengorbankan kebenaran demi kesenangan penguasa. Mulailah Thawus menyampaikan petuahnya dengan menyatakan, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ada sebuah batu besar di tepi Jahannam. Batu tersebut dilemparkan ke dasar Jahannam dan membutuhkan waktu tujuh puluh tahun untuk sampai ke dasarnya. Wahai Amirul Mukminin, tahukah anda untuk siapakah sumur tersebut disediakan?”

Khalifah menjawab, “Tidak, duhai celakanya. Untuk siapakah gerangan?”

Thawus berkata, “Untuk orang-orang yang Allah pilih sebagai penegak hukum-Nya namun dia justru berbuat kezaliman.” Kata-kata tersebut begitu menyentuh hati Sulaiman sehingga ia pun gemetar dan akhirnya tak kuasa menahan tangis. Ini meraupakan salah satu dari sekian banyak contoh bimbingan Thawus kepada para penguasa di zamannya.

Ketulusan Thawus dalam menyampaikan nasihat sangat tampak dalam interaksi beliau terhadap para penguasa. Tidak ada ambisi pada diri beliau untuk memperoleh jabatan atau harta dari mereka. Bahkan beliau berkali-kali menolak hadiah para penguasa atas nasihat yang disampaikan kepada mereka. Tidak ada sedikit pun yang beliau ambil. Bahkan, semuanya dibiarkan begitu saja. Sikap beliau yang demikian ini semakin menambah wibawa di hadapan penguasa kaum muslimin. Bahkan orang sebengis Hajjaj bin Yusuf sangat hormat dan simpati kepadanya. Hajjaj tidak merasa malu atau sombong untuk bertanya kepadanya tentang urusan agama.

Simak kisah berikut ini yang mencerminkan wara' beliau dalam urusan duniawi. Pernah suatu ketika Thawus bersama Wahab bin Munabbih datang menemui Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi yang saat itu menjabat sebagai gubernur di Yaman. Tatkala ia menyampaikan nasihat kepada para hadirin, tiba-tiba sang gubernur menyuruh pelayannya untuk mengambil beberapa potong pakaian berwarna hijau yang bagus. Kemudian ia menyuruh pelayannya supaya meletakkan pakaian itu di atas pundak Thawus. Thawus bergeming meski diperlakukan demikian. Ia tetap melanjutkan ceramahnya sampai selesai, lalu beranjak meninggalkan majelis tersebut. Sementara ia biarkan pakaian tadi jatuh dari pundaknya. Setelah pertemuan itu usai, Wahb berkata kepada Thawus, “Demi Allah, sebenarnya kita jangan sampai membuat gubernur itu marah kepada kita. Kenapa Anda tidak menerima pakaian tersebut lalu dijual dan hasilnya disedekahkan kepada orang-orang miskin?”

Thawus pun menjawab, “Anda benar, jika aku tidak mengkhawatirkan orang-orang setelah kita akan mengatakan, 'Kami menerima pemberian penguasa sebagaimana yang dilakukan oleh Thawus bin Kaisan. Namun setelahnya mereka tidak menyedekahkan kepada orang-orang miskin.'” Memang demikian kebiasaan Thawus seusai menyampaikan nasihat kepada pemimpin kaum muslimin. Ia langsung beranjak pergi setelah selesai kecuali jika ada keperluan yang hendak diselesaikan.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah pernah berkata, “Ada tiga orang yang senantiasa menjauhi kepemimpinan: Abu Dzar di masanya, Thawus di masanya, dan Sufyan ats-Tsauri di masanya.”

Demikianlah para pembaca, tatkala seseorang dekat dengan penguasa maka ujian harta dan kekuasaan sungguh sangat besar. Sehingga tidak sekadar kemapanan ilmu yang dibutuhkan. Namun keikhlasan dan sikap wara' juga tidak kalah penting untuk dimiliki siapa saja dalam permasalahan ini. Kisah ini juga menggambarkan betapa para penguasa saat itu begitu menghargai keberadaan ulama. Sehingga tidak sedikit di antara mereka yang mengutus pembantu-pembantunya untuk memanggil ulama demi mendapatkan siraman rohani. Atau bahkan mereka sendiri yang duduk bersimpuh di hadapan ulama untuk menimba ilmu dan mendengar petuah-petuah mereka. Sungguh, dengan kesadaran yang baik dari kedua belah pihak, baik ulama maupun pemimpin, niscaya akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang adil nan bijaksana. Demikian sekilas potret kepribadian seorang pemberi nasihat dari kalangan ulama tabi'in. Semoga Allah merahmati Thawus yang senantiasa membimbing kaum muslimin dengan untaian-untaian nasihatnya. Allahu a'lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 12 vol. 01 1434 H/ 2013 M, rubrik Ulama. Pemateri: Ustadz Abu Hafy Abdullah.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim