Memaknai Ujian Dalam Hidup

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
(Edisi 41)

Memaknai Ujian Dalam Hidup

Si A dan si B. Keduanya sama-sama berangkat menuju Wonosari dari Kulonprogo. Kedua-duanya menggunakan sepeda motor. Si A pulang pergi dengan selamat, tanpa menemui hambatan apapun. Sementara si B mengalami kecelakaan. Ban belakang motornya tiba-tiba meletus hingga oleng lalu terjatuh. Kaki dan tangannya mengalami luka-luka lecet.
Siapakah yang sedang diuji oleh Allah, si A atau si B?

Si C dan si D sama-sama berprofesi sebagai petani bawang merah. Luasan tanah yang digarap kurang lebih sama. Start menanamnya pun pada waktu yang saling berdekatan. Pengairan, perawatan dan pemupukan juga dengan teknik yang sama. Namun hasilnya berbeda. Si C gagal panen bahkan modalpun tidak kembali, sementara si D memperoleh laba yang cukup besar. Siapakah yang sedang diuji oleh Allah, si C ataukah si D?

Ada dua orang pedagang nasi goreng yang sama-sama berkeliling di lingkungan warga dengan menggunakan gerobag dorong. Masing-masing memilih arah dan area jual yang berbeda, yang menurut perhitungan masing-masing adalah jalur yang kemungkinan besar laris manis. Keduanya semaksimal mungkin menawarkan dagangannya. Keduanya mengalami hasil yang berbeda. Pedagang pertama pulang cepat karena jualan yang ia bawa telah habis diborong, adapun pedagang satunya sampai dini hari hanya lima atau enam pembeli saja yang ia jumpai. Siapakah yang sedang diuji oleh Allah, pedagang yang habis jualannya ataukah pedagang satunya yang hanya dibeli lima atau enam orang saja?

Dua orang bersahabat yang sama-sama mempunyai semangat untuk mempelajari bahasa arab. Keduanya berada pada majlis yang sama dengan guru pembimbing yang sama juga. Buku serta metode yang digunakan pun sama. Setelah satu tahun berlalu, sahabat pertama merasa tidak mempunyai kemampuan membaca tulisan arab gundul, sementara sahabat yang kedua sudah mulai lancar. Siapakah dari mereka berdua yang sedang diuji oleh Allah?

Dua kakak beradik. Waktu pernikahan mereka berdua tidak berselang lama. Saling ikut mengikuti. Kedua istri mereka berasal dari keluarga yang secara hitungan genetika, akan mempunyai keturunan. Akan tetapi setelah sepuluh tahun berlalu, sang kakak masih belum memperoleh momongan sementara si adik sudah memiliki lima anak. Kakak ataukah adik yang sedang diuji oleh Allah?

Mereka berdua hidup bertetangga. Latar belakang dan taraf pendidikan mereka berdua hampir setingkat. Kemampuan dan skill dalam bekerja juga tidak selisih jauh. Namun si X hidupnya serba kecukupan dan selalu ada, sementara si Z terlihat kekurangan bahkan masuk dalam daftar orang tidak mampu di kampungnya. Menurut Anda, si Z ataukah si X yang layak disebut sebagai hamba yang sedang diuji oleh Allah?

Dua kawan sepermainan. Usia dan umur mereka selevel. Secara fisik, keduanya sama-sama ideal. Pekerjaan ada. Keluarga juga dari nasab yang baik-baik. Akan tetapi dalam hal jodoh, mereka berdua tidak sama. Yang satu sudah menikah sejak masih berusia muda, adapun yang lainnya sampai berkepala empat, masih juga belum beristri. Siapakah dari mereka yang sedang diuji oleh Allah?

Dua ikhwan sedang berbincang: "Anakku nakal. Susah diatur. Ndak bisa diarahkan. Ngeyel. Seringnya membentak-bentak. Kalau keinginannya tidak dipenuhi, ia akan marah-marah", ujar ikhwan pertama. Ikhwan kedua bercerita: "Kalau anakku beda. Penurut. Mudah diatur dan diarahkan. Rajin. Sregep. Santun dan punya tata krama yang baik". Manakah dari kedua ikhwan tersebut yang sedang diuji oleh Allah?

00000_____00000

Saya kira, beberapa contoh di atas sudah cukup mewakili dari gambaran kehidupan dunia di sekitar kita. Pastinya aktivitas manusia tidak akan jauh-jauh dari beberapa contoh yang saya uraikan di atas. Tujuan saya hanyalah menggambarkan tentang penilaian kita pada umumnya. Menilai dan memaknai sebuah ujian dari Allah itu harus bagaimana dan seperti apa?

Hal-hal di atas hanyalah contoh. Ingat, hanya sekadar contoh! Selanjutnya silahkan dikembangkan dan dianalogikan dengan contoh-contoh lainnya.

Hasan, nama seorang santri yang masih berusia kurang dari sepuluh tahun, ketika malam tadi saat kajian Maghrib di Pondok Wates, bisa menjawab pertanyaan saya dengan benar. Contoh si A dan si B pada paragraf pembuka di atas, saat saya tanyakan kepada Hasan, ia menjawab: "Semuanya sedang diuji oleh Allah".

Benar, wahai Hasan! Semua orang sejatinya selalu dan tidak akan pernah berhenti untuk diuji. Barangkali dalam pandangan sebagian orang, ujian atau cobaan itu selalu didefinisikan dengan sesuatu yang tidak meyenangkan, tidak membahagiakan, tidak menguntungkan atau tidak memberi manfaat apa-apa. Padahal apapun yang terjadi di muka bumi ini sejatinya adalah ujian dari Allah.

Al Imam As Sa'di dalam karya beliau yang mengupas tentang pelajaran-pelajaran hidup dari kisah nabi Yusuf, menjelaskan hal ini secara gamblang. Pada point yang ke-26, Beliau Rahimahulloh menulis :

"Annallaha yabtali anbiya-ahu wa ashfiya-ahu bisy syiddati war rakha', was suruur wal huzni, wal yusri wal 'usri, liyastakhrija minhum 'ubuudiyyatahu fil haa-lain, bisy syukri ' indar rakha', wash shabri 'indasy syiddati wal balaa".

Terjemah bebasnya sebagai berikut : Allah menguji para Nabi dan hamba-hamba terpilih lainnya dengan kesempitan dan kelapangan, dengan kebahagiaan dan kesedihan serta dengan kemudahan dan kesulitan. Supaya terlahir dari mereka ubudiyah (penghambaan yang bernilai ibadah). Saat lapang mereka bersyukur, kemudian bersabar di kala sempit dan ketika tertimpa musibah.

Apa artinya? Tolong jangan berpikir sempit tentang makna ujian! Jangan hanya fokus pada derita dan sengsara saat berbicara mengenai ujian. Memaknai ujian harus benar dan tepat, supaya kita lulus dan lolos dari ujian Allah, kemudian menyandang predikat hamba yang sukses dunia akhirat. Jadi, jangan berpikir sempit tentang makna ujian!

Panjenengan yang selamat dalam sebuah perjalanan sebenarnya sedang diuji, apakah bisa bersyukur, kurang bersyukur atau lupa bersyukur? Panjenengan yang sukses panen, panjenengan yang dagangannya laris habis, panjenengan yang pintar lagi cerdas, panjenengan yang sudah mempunyai anak, panjenengan yang kaya, panjenengan yang sudah menikah dan berumah tangga dan panjenengan yang mempunyai anak-anak yang manut dan nurut. Sadarilah bahwa Panjenengan sedang dalam ujian Allah, yaitu mampukah bersyukur dalam arti yang sesungguhnya? Ataukah malah lupa untuk bersyukur?

Panjenengan yang mengalami kecelakan saat dalam perjalanan juga sedang diuji, apakah bisa bersabar dan ridha dengan takdir Allah? Panjenengan yang gagal panen, panjenengan yang dagangannya tidak laku-laku, panjenengan yang merasa bodoh, panjenengan yang sampai saat ini masih belum mempunyai keturunan, panjenengan yang miskin, panjenengan yang belum juga menikah dan panjenengan yang mempunyai anak nakal. Sadarilah bahwa semua itu adalah ujian dari Allah supaya kita mendekatkan diri kepada Allah dengan langkah bersabar. Sudahkah Panjenengan mengedepankan sikap sabar?

Akhirnya, hidup di dunia ini adalah hidup yang penuh ujian. Jangan pernah berpikir bahwa hidup di dunia ini bisa dilalui dengan mudah tanpa ujian. Ujian itu sudah dimulai sejak kita lahir dan akan terus berlangsung sampai kita meninggal dunia nanti. Satu-satunya tempat yang dijalani tanpa ada ujian dan cobaan hanyalah surga. Oleh sebab itu, istirahat yang sesungguhnya itu ada di dalam surga. Semoga saya dan panjenengan yang membaca tulisan ini, kelak berkumpul bersama di dalam surga. Jangan lupa untuk mengucapkan : "Aamiiiiiin".

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah Kulonprogo
Malam tanggal 17 Agustus 2016

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
http://tlgrm.me/kajianislamlendah
Channel khusus renungan :
@renunganikhwan
Versi blog :
http://bit.ly/28Xsxk5
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim