Fiqih Qurban (Kumpulan Artikel, Fatwa, dan Tanya Jawab)

Download pdf Fiqih Qurban (Kumpulan Artikel, Fatwa, dan Tanya Jawab)

Download e-book gratis format pdf

Judul buku : FIQIH QURBAN (KUMPULAN ARTIKEL, FATWA, DAN TANYA JAWAB)

Link download : https://archive.org/download/arsip/pdf/fiqih%20qurban.pdf

Ukuran file : 785KB

Jumlah hal. : 85

Update : 1 Dzulqa’dah 1437H - 04/08/2016

Penyusun : tim ilmusyari.com

Deskripsi singkat : Kumpulan artikel, fatwa, dan tanya jawab yang membahas seputar fiqih qurban. Bagaimana panduan dan tata cara menyembelih hewan qurban, syarat syarat hewan untuk qurban, hukum - hukum dan berbagai permasalahan seputar pelaksanaan ibadah qurban.

--- 000 ---

Berikut kami sajikan versi online:

(Klik/tap JUDUL ARTIKEL pada DAFTAR ISI akan mengarahkan ke artikel terkait. Jika ingin kembali ke DAFTAR ISI, klik/tap tombol BACK)

DAFTAR ISI

DEFINISI, HUKUM, DAN KEUTAMAAN QURBAN

Definisi Udhiyyah

Dalil Disyariatkannya Qurban

Keutamaan Berqurban

Hukum Menyembelih Qurban

Fatwa Ulama tentang Hukum Berkurban

Hukum Orang yang Mampu Namun Tidak Pernah Berkurban

Lebih Utama Mana : Menyembelih Qurban atau Bershadaqah Senilai Harga Qurban?

Bolehkah Aqiqah Sekaligus Qurban?

Mana yang Harus Didahulukan antara Qurban dan Aqiqah?

 

PIHAK YANG BERKURBAN

Bolehkah Satu Ekor Domba Untuk Seseorang Dan Keluarganya?

Hukum Memperbanyak Udhhiyyah (Hewan Qurban) Dalam Satu Rumah

Bolehkah Menyembelih Dua Ekor Kambing untuk Diri dan Keluarga Serta Kaum Muslimin

Bolehkah Menyembelih Lebih dari Satu Hewan Qurban dan Hukum Berserikat dalam Seekor Kambing

Bolehkah Satu Keluarga Berkurban dengan Dua Ekor Kambing?

Seseorang Menikahi 2 Istri. Istri Pertama Tinggal Bersamanya, Sedang Istri Ke-2 Bersama Keluarganya. Apakah Berkurban dengan 1 atau 2 Kurban?

3 Bersaudara Tinggal Serumah, Memiliki Penghasilan Masing-masing dan Semuanya Telah Menikah. Bolehkah Satu Kurban untuk Seluruhnya?

Seorang Ayah Tinggal Bersama 3 Anaknya yang Sudah Menikah di Rumahnya dan Masing-masing Memiliki Satu Bagian Terpisah di Rumah, Bolehkah Berkurban Hanya dengan Seekor Hewan Kurban?

Apakah Boleh Kurban Orang Tuaku Untukku (Juga) dan Istri Serta Anak-Anakku?

Bolehkah Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?

Bagaimana Hukum Berkurban untuk Orang Tua yang Masih Hidup

Bolehkah Berkurban Mengatasnamakan Mertua

 

LARANGAN MENGAMBIL BAGIAN TUBUH ORANG YANG HENDAK BERQURBAN

Hadits tentang Larangan Mengambil Bagian Tubuh Jika Hendak Berqurban

Jalur Periwayatan dan Kedudukan Hadits

Penjelasan Hadits

Hukum Larangan Mengambil Bagian Tubuh Jika Hendak Berqurban

Hikmah yang Terkandung

Wajibkah Menahan dari Memotong Kuku, Rambut, dan Kulit Ketika Berniat Qurban Meski Belum Menetapkan Hewan Qurban

Hukum Memotong Rambut Sebelum Qurban Karena Kebutuhan

 

PEROLEHAN HEWAN KURBAN

Hukum Seputar Perolehan Hewan Qurban

Bolehkah Kurang dari Tujuh Orang dalam Qurban Berserikat?

Patungan Serikat Qurban yang Diangsur, di Tengah Angsuran Ada Anggota yang Keluar

Apakah Boleh Qurban dengan Hutang yang Akan Dibayar Dengan Gaji?

Apa Hukum Hewan Qurban yang Dibeli dari Hutang

Tabungan untuk Bayar Hutang Lebih Utama Dipakai Melunasi Hutang atau Berqurban?

Bolehkah Qurban dengan Cara Arisan

Hukum Hewan Qurban Pemberian Instansi Pemerintah/Swasta

 

SIFAT HEWAN YANG DIQURBANKAN

Memilih Hewan Kurban

Ketentuan Hewan Qurban

Umur Hewan Qurban

Hewan Qurban yang Afdhal Baik Jenis atau Sifatnya

Afdhal Mana : Kualitas Hewan Qurban atau Kuantitasnya?

 Afdhal Mana: Kambing yang Kurus atau Serikat Sapi yang Gemuk?

Cacat yang Menghalangi Keabsahan Hewan Qurban

Cacat yang Tidak Mempengaruhi Keabsahan Hewan Qurban

Hewan Qurban yang Makruh

Hukum Berqurban dengan Hewan yang Kuping atau Tanduknya Terpotong

Bolehkah Menyembelih Hewan yang Dikebiri untuk Berqurban?

Sahkah Kambing yang Pilek Disembelih?

Sahkah Hewan Qurban yang Tidak Diketahui Sakitnya?

Bolehkah Dipakai Qurban, Kambing yang Tanduknya Tiba-tiba Patah

Sahkah Sapi yang Hidungya Dipasang Tali untuk Qurban?

 

HUKUM SEPUTAR HEWAN QURBAN

Cara Menetapkan Hewan Qurban

Jika Hewan Mengalami Cacat yang Mengakibatkan Tidak Sah untuk Diqurbankan

Jika Hewan Qurban Hilang atau Dicuri

Jika Hewan Qurban Mati

Hukum-hukum Seputar Hewan Qurban

Bolehkah Mengambil Sperma Kambing yang Sudah Ditetapkan Sebagai Hewan Qurban

Bolehkah Hewan Qurban Dinomori Menggunakan Cat?

Hewan Qurban di Punggungnya Ada Cap atau Nomor Permanen Apakah Perlu Diganti

 

TEMPAT BERQURBAN

Dimana Seseorang Berqurban

Hukum Menyembelih Hewan Qurban di Negeri Lain

Bolehkah Orang yang Tinggal di Negeri Asing Mengirim Uang Seharga Hewan Qurban Kepada Anak-anaknya di Negeri Asalnya

Bolehkah Menyembelih Hewan Qurban di Masjid?

 

WAKTU PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN

Awal Waktu

Akhir Waktu

Menyembelih di Waktu Siang atau Malam?

 

SIFAT DAN TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN

Tata Cara Menyembelih Hewan Qurban

Lupa Basmalah, Apakah Hewan Qurban Boleh Dimakan?

Siapa yang Berhak Menyembelih Qurban Sapi yang Berserikat

Perlukah Disebutkan Nama-nama Orang dalam Penyembelihan Berserikat 7 Orang

Bolehkah Menyembelih Qurban Menggunakan Samurai atau Pedang

 

PEMBAGIAN DAGING QURBAN DAN HASIL QURBAN

Yang Dimakan dan Yang Dibagikan dari Hewan Qurban

Daging Kurban Dibagikan Ketika Sudah Dimasak atau Mentah

Adakah Dalil tentang Pembagian Daging Qurban Menjadi 3 Bagian?

Hukum Mengambil Sebagian Daging Qurban untuk Dimakan Bersama

Bolehkah Daging Hewan Qurban Dijadikan Makanan Walimatul 'Ursy

Bolehkah Mengumpulkan Kulit Hewan Qurban Untuk Pembangunan Masjid dan Semisalnya

Hukum Menjual Kulit Qurban dan Menukar dengan Daging

Bolehkah Menjual Kulit Qurban untuk Dibelikan Hewan Qurban Lagi?

 

HADITS HADITS LEMAH SEPUTAR IBADAH QURBAN

Kesempurnaan Sembelihan

Sembelihan Dikhususkan Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Pahala di Setiap Rambut Hewan Qurban Bagi yang Berqurban

Hewan Qurban Adalah Tunggangan di Atas Shirath

Darah Sembelihan Jatuh di Tempat Penyimpanan Allah

 

NASEHAT BAGI YANG AKAN MENYEMBELIH QURBAN

 

DEFINISI, HUKUM, DAN KEUTAMAAN QURBAN

Definisi Udhiyyah[1]

Al-Imam Al-Jauhari rahimahullah menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:
1. Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ
2. Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ
Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).
3. ضَحِيَّةٌ dengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا

  1. أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى

    Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil. Dikatakan secara bahasa:

ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ مُضَحٍّ

Al-Qadhi rahimahullah menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”
Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi   dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)

Dalil Disyariatkannya Qurban[2]

Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.

Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.

Asy-Syinqithi dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa …. menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”

Juga keumuman firman Allah :

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”

Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَـحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)

Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik:

ضَحَّى رَسُولُ اللهِ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَـحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَـمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا

“Rasulullah berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)

Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi dalam Adhwa`ul Bayan (3/470), juga Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam Fathur Rabbil Wadud (1/370). Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya.

Keutamaan Berqurban[3]

Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:

  1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah, sebagaimana yang telah lewat penyebutannya dalam firman Allah surat Al-Hajj ayat 36.
  2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah, karena beliau telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.
  3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah berfirman:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)

Juga firman-Nya:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah, janji, perintah, serta keutamaan-Nya….”

Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)

Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah….”

Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat….”

Hukum Menyembelih Qurban[4]

Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah, Rasulullah bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)

Sisi pendalilannya, Rasulullah menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ

“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah)

Fatwa Ulama tentang Hukum Berkurban[5]

Fatwa-Fatwa Tentang Hukum Berkurban Oleh Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu 'Utsaimin 'alaihima rahmatullah

بسم الله الرحمن الرحيم

?Hukum berkurban bagi yang punya kemampuan

Berkata Ibnu Baaz rahimahullah

(Hukumnya) sunnah mu'akkadah (sunnah yang ditekankan). Disyariatkan bagi laki-laki dan wanita. Dan seorang lelaki bisa (niat berkurban untuk dirinya) dan anggota keluarganya. Demikian pula seorang wanita dan anggota keluarganya.

Majmu' Fatawa 18-38

--- 000 ---

Berkata Ibnu 'Utsaimin rahimahullah:

Berkurban (hukumnya) sunnah muakkadah bagi yang mampu. Dan seseorang bisa berkurban untuk dirinya dan anggota keluarganya.

Majmu' Al Fatawa 10-25

ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻣﺘﻨﻮﻋﺔ ﻓﻲ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﺨﻴﻦ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺣﻜﻢ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻣﻊ ﺍﻻﺳﺘﻄﺎﻋﺔ؟

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

ﺳﻨﺔ ﻣﺆﻛﺪﺓ ﺗﺸﺮﻉ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﺗﺠﺰﺉ ﻋﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻪ، ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻬﺎ .

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ 38-18

--- 000 ---

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﺳﻨﺔ ﻣﺆﻛﺪﺓ ﻟﻠﻘﺎﺩﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻓﻴﻀﺤﻲ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻪ .

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ - 25-10

Alih bahasa: al-Ustadz Abdul 'Aziz as Samarindy hafizhahullah

Hukum Orang yang Mampu Namun Tidak Pernah Berkurban[6]

Tanya:

Kalau ada orang, dia mampu berkurban, tapi dia tidak pernah berkurban. Apa hukum bagi orang ini?

Jawab:

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Hukumnya sunnah.

Lebih Utama Mana : Menyembelih Qurban atau Bershadaqah Senilai Harga Qurban?[7]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

“Menyembelih hewan qurban LEBIH UTAMA.

Jika ada seseorang bertanya, ‘saya punya lima ratus riyal, mana yang lebih utama: aku gunakan untuk bershadaqah ataukah berqurban?

Kami jawab: yang LEBIH UTAMA adalah engkau gunakan untuk berqurban.

Jika dia mengatakan, ‘kalau uang tersebut saya gunakan untuk membeli daging, maka akan dapat empat atau lima kali lebih banyak daripada harga seekor kambing. Apakah ini lebih utama ataukah berqurban?

Kami jawab, Yang LEBIH UTAMA adalah kamu berqurban.

Jadi menyembelih hewan qurban senilai itu LEBIH UTAMA daripada bershadaqah dengan nilai harga tersebut, dan LEBIH UTAMA daripada membeli daging senilai uang tersebut atau lebih untuk dishadaqahkan.

Yang demikian itu karena MAKSUD TERPENTING dari pelaksanaan Qurban adalah TAQARRUB KEPADA ALLAH TA’ALA dengan menyembelih hewan qurban tersebut.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala (artinya) : “Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darahnya, namun yang akan sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan dari kalian.”

Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, al-‘Utsaimin rahimahullah (Kitab al-Manasik)

Bolehkah Aqiqah Sekaligus Qurban?[8]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Aqiqah TIDAK BISA MENGGANTIKAN Qurban, dan Qurban TIDAK BISA MENGGANTIKAN aqiqah.

Kalau anak yang dilahirkan, hari ketujuhnya bertepatan dengan hari Iedul Adha, maka yang lebih benar adalah dia harus menyembelih untuk qurban dan aqiqah dengan dua kambing, karena masing-masing merupakan ibadah yang dimaksudkan (sebagai ibadah tersendiri)”

Dikutip dari “al-Kanzu ats-Tsamin fii Su’alaat Ibni Sunaid li Ibni ‘Utsaimin” hal 135.

Mana yang Harus Didahulukan antara Qurban dan Aqiqah?[9]

PERTANYAAN :

Diantara berkurban dan aqiqoh waktunya bersamaan/ berdekatan, dan kemampuan kita hanya bisa melakukan salah satu dari keduanya dari ibadah tersebut. Mana yang harus didahulukan?

JAWABAN  (Oleh: Al Ustadz Qomar Su’aidi)

Wallahu a’lam, ibadah kurban yang didahulukan, karena aqiqoh waktunya memanjang. Ibnul qoyyim mengatakan bahwa hari ketujuh adalah sunnah, dan nabi mengaqiqohi dirinya setelah menjadi nabi/ setelah berumur 40tahun, dari riwayat yg dishahikan syaikh Albani.

 

PIHAK YANG BERKURBAN

Bolehkah Satu Ekor Domba Untuk Seseorang Dan Keluarganya?[10]

Berkata al-‘Allamah Ibnu Baaz rohimahulloh :

“Dibolehkan satu domba dari seorang dan keluarganya; karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau selalu berkurban setiap tahunnya dengan 2 ekor domba yang bercorak hitam dan bertanduk yang disembelih salah satu dari kedua domba tersebut darinya dan dari keluarganya”.

Majmu’ al-Fatawa (25/10)

--- 000 ---

Syaikh Muqbil Al-Wadi’y rohimahulloh pernah ditanya :

“Apabila mereka sebuah keluarga maka apakah boleh mereka berkurban dengan satu domba?”

Jawab :

“Iya, boleh bagi mereka satu domba dan telah diterangkan di dalam “al-Ilzamat” karya Daruquthni bahwa sebagian sahabat mengatakan : kami berkurban dengan seekor domba dan tetangga kami masih terus kikir kepada kami.

Maka iya, dibolehkan seekor domba dari satu keluarga dan dari satu keluarga yang nafkahnya adalah satu.

Dan yang shahih (hukumnya) bukan wajib, sedangkan hadits:

«مَنْ لَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا»

“Barangsiapa tidak berkurban maka jangan mendekat tempat sholat kami“

Maka hadits tersebut adalah dho’if (lemah), akan tetapi teriwayatkan tentang motivasi untuk berkurban”.

Qom’ul mu’anid (2/367)

Alih bahasa: al-Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu Abduh

هل تجزئ الشاة عن الرجل وأهل بيته ؟

: قال ابن باز

.تجزئ الشاة الواحدة عن الرجل وأهل بيته؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي كل سنة بكبشين أملحين أقرنين يذبح أحدهما عنه وعن أهل بيته، والثاني عمن وحد الله من أمته

(مجموع الفتاوى (18/38

--- 000 ---

 وأما إذا كانوا أسرة فهل تجزء عنهم شاة ؟

.نعم تجزئ عنهم شاة فقد جاء في < الإلزامات > للدار قطني أن بعض الصحابة يقول : كنا نضحي بالشاة فما زال جيراننا يبخلوننا

.فنعم تجزء الشاة عن أهل البيت الواحد وعن الأسرة الواحدة التي نفقتها واحدة

.والصحيح أنها ليست بواجبة ، وحديث : من لم يضحي فلا يقربن مصلانا ، فهو حديث ضعيف ، لكن ورد الترغيب في الأضحية

(2/367) قمع المعاند

Hukum Memperbanyak Udhhiyyah (Hewan Qurban) Dalam Satu Rumah[11]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

“Apakah termasuk sunnah memperbanyak udhiyyah (hewan qurban) dalam satu rumah?”

Jawab :

“Yang sunnah adalah TIDAK BERMEGAH-MEGAHAN dalam udhiyyah dengan banyaknya jumlah. Karena ini termasuk BERLEBIHAN.

Karena di kalangan sebagian manusia sekarang: kamu dapati seorang suami menyembelih qurban untuk dirinya dan keluarganya sebagaimana dulu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian juga Salafush Shalih juga melakukan itu.

Namun kemudian istrinya mengatakan, “aku juga ingin berqurban sendiri.”

Anak perempuannya juga mengatakan, “Aku juga ingin berqurban.”

Saudari perempuannya juga mengatakan, “Aku juga ingin berqurban.”

Sehingga terkumpullah banyak hewan qurban dalam satu rumah. Ini menyelisihi apa yang diamalkan oleh para Salafush Shalih. Karena makhluk termulia Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam tidaklah berqurban kecuali seekor kambing diperuntukkan bagi beliau dan keluarganya.

Sebagaimana yang sudah diketahui, bahwa beliau memiliki sembilan isteri, yakni berarti ada sembilan rumah. MESKIPUN DEMIKIAN, BELIAU TIDAKLAH BERQURBAN KECUALI SEEKOR KAMBING diperuntukkan bagi beliau dan keluarganya. kemudian beliau berqurban seekor lagi, diperuntukkan bagi umatnya.

Demikian pula dulu di kalangan para sahabat pun, seseorang berqurban dengan seekor kambing diperuntukkan baginya keluarganya.

Maka apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada hari ini, maka itu adalah PEMBOROSAN.

Kami katakan kepada mereka yang berqurban dengan cara tersebut: ‘jika kalian memiliki kelebihan uang, maka di sana masih banyak kaum muslimin di muka bumi yang sangat membutuhkannya.’

dari Silsilah Liqa Al-Bab al-Maftuh, Al-Imam Al-‘Utsaimin, kaset no 92.

Bolehkah Menyembelih Dua Ekor Kambing untuk Diri dan Keluarga Serta Kaum Muslimin[12]

TANYA :

Disebutkan dalam hadits bahwa rasulullah menyembelih dua ekor kambing, satu ekor untuk beliau beserta keluargnya, satu ekor untuk ummatnya. Pertanyaan saya, apakah orang yang punya kelebihan harta boleh menyembelih dua ekor? Dengan maksud Satu ekor untuknya beserta keluarganya dan satu ekor untuk kaum muslimin.

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Sudah kita sebutkan bahwa menyembelih untuk kaum muslimin, atau yang tidak menyembelih dari ummatku, ini kekhususan rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Ini kekhususan rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dijelaskan oleh syaikh Al Albany rahimahullah, dalam irwa 'al ghalil. Jadi tidak boleh selain rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika menyembelih "Ya Allah terimalah ini dari siapapun dari kaum muslimin yang tidak menyembelih". Ini kekhususan rasulullah 'alaihi shallatu wasallam.

Bolehkah Menyembelih Lebih dari Satu Hewan Qurban dan Hukum Berserikat dalam Seekor Kambing[13]

Apakah boleh bagi seorang yang mampu untuk menyembelih lebih dari satu hewan qurban untuk dirinya?

Karena ada hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas?

Apakah boleh suami dan istrinya berserikat pada satu hewan qurban, dari suaminya separuh dan dari istrinya separuh?

Dari dua hal di atas, mana yang sebaiknya dilakukan oleh seseorang?

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab:

Yang afdhal (lebih utama) adalah seseorang tidak berqurban melebihi satu ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya.

Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dulu berqurban dengan satu ekor kambing untuk beliau dan keluarga beliau.

Sudah dimaklumi bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling mulia dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling besar kecintaannya untuk beribadah kepada Allah dan mengagungkan-Nya.

Adapun fakta bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas, maka kambing yang kedua itu bukan diperuntukkan bagi keluarga dan ahli bait beliau, tetapi diperuntukkan bagi umat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Atas dasar ini, maka yang afdhal (lebih utama) adalah mencukupkan dengan satu ekor kambing untuk seseorang dan keluarganya. Lalu barang siapa yang memiliki kelebihan harta, maka hendaklah dia menginfakkan dirham atau makanan atau yang semisalnya di negeri lain yang membutuhkan atau untuk orang-orang di negerinya yang membutuhkan.

Karena setiap negeri tidaklah lepas dari adanya orang-orang yang membutuhkan.

Selanjutnya, jika seorang laki-laki dan istrinya berserikat dalam membeli seekor kambing, maka ini TIDAK SAH. Karena sesungguhnya tidak boleh dua orang berserikat dalam membeli hewan qurban satu ekor kambing. Hanyalah diperbolehkan berqurban bersama sejumlah orang pada unta dan sapi. Pada unta boleh berqurban bersama dengannya tujuh orang, demikian pula sapi boleh tujuh orang. Adapun kambing, maka tidak boleh untuk dua orang berqurban bersama berserikat sama sekali.

Namun dalam pahala qurban satu ekor kambing tersebut, tidak ada batasan. Boleh baginya mengatakan,

“Ya Allah ini dariku dan istriku,”

atau,

“dariku dan keluargaku.”

Tetapi jika masing-masing dari suami istri membayar separuh harga untuk membeli satu hewan qurban berupa kambing, maka ini TIDAK SAH.

Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibn ‘Utsaimin (25/46)

 

 

 

 

Bolehkah Satu Keluarga Berkurban dengan Dua Ekor Kambing?[14]

TANYA :

Apakah diperbolehkan, dalam satu keluarga berkurban dengan dua ekor kambing, yang satu untuknya, yang satu lagi untuk istrinya?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin rahimahullah, bahwa untuk satu keluarga cukup satu ekor kambing. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing karena yang satunya itu untuk ummatnya seluruhnya. Jadi cukup satu ekor kambing itu sudah mencakup istrinya, anak-anaknya, dan siapa saja dari keluarganya yang ada di dalam rumah tangganya tersebut. Itu sudah mencukupi, jadi tidak perlu lebih dari satu ekor kambing. Berbeda dengan sapi atau unta, sapi, unta boleh patungan bertujuh misalnya. Bertujuh, yang satunya suaminya, yang satunya lagi bagian buat istrinya, yang satunya lagi bagian buat anaknya, itu boleh. Karena untuk sapi diperbolehkan patungan. Namun Asy Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan adapun untuk kambing cukup satu ekor kambing untuk satu keluarga, wallahu ta'ala a'lam bishawab.

Seseorang Menikahi 2 Istri. Istri Pertama Tinggal Bersamanya, Sedang Istri Ke-2 Bersama Keluarganya. Apakah Berkurban dengan 1 atau 2 Kurban?[15]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh :

“Kurban di rumah yang dia tempati sudah mencukupi, karena dia (yakni istri ke-2, pent) adalah keluarganya sekalipun dia tinggal bersama keluarganya (orang tuanya, pent).”

Majmu’ al-Fatawa (25/43)

Alih bahasa: al-Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu Abduh

رجل متزوج بزوجتين الأولى عنده والأخرى عند أهلها هل يلزم أضحية أم أضحيتين ؟

: قال ابن عثيمين

.الأضحية في البيت الذي هو فيه تكفي لأنها من أهله وإن كانت هي عند أهلها

(مجموع الفتاوى (25/43

3 Bersaudara Tinggal Serumah, Memiliki Penghasilan Masing-masing dan Semuanya Telah Menikah. Bolehkah Satu Kurban untuk Seluruhnya?[16]

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh :

Apabila makanan mereka satu dan makan bersama, maka satu kurban mencukupi bagi mereka, yang paling tua berkurban dari dirinya dan dari orang-orang yang ada di rumahnya.

Dan adapun jika setiap masing-masing memiliki makanan sendiri (dapur tersendiri), maka di sini setiap masing-masing nya berkurban.

Majmu’ al-Fatawa (25/42)

ثلاثة أخوة في بيت لهم رواتب وكلهم متزوج فهل تجزئهم أضحية واحدة أم لكل واحد أضحية ؟

: قال ابن عثيمين

.أ- إذا كانطعامهم واحدًا وأكلهم واحدًا فإن الواحدة تكفيهم، يضحي الأكبر عنه وعمن في بيته

.ب- وأما إذا كان كل واحد له طعام خاص (مطبخ خاص به) فهنا كل واحد منهم يضحي

(مجموع الفتاوى (25/42

Seorang Ayah Tinggal Bersama 3 Anaknya yang Sudah Menikah di Rumahnya dan Masing-masing Memiliki Satu Bagian Terpisah di Rumah, Bolehkah Berkurban Hanya dengan Seekor Hewan Kurban?[17]

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh :

“Yang saya lihat bahwa atas setiap rumah satu kurban karena bagi setiap masing-masing nya ada rumah tersendiri”.

Majmu’ al-Fatawa (25/38)

Alih bahasa: al-Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu Abduh

أب يسكن معه في بيته ثلاثة أبناء متزوجون، ولكل واحد منهم جزء مستقل في البيت فهل تجزئ أضحية واحدة عنهم ؟

: قال ابن عثيمين

الذي أرى أن على كل بيت أضحيةلأن لكل بيت مستقل

(مجموع الفتاوى   (25/38

Apakah Boleh Kurban Orang Tuaku Untukku (Juga) dan Istri Serta Anak-Anakku?[18]

Berkata imam Bin Baaz rohimahulloh :
“Jika Anda berada pada suatu rumah terpisah (dari orang tua) wahai penanya maka sesungguhnya yang disyariatkan bagi Anda ialah untuk Anda berkurban dari Anda dan keluarga Anda, maka tidak cukup bagi Anda dengan kurban orang tua Anda (yang ditujukan) dari dirinya dan dari keluarganya karena Anda tidak (tinggal) bersama mereka dalam satu rumah”.

Majmu’ al-Fatawa (18/37)

Alih bahasa: al-Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu Abduh

 هل تجزئ أضحية الوالد عني وعن زوجتي وأولادي ؟

: قال ابن باز

.إذا كنت في بيت مستقل أيها السائل فإنه يشرع لك أن تضحي عنك وعن أهل بيتك، ولا تكفي عنك أضحية والدك عنه وعن أهل بيته لأنك لست معهم في البيت

(مجموع الفتاوى (18/37

Bolehkah Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?[19]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikut, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-4Siapat. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)

Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:

  1. Bila sang mayit pernah bernadzar sebelum wafatnya, maka nadzar tersebut dipenuhi karena termasuk nadzar ketaatan.
  2. Bila sang mayit berwasiat sebelum wafatnya, wasiat tersebut dapat terlaksana dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta sang mayit. (Lihat Syarh Bulughil Maram, 6/87-88 karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Hadits yang menunjukkan kebolehan berqurban atas nama sang mayit adalah dhaif. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2790) dan At-Tirmidzi (no. 1500) dari jalan Syarik, dari Abul Hasna`, dari Al-Hakam, dari Hanasy, dari ‘Ali bin Abi Thalib. Hadits ini dhaif karena beberapa sebab:

  1. Syarik adalah Ibnu Abdillah An-Nakha’i Al-Qadhi, dia dhaif karena hafalannya jelek setelah menjabat sebagai qadhi (hakim).
  2. Abul Hasna` majhul (tidak dikenal).
  3. Hanasy adalah Ibnul Mu’tamir Ash-Shan’ani, pada haditsnya ada kelemahan walau dirinya dinilai shaduq lahu auham (jujur namun punya beberapa kekeliruan) oleh Al-Hafizh dalam Taqrib-nya.

Dan hadits ini dimasukkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (2/844) sebagai salah satu kelemahan Hanasy.

Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ

“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah ….” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah)

Bagaimana Hukum Berkurban untuk Orang Tua yang Masih Hidup[20]

TANYA :

Bagaimana hukumnya berkurban buat orang tua yang masih hidup?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Kalau dia tinggal serumah, dan dia menafkahi, maka dengan satu ekor kambing, itu sudah cukup. Dia dan seluruh yang ada di rumahnya.

Bolehkah Berkurban Mengatasnamakan Mertua[21]

TANYA :

Bolehkah berkurban mengatasnamakan mertua dan keluarganya?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari hafizhahullah

Boleh

LARANGAN MENGAMBIL BAGIAN TUBUH ORANG YANG HENDAK BERQURBAN[22]

Hadits tentang Larangan Mengambil Bagian Tubuh Jika Hendak Berqurban

Dari Ummu Salamah, Rasulullah bersabada: ”Apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 25269, Al-Imam Muslim no. 1977, Al-Imam An-Nasa`i, 7 hal. 212, Al-Imam Abu Dawud 3/2793, Al-Imam At-Tirmidzi 3/1523, Al-Imam Ibnu Majah 2/3149, Al-Imam Ad-Darimi no. 1866. (CD Program, Syarh An-Nawawi cet. Darul Hadits)

Jalur Periwayatan dan Kedudukan Hadits

Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan Sa’id bin Musayyib dari Ummu Salamah. Dalam riwayat hadits ini terdapat seorang rawi yang diperselisihkan penyebutan namanya, yaitu ‘Umar bin Muslim Al-Junda’i. Ada yang menyebutnya ‘Umar bin Muslim dan ada pula yang menyebutnya ‘Amr bin Muslim.
Al-Imam An-Nawawi menerangkan, riwayat ‘Umar bin Muslim dari Sa’id bin Musayyab, pada nama عمر kebanyakan riwayat menyebutnya dengan mendhammah ‘ain (عُمر) ‘Umar, kecuali riwayat dari jalan Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani, menyebutkan dengan memfathah ‘ain (عَمرو) ‘Amr. Dan ulama menyatakan bahwa keduanya ada penukilannya. (lihat Syarh Al-Imam An-Nawawi, 7/155)
Sebaliknya, Al-Imam Abu Dawud   menyatakan, telah terjadi perselisihan dalam penyebutan ‘Amr bin Muslim. Sebagian menyatakan ‘Umar dan kebanyakan menyatakan ‘Amr. Beliau sendiri menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa dia adalah ‘Amr bin Muslim bin Ukaimah Al-Laitsi Al-Junda’i. (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/224, cet. Darul Hadits)
Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Qayyim   mengatakan: “Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan manusia terhadap hadits ini, baik dari sisi riwayat maupun dirayah (kandungan maknanya). Sebagian berkata: Tidak benar kalau hadits ini kedudukannya marfu’ (sampai kepada nabi), yang benar ialah mauquf (hanya sampai kepada sahabat).
Ad-Daruquthni berkata dalam kitab Al-‘Ilal: Telah meriwayatkan secara mauquf Abdullah bin ‘Amir Al-Aslami, Yahya Al-Qathan, Abu Dhamrah, semuanya dari Abdurrahman bin Humaid, dari Sa’id. ‘Uqail meriwayatkan secara mauquf sebagai ucapan Sa’id. Yazid bin Abdillah dari Sa’id dari Ummu Salamah, sebagai ucapan Ummu Salamah. Demikian pula Ibnu Abi Dzi`b meriwayatkan dari jalan Al-Harts bin Abdurrahman, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah, sebagai ucapannya. Abdurrahman bin Harmalah, Qatadah, Shalih bin Hassan, semuanya meriwayatkan dari Sa’id, sebagai ucapannya. Riwayat yang kuat dari Al-Imam Malik, menyatakan mauquf. Dan Al-Imam Ad-Daruquthni berkata: “Yang benar menurut saya adalah pendapat yang menyatakan mauquf.”
Pendapat kedua menyatakan yang benar adalah marfu’. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Al-Imam Muslim ibn Hajjaj, seperti yang beliau sebutkan dalam kitab Shahih-nya. Demikian pula Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Ibnu Hibban juga meriwayatkan dalam Shahih-nya.
Abu Bakr Al-Baihaqi berkata: “Hadits ini telah tetap/kuat sebagai hadits yang marfu’ ditinjau dari beberapa sisi. Di antaranya: Tidak mungkin orang yang seperti mereka (para ulama yang menshahihkan) salah. Al-Imam Muslim telah menyebutkan dalam kitabnya. Selain mereka juga masih ada yang menshahihkannya. Telah meriwatkan secara marfu’ Sufyan bin Uyainah dari Abdurahman bin Humaid dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi, dan Syu’bah dari Malik dari ‘Amr bin Muslim dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi ﷺ. Dan tidaklah kedudukan Sufyan dan Syu’bah di bawah mereka yang meriwayatkan secara mauquf. Tidaklah lafadz/ucapan hadits seperti ini merupakan ucapan dari para sahabat, bahkan terhitung sebagai bagian dari sabda Nabi ﷺ, seperti sabda beliau (لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian dan yang semisalnya.” (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/225 cet. Darul Hadits, Mesir)

Penjelasan Hadits

(إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ) artinya, apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Makna ini dipahami dari riwayat lain yang menyebutkan:

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْـحِجَّةِ

”Apabila kalian telah melihat hilal di bulan Dzulhijah.”
Atau:

فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْـحِجَّةِ

”Apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah”
(وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ) artinya, salah seorang di antara kalian ingin berqurban.
Pada sebagian riwayat terdapat tambahan lafadz (وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ), di sisinya (punya) hewan sembelihan. Pada lafadz yang lain (مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ), barangsiapa punya hewan sembelihan yang akan dia sembelih.
(فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا) artinya, janganlah sedikitpun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu) nya dan mengupas kulitnya.
Pada riwayat yang lain terdapat lafadz (فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفْرًا), Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kuku.
Pada lafadz yang lain:
(فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ) Hendaknya ia menahan dari memotong rambut dan kukunya.
Dalam lafadz yang lain:

فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kukunya sedikitpun, hingga ia menyembelih.

Hadits yang tersebut di atas membimbing kita, terutama bagi seorang muslim yang telah mempersiapkan hewan qurban untuk disembelih pada hari raya qurban atau setelahnya pada hari-hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzulhijjah). Apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, hendaknya ia menahan diri untuk tidak mencukur atau mencabut rambut/bulu apapun yang ada pada dirinya (baik rambut kepala, ketiak, tangan, kaki, dan yang lainnya). Demikian pula tidak boleh memotong kuku (tangan maupun kaki) serta tidak boleh mengupas kulit badannya (baik pada telapak tangan maupun kaki, ujung jari, tumit, atau yang lainnya). Larangan ini berlaku bagi yang memiliki hewan qurban dan akan berqurban, bukan bagi seluruh anggota keluarga seseorang yang akan berqurban. Larangan ini berakhir hingga seseorang telah menyembelih hewan qurbannya. Jika ia menyembelih pada hari yang kesepuluh Dzulhijjah (hari raya qurban), di hari itu boleh baginya mencukur rambut/memotong kuku. Jika ia menyembelih pada hari yang kesebelas, keduabelas, atau yang ketigabelas, maka di hari yang ia telah menyembelih hewan qurban itulah diperbolehkan baginya untuk mencukur rambut atau memotong kuku.

Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”
Ketika ‘Amr bin Muslim bertemu dengan Sa’id bin Musayyib, ia pun menceritakannya. Sa’id pun berkata: “Wahai anak saudaraku, hadits ini telah dilupakan dan ditinggalkan. Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Nabi telah bersabda, seperti hadits di atas”.
Kalau manusia di zaman beliau demikian keadaannya, bagaimana dengan di zaman kita sekarang?!
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang menghidupkan Sunnah Nabi-Nya dan bukan menjadikan sebagai orang yang memadamkan/mematikannya.

Hukum Larangan Mengambil Bagian Tubuh Jika Hendak Berqurban

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi larangan dalam perkara ini. Ada yang memahami sesuai dengan apa yang nampak dari lafadz hadits tersebut, sehingga mereka berpendapat haram bagi seseorang untuk melakukannya (wajib untuk meninggalkannya). Di antara mereka adalah Sa’id bin Musayyib, Rabi’ah bin Abi Abdirrahman, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan sebagian dari pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya berpendapat makruh (tidak dikerjakan lebih utama), bukan diharamkan. Dan yang berpendapat semisal ini adalah Al-Imam Malik dan sebagian pengikut Al-Imam Ahmad seperti Abu Ya’la dan yang lainnya.
Pendapat lain dalam hal ini adalah mubah (tidak mengapa melakukannya). Pendapat ini dianut oleh Abu Hanifah dan pengikutnya.

--- 000 ---

Sebagian orang ada yang memahami bahwa larangan mencukur rambut/bulu, memotong kuku, dan mengupas/mengambil kulit, kata ganti dalam hadits di atas (-nya – bulunya, kukunya, kulitnya) kembali kepada hewan yang akan disembelih.
Jika demikian, hadits di atas akan bermakna: “Apabila telah masuk 10 hari awal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian akan berqurban, maka janganlah ia mencukur bulu (hewan yang akan dia sembelih), memotong kuku (hewan qurban), dan jangan mengupas kulit (hewan qurban).”
Tentunya bukanlah demikian maknanya. Makna ini juga tidak selaras dengan hikmah yang terkandung di dalam hadits itu sendiri.

Hikmah yang Terkandung

Disamping sebagai salah satu bentuk ketaatan dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ, hikmah dari larangan tersebut adalah agar seseorang tetap utuh anggota badannya kala ia akan dibebaskan dari panasnya api neraka.
Sebagian ada yang berpendapat, hikmahnya adalah agar seorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau diserupakan dengan seorang yang telah berihram, sehingga mereka juga dilarang dari mencukur rambut, memotong kuku, mengupas kulit, dan sebagainya.
Namun pendapat terakhir ini ada yang tidak menyetujuinya, dengan alasan, bagaimana diserupakan dengan seorang yang menunaikan haji, sementara ia (orang yang akan berqurban) tidak dilarang dari menggauli istrinya, memakai wewangian, mengenakan pakaian dan yang lainnya. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/224-226, cet. Darul Hadits, Syarh An-Nawawi 7/152-155, cet. Darul Hadits)

Wajibkah Menahan dari Memotong Kuku, Rambut, dan Kulit Ketika Berniat Qurban Meski Belum Menetapkan Hewan Qurban[23]

TANYA :

Seseorang telah berniat untuk berkurban, tetapi dia belum menetapkan hewan kurban yang akan dia kurbankan. Bahkan dia belum memiliki hewan kurban kecuali tanggal 8 atau 9 dzulhijjah. Apakah telah wajib baginya menahan diri dari memotong kuku, rambut, dan kulitnya ketika telah memasuki dzulhijjah?

JAWAB :

Oleh Ustadz Askari hafizhahulloh

Iya, sekedar niat keinginan untuk berkurban, dia harus menahan diri begitu memasuki 1 dzulhijjah meskipun dia belum menetapkan hewan kurban.

Hukum Memotong Rambut Sebelum Qurban Karena Kebutuhan[24]

TANYA :

Bagaimana hukumnya jika seorang hendak berkurban, namun di sepuluh hari pertama dzulhijjah dia kecelakaan, dan di bagian kepala terluka sehingga diharuskan memotong rambutnya?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Tidak mengapa, karena ada kebutuhan.

PEROLEHAN HEWAN KURBAN

Hukum Seputar Perolehan Hewan Qurban[25]

  1. Diperbolehkan berqurban dari harta anak yatim bila secara kebiasaan mereka menghendakinya. Artinya, bila tidak disembelihkan qurban, mereka akan bersedih tidak bisa makan daging qurban sebagaimana anak-anak sebayanya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/427)
    2. Diperbolehkan bagi seseorang berhutang untuk berqurban bila dia mampu untuk membayarnya. Sebab berqurban adalah sunnah dan upaya menghidupkan syi’ar Islam. (Syarh Bulugh, 6/84, bagian catatan kaki)
    Al-Lajnah Ad-Da`imah juga mempunyai fatwa tentang diperbolehkannya menyembelih qurban walaupun belum dibayar harganya. (Fatawa Al-Lajnah, 11/411 no. fatwa 11698)
    3. Dipersyaratkan hewan tersebut adalah miliknya dengan cara membeli atau yang lainnya. Adapun bila hewan tersebut hasil curian atau ghashab lalu dia sembelih sebagai qurbannya, maka tidak sah.

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Dzat yang baik tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim no. 1015 dari Abu Hurairah)
Begitu pula bila dia menyembelih hewan orang lain untuk dirinya, seperti hewan gadaian, maka tidak sah.
4. Bila dia mati setelah men-ta’yin hewan qurbannya, maka hewan tersebut tidak boleh dijual untuk menutupi hutangnya. Namun hewan tersebut tetap disembelih oleh ahli warisnya.

Bolehkah Kurang dari Tujuh Orang dalam Qurban Berserikat?[26]

TANYA :

Apakah ketika patungan sapi atau unta harus tujuh orang? Apakah boleh kurang dari tujuh orang?

 

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Tujuh orang itu maksimal. Boleh enam orang, lima orang, empat orang, tiga orang, dua orang. Itu maksimal tujuh orang.

Patungan Serikat Qurban yang Diangsur, di Tengah Angsuran Ada Anggota yang Keluar[27]

TANYA :

Di tempat ana kerja, ada patungan kurban sapi yang diangsur 12 bulan per orang. Pada awalnya tujuh orang lengkap, namun pada angsuran ke delapan, ada dua orang yang keluar dan susah dihubungi. Kemudian dari anggota yang ada, punya inisiatif untuk menambah kekurangan tersebut atas nama orang yang telah keluar tersebut. Bagaimana menurut hukum kurban?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Yang jelas, maksimal tujuh orang. Apabila tujuh orang yang memiliki sah, lebih tidak diperbolehkan.

Apakah Boleh Qurban dengan Hutang yang Akan Dibayar Dengan Gaji?[28]

Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullaah berkata :

“Tidak mengapa bagi seorang Muslim berhutang untuk melakukan kurban jika dia mempunyai kemampuan untuk membayarnya.”

Majmu’ Al-Fatawa (18/38)

--- 000 ---

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah berkata :

Seorang faqir yang dia tidak mempunyai sesuatu di tangannya ketika datangnya Iedul Adha tetapi dia mempunyai pandangan penghasilan setelah datangnya Iedul Adha, seperti seseorang yang mempunyai gaji bulanan, maka baginya tidak mengapa untuk berhutang dan berkurban kemudian melunasi.

Adapun jika seandainya dia tidak mempunyai pandangan untuk melunasi dalam waktu dekat, maka kami tidak berpendapat ini sebagai perbuatan yang mustahab baginya berhutang untuk berkurban, karena ini akan menyibukan dirinya dengan hutang.

Majmu’ Al-Fatawa (25/110)

Alih bahasa: Abu Bakar Fahmi bin Abi Bakar Jawwas.

أحكام مختصرة في الأضحية

للشيخين ابن باز والعثيمين رحمهما الله

الاستدانة من أجل الأضحية

هل يجوز أخذ الأضحية دينا على الراتب ؟

: قال ابن باز

.لا حرج أن يستدين المسلم ليضحي إذا كان عنده قدرة على الوفاء

(مجموع الفتاوى (18/38

--- 000 ---

: وقال ابن عثيمين

الفقير الذي ليس بيده شيء عند حلول عيد الأضحى لكنه يأمل أن يحصل كإنسان له راتب شهري فهذا له أن يستقرض ويضحي ثم يوفي

.أما إذا كان لا يأمل الوفاء عن قريب فلا نستحب له أن يستقرض ليضحي لأن هذا يستلزم إشغال ذمته بالدين

(مجموع الفتاوى (25/110

Apa Hukum Hewan Qurban yang Dibeli dari Hutang[29]

TANYA :

Apa hukum hewan kurban yang dibeli dengan uang hasil meminjam dengan janji akan dibayar nanti kala ada uang, jazakallahu khoir.

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Dinasehatkan untuk tidak berhutang, dinasehatkan untuk tidak jangan berhutang, jangan meminjam. Jadi kalau tidak cukup dana untuk berkurban, tidak usah, tidak wajib. Jangan memaksakan diri, kalau memang tidak punya kemampuan, maka tidak perlu berkurban, menyiksa diri. Selesai berkurban, dia harus memikirkan bagaimana cara menutup hutangnya. Kecuali kalau dia menganggap dirinya mampu dengan mudah mampu melunasi hutangnya. Hanya pada saat itu saja, dia lagi pas tidak ada. Tapi mudah bagi dia untuk melunasinya, maka diharapkan, tidak mengapa insya Allahu Ta'ala.

Tabungan untuk Bayar Hutang Lebih Utama Dipakai Melunasi Hutang atau Berqurban?[30]

TANYA :

Fulan punya tabungan untuk bayar hutang. Mending dibayarkan dulu atau dipakai kurban qurban dulu, mana yang lebih utama?

JAWAB  (Oleh: Al Ustadz Qomar Su’aidi) :

Kalau dia sudah sampai pada tanggal waktunya penyembelihan dan uang masih pada dia, ya wallahu a’lam beli. Kemudian dan tentunya afwan ini terkait waktu pembayaran (hutang) juga kan. Dilihat ini waktu pembayarannya kapan, temponya kapan, kalau masih ada kelonggaran dan mungkin membayar kembali pada hukum tadi, beli kurban, sembelih! Tapi kalau dia sudah jatuh tempo, ya bayarkan (hutangnya). Atau misalnya dia punya begini kemudian belum waktunya kurban masih tanggal-tanggal sekian, bayarkan (hutang). Itu lebih cepat menghilangkan kewajiban. Kok ternyata nanti waktu kurban belum punya duit, Allah nggak wajibkan atas kamu, begitu.

Bolehkah Qurban dengan Cara Arisan[31]

PERTANYAAN :

Bolehkah berkurban dengan cara arisan?

JAWABAN  (Oleh: Al Ustadz Qomar Su’aidi)

Perlu adanya perincian.

Dasar diperbolehkannya arisan adalah nominal uang yang kita bayarkan dan nominal uang yang kita terima nominalnya sama Kalo dia ikut arisan hanya untuk hewannya saja maka jangan. Karena dasar diperbolehkannya arisan adalah nominal uang yang kita bayarkan dan nominal uang yang kita terima nominalnya sama. Masalah hewannya bisa beli sendiri, atau dibelikan.

Hukum Hewan Qurban Pemberian Instansi Pemerintah/Swasta[32]

TANYA :

Apa hukumnya hewan kurban pemberian instansi pemerintah/swasta untuk dikurbankan di daerah/kampung? Atas nama siapa hewan tersebut dikurbankan?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Ya dijelaskan, siapa ini, milik siapa? Tidak mungkin "Bismillah, Allahu Akbar, ya Allah, terimalah ini dari Chevron, (misalnya)". Chevron bukan manusia, dan tidak dibalas pahala di akhirat, jadi harus jelas siapa itu pemiliknya. Kalau seluruh karyawan ya bukan kurban namanya.

 

SIFAT HEWAN YANG DIQURBANKAN

Memilih Hewan Kurban[33]

Perlu dipahami bahwa berqurban tidaklah sah kecuali dengan hewan ternak yaitu unta, sapi, atau kambing. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (Al-Hajj: 28)

Juga firman-Nya:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34)

Dan yang paling afdhal menurut jumhur ulama adalah unta (untuk satu orang), kemudian sapi (untuk satu orang), lalu kambing (domba lebih utama daripada kambing jawa), lalu berserikat pada seekor unta, lalu berserikat pada seekor sapi. Alasan mereka adalah:

  1. Unta lebih besar daripada sapi, dan sapi lebih besar daripada kambing. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

  1. Unta dan sapi menyamai 7 ekor kambing.
  2. Hadits Abu Hurairah :

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بُدْنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمضنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَّاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً

“Barangsiapa yang mandi Jum’at seperti mandi janabat kemudian berangkat, maka seolah dia mempersembahkan unta. Barangsiapa yang berangkat pada waktu kedua, seolah mempersembahkan sapi, yang berangkat pada waktu ketiga seakan mempersembahkan kambing bertanduk, yang berangkat pada waktu keempat seakan mempersembahkan ayam, dan yang berangkat pada waktu kelima seakan mempersembahkan sebutir telur.” (HR. Al-Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)

Adapun hadits yang menunjukkan bahwa Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan kambing kibasy, yang berarti dinilai lebih afdhal karena merupakan pilihan beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dijawab:

  1. Hal tersebut menunjukkan kebolehan berqurban dengan kambing.
  2. Beliau berbuat demikian agar tidak memberatkan umatnya.

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 11/398-399, no. fatwa 1149, Adhwa`ul Bayan, 3/382-384, cet. Darul Ihya`it Turats Al-‘Arabi)

Faedah

Al-Imam Muhammad Amin Asy-Syinqithi  dalam tafsirnya, Adhwa`ul Bayan (3/485), menukil kesepakatan ulama tentang bolehnya menyembelih hewan qurban secara umum, baik yang jantan maupun betina. Dalilnya adalah keumuman ayat yang menjelaskan masalah hewan qurban, tidak ada perincian harus jantan atau betina, seperti ayat 28, 34, dan 36 dari surat Al-Hajj.

Para ulama hanya berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhal. Yang rajih adalah bahwa kambing domba jantan lebih utama daripada yang betina. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih kambing kibasy (jantan) bukan na’jah (betina). Wallahu a’lam bish-shawab.

Ketentuan Hewan Qurban[34]

  1. Kambing domba atau jawa

Tidak ada khilaf di kalangan ulama, bahwa seekor kambing cukup untuk satu orang. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/168-169).

Seekor kambing juga mencukupi untuk satu orang dan keluarganya, walaupun mereka banyak jumlahnya. Ini menurut pendapat yang rajih, dengan dalil hadits Abu Ayyub Al-Anshari , dia berkata:

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِهِ

“Dahulu di zaman Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam, seseorang menyembelih qurban seekor kambing untuknya dan keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1510, Ibnu Majah no. 3147. At-Tirmidzi  berkata: “Hadits ini hasan shahih.”)

Juga datang hadits yang semakna dari sahabat Abu Sarihah  diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3148). Asy-Syaikh Muqbil  dalam Shahihul Musnad (2/295) berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain….”

  1. Unta

Menurut jumhur ulama, diperbolehkan 7 orang atau 7 orang beserta keluarganya berserikat pada seekor unta atau sapi. Dalilnya adalah hadits Jabir , dia berkata:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ  بِالْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Hudaibiyyah seekor unta untuk 7 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.” (HR. Muslim no. 1318, Abu Dawud no. 2809, At-Tirmidzi no. 1507)

Demikianlah ketentuan Sunnah Rasulullah  yang masyhur di kalangan kaum muslimin, dahulu maupun sekarang.

Atas dasar itu, maka apa yang sedang marak di kalangan kaum muslimin masa kini yang mereka istilahkan dengan ‘qurban sekolah’ atau ‘qurban lembaga/yayasan’1 adalah amalan yang salah dan qurban mereka tidak sah. Karena tidak sesuai dengan bimbingan As-Sunnah yang telah dipaparkan di atas. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan tanpa contoh dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim no. 1718 dari Aisyah )

Al-Imam Asy-Syinqithi  dalam tafsirnya Adhwa`ul Bayan (3/484) menegaskan: “Para ulama sepakat, tidak diperbolehkan adanya dua orang yang berserikat pada seekor kambing….”

Umur Hewan Qurban[35]

Diriwayatkan dari Jabir , dia berkata: Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَذْبَحُوا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih (hewan qurban) kecuali musinnah. Kecuali bila kalian sulit mendapatkannya, maka silakan kalian menyembelih jadza’ah dari kambing domba.” (HR. Muslim no. 1963)

Dalam hadits ini, Rasulullan memberikan ketentuan tentang umur hewan qurban yaitu musinnah.

Musinnah pada unta adalah yang genap berumur 5 tahun dan masuk pada tahun ke-6. Demikian yang dijelaskan oleh Al-Ashmu’i, Abu Ziyad Al-Kilabi, dan Abu Zaid Al-Anshari.

Musinnah pada sapi adalah yang genap berumur 2 tahun dan masuk pada tahun ke-3. Inilah pendapat yang masyhur sebagaimana penegasan Ibnu Abi Musa. Ada juga yang berpendapat genap berumur 3 tahun masuk pada tahun ke-4.

Musinnah pada ma’iz (kambing jawa) adalah yang genap berumur setahun. Begitu pula musinnah pada dha`n (kambing domba). Demikian penjelasan Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Bulughil Maram (6/84). Lihat pula Syarhul Kabir (5/167-168) karya Ibnu Qudamah .

Apakah disyaratkan harus musinnah?

  1. Unta, sapi, dan kambing jawa (ma’iz)

Mayoritas besar ulama mensyaratkan umur musinnah pada unta, sapi, dan ma’iz, dan tidak sah bila kurang daripada itu. Dasarnya adalah hadits Jabir di atas.

Adapun hadits Mujasyi’ :

إِنَّ الْجَذَعَ يُوْفِي مِمَّا يُوْفِي مِنْهُ الثَّنِيَّةُ

“Sesungguhnya jadza’ (hewan yang belum genap umur musinnah, pen) mencukupi dari apa yang dicukupi oleh tsaniyah (hewan yang genap umur musinnah, pen.).” (HR. Abu Dawud no. 2799, Ibnu Majah no. 3140, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud. Saya katakan: Sanadnya hasan, karena dalam sanadnya ada ‘Ashim bin Kulaib dan ayahnya. Keduanya shaduq (jujur).)

khusus berlaku untuk jadza’ah dari kambing domba saja (kambing domba yang berumur 6 bulan). Demikian dijelaskan oleh Ibnu Qudamah  dengan dasar hadits Jabir  di atas. Wallahu a’lam.

  1. Kambing domba (dha`n)

Yang afdhal pada dha`n adalah umur musinnah (1 tahun) dengan dasar hadits Jabir di atas. Tetapi apakah hal itu termasuk syarat3? Ataukah diperbolehkan menyembelih jadza’ah (umur 6 bulan) secara mutlak?

Pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur –bahkan Al-Qadhi ‘Iyadh menukilkan kesepakatan4– bahwa jadza’ah dari dha`n tidak sah kecuali bila kesulitan mendapatkan musinnah, dengan dasar hadits Jabir  di atas.

Adapun hadits Abu Hurairah :

نِعْمَ الْأُضْحِيَّةُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ

“Sebaik-baik hewan qurban adalah jadza’ah dari dha`n.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad (2/445) dan At-Tirmidzi . Sanadnya dhaif, karena di dalamnya ada Kidam bin Abdurrahman As-Sulami dan Abu Kibasy, keduanya majhul. (Lihat Adh-Dha’ifah no. 64)

Juga hadits Ummu Bilal bintu Hilal (dalam sebagian riwayat: dari ayahnya; pada riwayat lain langsung dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam):

يَجُوزُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ أُضْحِيَّةً

“Jadza’ah dari dha`n diperbolehkan sebagai hewan qurban.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3/39), Al-Baihaqi dalam Al-Ma’rifah (5650-5651), dan yang lainnya. Sanadnya dhaif, padanya ada Ummu Muhammad Al-Aslamiyyah, dia majhulah. (Lihat Adh-Dha’ifah no. 65)

Adapun hadits Mujasyi’ yang telah dipaparkan sebelumnya (pada hal. 18), maka dijawab dengan ucapan Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam (4/174): “Kemungkinan hal itu semua ketika kesulitan mendapatkan musinnah.”

Saya katakan: Hal ini dikuatkan oleh sebab wurud hadits Mujasyi’ ini. Kulaib bin Syihab mengisahkan: Kami dahulu pernah bersama salah seorang sahabat Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Mujasyi’ dari Bani Sulaim. Waktu itu, kambing sangat sulit dicari. Maka dia memerintahkan seseorang untuk berseru: Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya jadza’ah itu mencukupi dari apa yang dicukupi oleh musinnah.” (Lihat Abu Dawud no. 2799, Ibnu Majah no. 3140)

Adapun hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani  mengisahkan: Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam membagikan hewan qurban kepada para sahabatnya. ‘Uqbah mendapatkan jatah bagian jadza’ah. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

ضَحِّ بِهَا

“Hendaklah engkau berqurban dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5547 dan Muslim no. 1965)

maka jawabannya adalah sebagai berikut:

  1. Yang dimaksud dengan jadza’ah di sini bukanlah jadza’ah dari dha`n, tetapi jadza’ah dari ma’iz (kambing jawa). Sebagaimana hal ini disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari (no. 5555) dengan lafadz: عتود. Dalam Fathul Bari (11/126) disebutkan: “’Atud adalah anak kambing ma’iz yang telah kuat dan berusia satu tahun.” Ibnu Baththal menegaskan: “’Atud adalah jadza’ah dari ma’iz.” Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar setelah itu: “Lafadz ini menjelaskan maksud kata ‘jadza’ah’ yang terdapat dalam riwayat lain hadits ‘Uqbah, bahwasanya ‘jadza’ah’ di sini adalah dari ma’iz.”
  2. Adapun jawaban hadits ini yang membolehkan jadza’ah dari ma’iz adalah sebagai berikut:
  3. Kebolehan tersebut khusus sebagai rukhshah untuk ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani . Sebab, dalam riwayat Al-Baihaqi ada tambahan lafadz:

وَلَا رُخْصَةَ فِيْهَا لِأَحَدٍ بَعْدَكَ

“Dan tidak ada rukhshah (keringanan) untuk siapapun setelah itu.”

Sebagaimana pula rukhshah ini juga diberikan kepada Abu Burdah  dalam riwayat Al-Bukhari  (no. 5556, 5557) dan yang lainnya. (Lihat Fathul Bari, 11/129)

  1. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/130) menegaskan: “Kemungkinan hal tersebut terjadi pada awal Islam, kemudian syariat menetapkan bahwa jadza’ah dari ma’iz tidak cukup. Dan Abu Burdah dan Uqbah khusus mendapatkan rukhshah itu….”

Wallahul muwaffiq.

Hewan Qurban yang Afdhal Baik Jenis atau Sifatnya[36]

Jenis hewan qurban yang paling afdhal (utama) adalah onta kemudian sapi, jika ia menyembelihnya secara utuh. Kemudian domba, kemudian kambing kacang, kemudian sepertujuh onta, kemudian sepertujuh sapi.

Yang paling utama dalam hal sifatnya adalah yang paling gemuk, paling banyak dagingnya,paling sempurna penciptaannya dan paling bagus penampilannya.

Disebutkan dalam shahih Bukhari dari Anas bin Malik radiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor kibas yang bertanduk dan berwarna putih dengan corak hitam.

(HR.Bukhari, Kitab Al-Adhahi, bab: At-Takbir ‘Inda Adz-dzabhi,no:5565, dan Muslim, Kitab Al-Adhahi, bab: Istihbab Adh-Dhahiyyah wa Dzabhuhaa Mubaasyarah,no:1966)

Kibas adalah domba yang besar. Amlah (أملح) maknanya: berwarna putih yang bercampur hitam, maksudnya warnanya putih dengan corak hitam.

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan seekor kibas yang bertanduk dan jantan, ia makan pada warna hitam, melihat pada warna hitam dan berjalan pada warna hitam.”

Diriwayatkan oleh empat pengarang kitab sunan, At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”

Al-Fahil adalah jantan. Makna ia makan pada warna hitam dan seterusnya adalah bahwa bulu pada mulut, kedua mata dan kaki-kakinya berwarna hitam.

Dari Abu Rafi’ radiallahu anhu Maula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika hendak berqurban, Beliau membeli dua ekor kibas yang gemuk.” Dalam lafadz yang lain: mauju’ (yang telah dikebiri).”

(HR.Ahmad (6/220), dan Ibnu Majah, Kitab Al-Adhahi,bab: Adhahi Rasulillah, no:3122)

Samin adalah yang banyak lemak dan dagingnya. Mauju’ adalah yang dikebiri dan biasanya  itu merupakan jantan yang paling sempurna dari sisi dagingnya yang enak dan jantan yang lebih sempurna dari sisi kesempurnaan ciptaan dan anggota tubuhnya.

Inilah hewan qurban yang paling utama dari sisi jenis dan sifatnya.

Afdhal Mana : Kualitas Hewan Qurban atau Kuantitasnya?[37]

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjawab:
“Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang shahih adalah dengan perincian:
– Bila taraf kehidupan masyarakatnya makmur dan lapang, maka kualitas hewan lebih afdhal.
– Bila mereka dalam kesempitan hidup, maka semakin banyak kuantitasnya semakin afdhal, supaya kemanfaatan hewan qurban merata untuk seluruh masyarakat.” (Syarh Bulughil Maram, 6/73-74)

Afdhal Mana: Kambing yang Kurus atau Serikat Sapi yang Gemuk?[38]

TANYA :

Mana yang lebih afdhal, jika ana mempunyai dana untuk membeli satu ekor kambing tapi kurus, jika dibelikan sapi patungan tujuh orang, dapat sapi yang gemuk?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Yang jelas secara umum seperti yang kita sebutkan urutannya, satu ekor kambing lebih afdhal daripada patungan untuk tujuh orang untuk satu ekor sapi, itu secara umum. Tapi mungkin ada penilaian-penilaian yang lain melihat ada sapi yang lebih gemuk, lebih bagus dipandang, yang kalau dia patungan, sama yang dia keluarkan. Maka dalam keadaan seperti ini, memungkinkan sesuatu yang asal hukumnya dia lebih rendah tapi karena kualitasnya lebih bagus, bisa jadi itu lebih afdhal daripada hewan kambing yang kurus, yang tidak gemuk. Sebab yang diharapkan dari sembelihan tersebut adalah manfaatnya. Semakin banyak dagingnya, semakin besar manfaatnya untuk kaum muslimin, wallahu a'lam.

Cacat yang Menghalangi Keabsahan Hewan Qurban[39]

Cacat yang menghalangi keabsahan hewan qurban dibagi menjadi dua:
1. Yang disepakati oleh para ulama
Diriwayatkan dari Al-Bara` bin ‘Azib, dia berkata: Rasulullah ﷺ pernah berdiri di depan kami, beliau bersabda:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأُضْحِيَّةِ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْـمَرِيْضُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي

“Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban: yang rusak matanya dan jelas kerusakannya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya, dan yang kurus dan tidak bersumsum.” (HR. Abu Dawud no. 2802, At-Tirmidzi no. 1502, Ibnu Majah no. 3144 dengan sanad yang dishahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 8/227)
Dalam hadits ini ada empat perkara yang dilarang pada hewan qurban menurut kesepakatan ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/175) dan An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (8/231, cet. Dar Ihya`ut Turats Al-‘Arabi). Keempat perkara tersebut adalah:
a. الْعَوْرَاءُ yaitu hewan yang telah rusak dan memutih matanya, dengan kerusakan yang jelas.
b. الْمَرِيْضُ yaitu hewan yang nampak sakitnya, dan dapat diketahui dengan dua cara:
– keadaan penyakitnya yang dinilai sangat nampak, seperti tha’un, kudis, dan semisalnya.
– pengaruh penyakit yang nampak pada hewan tersebut, seperti kehilangan nafsu makan, cepat lelah, dan semisalnya.
c. الْعَرْجَاءُ yaitu hewan yang pincang dan nampak kepincangannya. Ketentuannya adalah dia tidak bisa berjalan bersama dengan hewan-hewan yang sehat sehingga selalu tertinggal. Adapun hewan yang pincang namun masih dapat berjalan normal bersama kawanannya maka tidak mengapa.
d. الْعَجْفَاءُ dalam riwayat lain الْكَسِيْرَةُ yaitu hewan yang telah tua usianya, pada saat yang bersamaan dia tidak memiliki sum-sum. Ada dua persyaratan yang disebutkan dalam hadits ini:
– الْعَجْفَاءُ yaitu yang kurus
– لَا تُنْقِي yaitu yang tidak bersumsum.
2. Menurut pendapat yang rajih
Ada beberapa cacat yang masih diperbincangkan para ulama, namun yang rajih adalah tidak boleh ada pada hewan qurban. Di antaranya adalah (lihat Asy-Syarhul Mumti’, 3/394-397):
a. الْعَمْيَاءُ yaitu hewan yang sudah buta kedua matanya, walaupun tidak jelas kebutaannya. Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (8/231) bahkan menukilkan kesepakatan ulama tentang masalah ini.
b. الـْمُغْمَى عَلَيْهَا yaitu hewan yang jatuh dari atas lalu pingsan. Selama dia dalam kondisi pingsan maka tidak sah, sebab dia termasuk hewan yang jelas sakitnya.
c. الْـمَبْشُومَةُ yaitu kambing yang membesar perutnya karena banyak makan kurma. Dia tidak bisa buang angin dan tidak diketahui keselamatannya dari kematian kecuali bila dia buang air besar. Maka dia termasuk hewan yang jelas sakitnya selama belum buang air besar.
d. مَقْطُوعَةُ الْقَوَائِمِ yaitu hewan yang terputus salah satu tangan/kakinya atau bahkan seluruhnya. Sebab kondisinya lebih parah daripada hewan yang pincang (الْعَرْجَاءُ).
e. الزُّمْنَى yaitu hewan yang tidak bisa berjalan sama sekali.

Cacat yang Tidak Mempengaruhi Keabsahan Hewan Qurban[40]

Di antaranya ada yang tidak berpengaruh sama sekali karena sangat sedikit atau ringan sehingga dimaafkan. Ada pula yang mengurangi keafdhalannya namun masih sah untuk dijadikan hewan qurban. Di antaranya:
a. الْـحَتْمَى yaitu hewan yang telah ompong giginya.
b. الْـجَدَّاءُ yaitu hewan yang telah kering kantong susunya, yakni tidak bisa lagi mengeluarkan air susu.
c. الْعَضْبَاءُ yaitu hewan yang hilang mayoritas telinga atau tanduknya, baik itu memanjang atau melebar.
Adapun hadits ‘Ali bin Abi Thalib :

نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يُضَحَّى بِأَعْضَبِ الْقَرْنِ وَالْأُذُنِ

“Nabi ﷺ melarang berqurban dengan hewan yang hilang mayoritas tanduk dan telinganya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2805), At-Tirmidzi (no. 1509), Ibnu Majah (no. 3145), dan yang lainnya, dan didhaifkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Tahqiq Al-Mustadrak (4/350) karena dalam sanadnya ada Jurai bin Kulaib As-Sadusi. Ibnul Madini berkata: “Dia majhul.” Abu Hatim berkata: “(Seorang) syaikh, haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.”
d. الْبَتْرَاءُ yaitu hewan yang tidak berekor, baik itu karena asal penciptaannya (memang asalnya seperti itu) atau karena dipotong.
e. الْـجَمَّاءُ yaitu hewan yang memang asalnya tidak bertanduk.
f. الْـخَصِيُّ yaitu hewan yang dikebiri.
g. الْـمُقَابَلَةُ yaitu hewan yang terputus ujung telinganya.
h. الْـمُدَابَرَةُ yaitu hewan yang terputus bagian belakang telinganya.
i. الشَرْقَاءُ yaitu hewan yang pecah telinganya.
j. الْـخَرْقَاءُ yaitu hewan yang telinganya berlubang.
Adapun hadits ‘Ali bin Abi Thalib yang berisikan larangan dari al-muqabalah, al-mudabarah, asy-syarqa`, dan al-kharqa`, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1503), Abu Dawud (no. 2804), Ibnu Majah (no. 3142), adalah hadits yang dhaif. Didhaifkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Tahqiq Al-Mustadrak (4/350), karena dalam sanadnya ada Syuraih bin Nu’man. Abu Hatim berkata: “Mirip orang majhul, haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.” Al-Bukhari berkata tentang hadits ini: “Tidak shahih secara marfu’.”


Cacat yang disebutkan di atas dan yang semisalnya dinilai tidak berpengaruh karena dua alasan:
1. Tidak ada dalil shahih yang melarangnya. Sedangkan hukum asal pada hewan qurban adalah sah hingga ada dalil shahih yang melarangnya.
2. Dalil yang melarangnya adalah dhaif.
Wallahul muwaffiq.

Hewan Qurban yang Makruh[41]

Adapun yang dimakruhkan dari hewan qurban adalah sebagai berikut:

  1. Al-‘Adhbaa’, yaitu yang terpotong bagian telinga atau tanduknya setengah atau lebih.
  2. Al-Muqobalah, yaitu yang terbelah telinganya melebar dari depan.
  3. Al-Mudabaroh, yaitu yang terbelah telinganya melebar dari belakang.
  4. Asy-Syarqa’, yaitu yang terbelah telinganya memanjang.
  5. Al-Kharqa’, yaitu yang sobek telinganya.
  6. Al-Mushfaroh, yaitu yang terputus telinganya hingga nampak daging putihnya. Adapula yang berkata: “Yang dimaksud adalah yang kurus, jika tidak sampai pada batas hilangnya sumsum.”
  7. Al-Musta’shalah, yaitu yang patah seluruh tanduknya.
  8. Al-Bakhqaa’, yaitu yang matanya buta, hilang penglihatannya namun matanya tetap pada posisinya.
  9. Al-Musyayya’ah, yaitu yang tidak mampu mengikuti sekumpulan kambing disebabkan karena kelemahannya kecuali jika ada yang mengiringnya lalu mengarahkannya agar dapat menyusul kumpulan kambing tersebut. Bisa juga dengan huruf “Ya’” yang dikasrah dan bertasydid(المُشَيِّعَة) , yaitu yang tertinggal dibelakang kumpulan kambing disebabkan karena lemahnya, sehingga ia nampak seperti yang mengiringinya.

Inilah hal-hal yang dimakruhkan yang disebutkan dalam beberapa hadits tentang larangan berqurban dengan hewan yang memiliki aib tersebut atau perintah untuk menjauhinya. Larangan tersebut dibawa kepada makna makruh untuk mengkompromikan antara riwayat ini dengan hadits Bara’ bin ‘Azib yang telah disebutkan pada syarat ketiga dari syarat- syarat berqurban.

Termasuk diantara hal yang dimakruhkan pula adalah hewan yang semisalnya, maka dimakruhkan berqurban dengan yang berikut ini:

  1. Al-Batraa’ dari jenis onta, sapi dan kambing kacang; yaitu yang terpotong setengah ekornya atau lebih.
  2. Yang terpotong dari bokongnya kurang dari setengah. Jika terpotong setengah atau lebih maka berkata Jumhur Ulama: “Tidak sah.” Adapun yang kehilangan bokong sejak asal penciptaannya maka tidak mengapa.
  3. Yang terpotong kemaluannya.
  4. Yang gugur sebagian giginya meskipun gigi tsanaya atau roba’iyah (gigi seri). Jika sejak asal ciptaannya sudah tidak ada, maka hal itu tidak dimakruhkan.
  5. Yang terpotong bagian puting payudaranya. Namun jika sudah tidak ada sejak asal ciptannya, maka tidak dimakruhkan. Dan jika air susunya terhenti dalam keadaan payudaranya tetap normal, maka hal itu tidak mengapa.

Jika lima perkara makruh ini digabungkan dengan kesembilan poin sebelumnya, berarti hal-hal yang dimakruhkan berjumlah empat belas.

Hukum Berqurban dengan Hewan yang Kuping atau Tanduknya Terpotong[42]

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah berkata :

“Boleh dan sah qurbannya tapi di benci, karena sesungguhnya ia kurang sempurna penciptaannya.”

Majmu’ Al-Fatawa (25/40)

Alih bahasa: Abu Bakar Fahmi bin Abi Bakar Jawwas.

حكم الأضحية بمقطوعة الأذن أو القرن ؟

: قال ابن عثيمين

جائزة مجزئة لكنها مكروهة؛ لأنها ناقصة الخلقة

(مجموع الفتاوى (25/40

Bolehkah Menyembelih Hewan yang Dikebiri untuk Berqurban?[43]

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah berkata :

“Boleh menyembelih hewan yang dikebiri didalam berqurban, bahkan beberapa Ahli Ilm telah mengutamakannya terhadap hewan jantan lainnya, karena dagingnya lebih baik.”

Majmu’ Al-Fatawa (25/50)

Alih bahasa: Abu Bakar Fahmi bin Abi Bakar Jawwas.

: قال ابن عثيمين

.يجوز أن يذبح الخصي في الأضحية حتى إن بعض أهل العلم قد فضَّله على الفحل لأن لحمه يكون أطيب

(مجموع الفتاوى(25/50

Sahkah Kambing yang Pilek Disembelih?[44]

TANYA :

Apakah sah, kambing yang berpenyakit pilek disembelih? Apakah itu termasuk cacat?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Kalau sampai pileknya demam, lalu kemudian dia tidak bisa mengikuti kelompok kambing yang lainnya ketika mencari makan, maka jelas. Berarti termasuk penyakit yang jelas penyakitnya.

Sahkah Hewan Qurban yang Tidak Diketahui Sakitnya?[45]

TANYA :

Afwan ustadz, disebut hewan kurbankah apabila hewan kurban itu sakit, tanpa diketahui bahwa hewan itu sakit, lalu disembelih. Dan apakah sah hewan kurban itu?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Darimana anda mengetahui kalau dia sakit? Setelah disembelih? Berarti sakitnya bukan sakit yang jelas, maka sembelihannya halal, hewan kurbannya sah insya Allah.

Bolehkah Dipakai Qurban, Kambing yang Tanduknya Tiba-tiba Patah[46]

TANYA :

Saya membeli kambing untuk kurban, pada awalnya semua normal. Tiba-tiba tanduknya patah, apakah boleh untuk dipakai kurban?

 

 

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Boleh.

Sahkah Sapi yang Hidungya Dipasang Tali untuk Qurban?[47]

TANYA :

Apa hukumnya sapi yang dikelu (dipasang tali pada hidungnya)? Apakah sah untuk hewan kurban?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Apa hubungannya? Maksudnya mungkin tersiksa, apakah tersiksa? Wallahu a'lam saya tidak tahu, apakah kebiasaan mereka apakah tesiksa hewan tersebut apabila dipasang tali pada hidungnya? Yang jelas, kalau dijadikan sebagai hewan kurban, selama dia tidak memiliki cacat yang disebutkan rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak sah, maka hukumnya sah.

 

 

HUKUM SEPUTAR HEWAN QURBAN

Cara Menetapkan Hewan Qurban[48]

Menetapkan hewan qurban dengan salah satu dari dua cara:

Pertama:

Dengan lafazh, yaitu dengan berkata: “Ini adalah hewan qurban” dengan maksud memulai penetapannya. Adapun jika dia memaksudkan pemberitaan tentang kehendak yang ingin dia lakukan dimasa mendatang, maka belum ditetapkan sebagai hewan qurban dengan sekedar ucapan itu sebab tujuannya adalah memberitakan tentang sesuatu yang akan dia lakukan dimasa mendatang dan bukan memulai penetapannya.

Kedua:

Dengan perbuatan, dan ini ada dua jenis:

  1. Menyembelihnya dengan niat sebagai hewan qurban. Kapan dia menyembelih dengan niat ini, maka berarti telah ditetapkan sebagai hukum hewan qurban.
  2. Membelinya dengan niat sebagai hewan qurban jika yang dibeli sebagai pengganti hewan qurban yang telah ditetapkan. Misalnya: Dia telah menetapkan seekor hewan qurban kemudian (hewan qurban) tersebut mati disebabkan karena kelalaiannya. Lalu diapun membeli hewan yang lain dengan niat sebagai pengganti yang mati. Maka hewan tersebut telah menjadi hewan qurban dengan sekedar membelinya dengan niat ini, sebab ia berstatus sebagai pengganti dari hewan yang telah ditetapkan dan pengganti memiliki hukum yang sama dengan yang tergantikan. Adapun jika tidak berstatus sebagai pengganti hewan yang telah ditetapkan sebagai qurban, maka belum ditetapkan sebagai qurban dengan membelinya dengan niat sebagai qurban. Hal ini sebagaimana halnya jika dia membeli seorang budak yang ingin dibebaskannya dari perbudakan, maka ia tidak serta merta menjadi merdeka dengan sekedar membelinya. Atau dia membeli sesuatu untuk dijadikan sebagai wakaf, maka tidak serta merta menjadi wakaf dengan sekedar membelinya. Demikian pula jika dia membeli seekor hewan ternak dengan niat qurban, maka dia tidak serta merta (berstatus sebagai hewan qurban, pent) dengan sekedar membelinya.

_______________

Dari Kitab : “Talkhis Kitab Ahkam Al Udhiyah wa Adz Dzakat” karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Jika Hewan Mengalami Cacat yang Mengakibatkan Tidak Sah untuk Diqurbankan[49]

Apabila hewan tersebut mengalami aib yang menyebabkan tidak sahnya dijadikan sebagai hewan qurban. Misalnya, dia membeli seekor kambing lalu menetapkan sebagai qurban. Kemudian tiba-tiba matanya menjadi cacat yang menyebabkan buta sebelah yang nampak. Maka dalam hal ini ada dua keadaan:

  1. Penyebab cacat karena perbuatan atau kelalaiannya. Maka dia wajib menggantinya dengan yang semisalnya dalam sifat- sifatnya atau yang lebih sempurna, sebab cacat hewan tersebut karena perbuatannya, sehingga ia wajib mengganti dengan yang semisalnya yang disembelih sebagai pengganti hewan yang cacat. Hewan yang cacat tersebut menjadi miliknya menurut pendapat yang lebih benar, dia boleh memperlakukan hewan cacat tersebut sekehendaknya baik menjualnya atau yang lainnya.
  2. Penyebab cacatnya bukan karena perbuatan dan kelalaiannya. Maka dia boleh menyembelihnya dan sembelihan tersebut sah, kecuali jika ia telah mewajibkan atas dirinya sebelum menetapkan hewan qurban. Sebab hewan tersebut merupakan amanah disisinya, lalu menjadi cacat yang bukan disebabkan karena perbuatan dan kelalaian darinya. Maka tidak mengapa dan dia tidak bertanggung jawab untuk menggantinya.

Jika sudah menjadi kewajiban yang ia tetapkan pada dirinya sebelum menetapkan hewan qurban, maka wajib baginya menggantinya dengan yang sehat yang melepaskannya dari tanggung jawab. Misalnya dia berkata: “Saya bernazar karena Allah untuk berqurban pada tahun ini.” Lalu dia membeli hewan dan menetapkannya sebagai qurban untuk menunaikan nazarnya. Kemudian hewan tersebut mengalami cacat yang menyebabkan tidak sahnya dijadikan sebagai qurban, maka dia harus menggantinya dengan yang sehat yang sah dijadikan sebagai hewan qurban dan hewan cacat tersebut menjadi miliknya. Namun jika hewan pertama lebih mahal dari penggantinya, maka dia wajib bersedekah dengan yang senilai sisa perbedaan harga dua hewan tersebut.

Jika Hewan Qurban Hilang atau Dicuri[50]

Jika hewan qurban itu hilang atau dicuri, maka dalam hal ini ada dua keadaan:

  1. Disebabkan karena kelalaiannya, misalnya: dia meletakkannya di tempat yang tidak terjaga sehingga (hewan tersebut) lari atau dicuri. Maka ia wajib menggantinya dengan yang semisalnya dalam hal sifat atau yang lebih sempurna yang disembelih sebagai pengganti hewan pertama. Sedangkan hewan yang hilang atau dicuri menjadi miliknya dimana dia berbuat sekehendaknya jika ia telah menemukannya baik dengan menjualnya atau yang lainnya.
  2. Bukan disebabkan kelalaian darinya, maka dia tidak wajib menggantinya, kecuali jika ia telah menetapkan wajib atas dirinya sebelum menetapkannya sebagai hewan qurban. Sebab hewan itu merupakan amanah disisinya dan tidak ada tanggung jawab untuk mengganti bagi seorang yang amanah selama dia tidak melalaikannya. Namun kapan ia menemukannya, maka wajib ia berqurban dengannya meskipun waktu sembelihan telah lewat. Demikian pula jika pencuri tersebut menggantinya, maka wajib menyembelih hewan penggantinya yang sesuai sifatnya tanpa ada kekurangan.

Jika ia mewajibkan atas dirinya sebelum menetapkan, maka ia wajib menyembelih penggantinya untuk melepaskan tanggung jawab yang ditetapkan atas dirinya. Kapan dia menemukan hewan tersebut, maka menjadi miliknya. Dia berbuat sesuai keinginannya dengan menjualnya atau yang lainnya. Namun jika yang disembelih harganya lebih murah dari yang pertama, maka ia wajib bersedekah dengan nilai sisa perbedaan harga antara dua hewan tersebut.

Jika Hewan Qurban Mati[51]

Jika hewan tersebut mati, maka ada tiga keadaan:

  1. Kematiannya bukan disebabkan perbuatan manusia terhadapnya seperti penyakit, wabah dari langit atau perbuatan yang dilakukan hewan itu sendiri yang menyebabkan ia mati. Maka tidak ada kewajiban menggantinya, kecuali jika ia telah menetapkan kewajiban atas dirinya sebelum ditentukan hewan qurbannya. Sebab hewan tersebut merupakan amanah disisinya dan ia mati dengan sebab yang tidak mengharuskan menggantinya, maka tidak ada kewajiban menggantinya. Namun jika ia telah menetapkan kewajiban atas dirinya sebelum menetapkan hewannya, maka ia wajib untuk menyembelih gantinya untuk melepaskan kewajibannya.
  2. Kematiannya disebabkan karena perbuatan pemiliknya, maka ia wajib menyembelih penggantinya dengan sifat hewan yang sama atau yang lebih sempurna disebabkan kewajiban menggantinya disaat itu.
  3. Kematiannya disebabkan perbuatan manusia yang selain pemiliknya. Jika tidak memungkinkan menuntut gantinya seperti perampok jalan, maka hukumnya sama seperti hewan tersebut mati bukan karena ulah manusia seperti yang disebut pada keadaan pertama. Namun jika memungkinkan menggantinya seperti seseorang yang menyembelihnya lalu memakannya atau membunuhnya dan yang semisalnya, maka wajib menggantinya dengan yang semisalnya. Lalu ia serahkan kepada pemiliknya untuk diqurbankan, kecuali jika pemiliknya membebaskannya dari tanggung jawab tersebut dan ia sendiri yang menjalankan kewajiban menggantinya.

Hukum-hukum Seputar Hewan Qurban[52]

Berikut ini akan disebutkan beberapa hukum secara umum yang terkait dengan hewan qurban, untuk melengkapi pembahasan sebelumnya:

1) Diperbolehkan menunggangi hewan tersebut bila diperlukan atau tanpa keperluan, selama tidak memudaratkannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah melihat seseorang menuntun unta (qurban/hadyu) maka beliau bersabda:

ارْكَبْهَا

“Tunggangi unta itu.” (HR. Al-Bukhari no. 1689 dan Muslim no. 1322/3717)

Juga datang dari Anas bin Malik (Al-Bukhari no. 1690 dan Muslim no. 1323) dan Jabir bin Abdillah (HR. Muslim no. 1324). Lafadz hadits Jabir sebagai berikut:

ارْكَبْهَا بِالْـمَعْرُوفِ إِذَا أُلْـجِئْتَ إِلَيْهَا حَتَّى تَجِدَ ظَهْرًا

“Naikilah unta itu dengan cara yang baik bila engkau membutuhkannya hingga engkau mendapatkan tunggangan (lain).”

2) Diperbolehkan mengambil kemanfaatan dari hewan tersebut sebelum/setelah disembelih, seperti:

  1. mencukur bulu hewan tersebut, bila hal tersebut lebih bermanfaat bagi sang hewan. Misal: bulunya terlalu tebal atau di badannya ada luka.
  2. Meminum susunya, dengan ketentuan tidak memudaratkan hewan tersebut dan susu itu kelebihan dari kebutuhan anak sang hewan.
  3. Memanfaatkan segala sesuatu yang ada di badan sang hewan, seperti tali kekang dan pelana.
  4. Memanfaatkan kulitnya untuk alas duduk atau alas shalat setelah disamak.

Dan berbagai sisi kemanfaatan yang lainnya. Dasarnya adalah keumuman firman Allah :

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (Al-Hajj: 36)

3) Tidak diperbolehkan menjual hewan tersebut atau menghibahkannya kecuali bila ingin menggantinya dengan hewan yang lebih baik. Begitu pula tidak boleh menyedekahkannya kecuali setelah disembelih pada waktunya, lalu menyedekahkan dagingnya.

4) Tidak diperbolehkan menjual kulit hewan tersebut atau apapun yang ada padanya, namun untuk dishadaqahkan atau dimanfaatkan.

5) Tidak diperbolehkan memberikan upah dari hewan tersebut apapun bentuknya kepada tukang sembelih. Namun bila diberi dalam bentuk uang atau sebagian dari hewan tersebut sebagai shadaqah atau hadiah bukan sebagai upah, maka diperbolehkan.

Dalil dari beberapa perkara di atas adalah hadits Ali bin Abi Thalib, dia berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أُقَسِّمَ لُـحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالـَهَا عَلَى الْـمَسَاكِينِ وَلَا أُعْطِي فِي جَزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا

“Nabi memerintahkan aku untuk menangani (penyembelihan) unta-untanya, membagikan dagingnya, kulit, dan perangkatnya kepada orang-orang miskin dan tidak memberikan sesuatu pun darinya sebagai (upah) penyembelihannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1717 dan 1317)

6) Bila hewan tersebut mengandung janin, maka cukup bagi dia menyembelih ibunya untuk menghalalkannya dan janinnya. Namun bila hewan tersebut telah melahirkan sebelum disembelih, maka dia sembelih ibu dan janinnya sebagai qurban. Dalilnya adalah hadits:

ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ

“Sembelihan janin (cukup) dengan sembelihan ibunya.”

Hadits ini datang dari banyak sahabat, lihat perinciannya dalam Irwa`ul Ghalil (8/172, no. 2539) dan Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya.

7) Adapun bila hewan tersebut belum dita’yin maka diperbolehkan baginya untuk menjualnya, menghibahkannya, menyedekahkannya, atau menyembelihnya untuk diambil daging dan lainnya, layaknya hewan biasa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bolehkah Mengambil Sperma Kambing yang Sudah Ditetapkan Sebagai Hewan Qurban[53]

TANYA :

Bolehkah mengambil sperma kambing yang sudah ditetapkan sebagai hewan kurban? Untuk diambil keturunannya.

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Asal hukumnya tidak diperbolehkan, apabila dikhawatirkan memudharatkan. Kecuali untuk kemaslahatan kambing tersebut, bermanfaat bagi dia jika diambil. Namun kalau tidak ada maslahatannya, maka yang sudah ditetapkan sebagai hewan kurban, tidak boleh diapa-apakan. Apalagi kalau sampai memudharatkan, wallahu a'lam.

Bolehkah Hewan Qurban Dinomori Menggunakan Cat?[54]

TANYA :

Apakah boleh hewan kurban ditandai dengan nomor pakai cat?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Boleh, untuk membedakan miliknya dari yang lain.

Hewan Qurban di Punggungnya Ada Cap atau Nomor Permanen Apakah Perlu Diganti[55]

TANYA :

Ana sudah menetapkan hewan kurban, ternyta di punggungnya ada cap atau nomor yang sifatnya permanen. Sebaiknya mengganti atau bagaimana?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Ya tidak jadi masalah, itu hanya tanda.

 

TEMPAT BERQURBAN

Dimana Seseorang Berqurban[56]

Yang masyhur dari perbuatan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya adalah mereka menyembelih hewan qurban di tempat domisili mereka. Inilah sunnah beliau ﷺ dalam hal tempat penyembelihan. Bahkan beliau punya kebiasaan menyembelih hewan qurban di tanah lapang tempat shalat Ied. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْـمُصَلىَّ

“Rasulullah ﷺ biasa menyembelih (sapi/kambing, pen.) dan me-nahr unta di tanah lapang.” (HR Al-Bukhari no. 982 dan 5552)
Begitu pula tatkala beliau sedang melaksanakan ibadah haji, beliau menyembelih hewan al-hadyu di di tempat beliau berada, yaitu Makkah dan Mina. Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

نَحَرْتُ هَهُنَا وَمِنَى كُلُّهَا مَنْحَرٌ فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ

“Aku menyembelih di sini, dan Mina semuanya adalah tempat penyembelihan. Hendaklah kalian menyembelih di rumah-rumah kalian.” (HR. Muslim, no. 1218 dan 149)
Tidak dinukil dari beliau dan para sahabatnya satu haditspun yang shahih bahwa mereka mengirimkan hewan al-hadyu ke kota Madinah atau tempat lainnya untuk disembelih di sana. Begitu pula beliau tidak mengirimkan hewan qurban saat di Madinah ke kota Makkah atau yang lain untuk disembelih di sana.
Adapun yang sering terjadi di masa kini, yaitu adanya sebagian kaum muslimin yang yang mentransfer sejumlah uang ke sebuah wilayah untuk dibelikan hewan qurban dan disembelih di sana, merupakan tindakan yang menyelisihi Sunnah Rasulullah ﷺ.
Adapun menyembelih qurban di tempat domisili, kemudian membagikan dagingnya ke luar wilayah, maka hal tersebut diperbolehkan bila wilayah dia tidak ada lagi yang menerima atau jumlah daging sangat melimpah.
Inilah fatwa ulama masa kini, di antaranya adalah Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam banyak karyanya, seperti Syarh Bulughul Maram (6/73), Liqa`at Babil Maftuh (1/128, 2/58-59, 85-87). Juga Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi dalam Fathur Rabbil Wadud (1/372-373), Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan sebagaimana dalam Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan (3/113-116). Lihat Fatawa Ramadhan (hal. 919-922) oleh Asyraf bin Maqshud.

Di antara perkara yang akan luput bila qurban disembelih di tempat lain adalah:
1. Ibadah qurban sebagai upaya taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dan syi’ar Islam tidak terasa di keluarga pelaku atau masyarakatnya. Padahal inilah sisi terpenting dalam ibadah qurban.
2. Syariat menyembelih dengan tangan sendiri seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ atau diwakilkan serta dia menyaksikannya, akan terluput.
3. Syariat untuk memakan sebagiannya dan menyimpan sebagiannya juga akan luput.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Hukum Menyembelih Hewan Qurban di Negeri Lain[57]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

“Apakah boleh menyembelih hewan qurban di negeri lain? Contoh berencana menyembelih di Afrika.”

Jawaban:

“Menyembelih hewan qurban dilakukan di negeri tempat domisili penyembelihnya. INILAH YANG SESUAI SUNNAH, inilah yang disyariatkan, juga lebih afdhal dan lebih sempurna. Adapun memindahkan penyembelihannya ke negeri lain.

Jika kita berpendapat wajibnya memakan dari daging qurban, maka BERARTI memindahkan qurban ke negeri lain TIDAK BOLEH dilakukan, kecuali jika kita bisa menjamin bahwa daging qurbannya akan didatangkan kepada kita sehingga kita bisa memakan darinya.

Jika kita berpendapat tidak wajib memakan daging hewan qurban kita, maka berarti BOLEH (memindahkan qurban ke negeri lain) namun itu MELANGGAR BIMBINGAN SUNNAH.

Oleh karena itu, kami selalu mengulang-ulang mengingatkan saudara-saudara kami untuk TIDAK MELAKUKANNYA, yakni jangan mengirim hewan qurban kalian ke luar daerah domisili kalian.

Namun sembelihlah di rumah dan di tengah keluarga kalian, sehingga tampaklah syi’ar Islam ini, dan anak-anak kecil mengenal syi’ar ini dari orang-orang dewasanya.

Adapun jika engkau mengirim uang dan disembelih hewan qurban di negeri lain, maka jangan dilakukan.

Jika memang dia ingin memberi manfaat kepada saudara-saudaranya di negeri lain, silakan dia mengirim sejumlah uang. Karena bisa jadi uang lebih bermanfaat bagi mereka daripada daging qurban.

Bolehkah Orang yang Tinggal di Negeri Asing Mengirim Uang Seharga Hewan Qurban Kepada Anak-anaknya di Negeri Asalnya[58]

PERTANYAAN:

“Apakah boleh bagi seorang muslim yang berkeluarga namun meninggalkan keluarganya di negerinya, lalu ketika tiba Iedul Adha ia mengirimkan uang seharga hewan qurban kepada mereka di negeri asalnya tersebut supaya mereka menyembelihnya, mewakili dirinya? Karena ia adalah seorang yang pindah domisili, dan ia bisa memastikan bahwa keluarganya tersebut akan menyembelih sesuai dengan yang ia perintahkan. Ataukah ia harus menyembelih di tempat dia berada?”

JAWABAN:

“Tidak mengapa bagi seorang yang tinggal di negeri asing untuk mengirimkan uang seharga hewan qurban kepada anak-anaknya di negeri asalnya. Supaya keluarganya bisa membeli hewan qurban dan menyembelih di rumah mereka. Bahkan inilah yang AFDHAL dan SESUAI SUNNAH.” Wa billahi at-Taufiq. Wa shalallahu ala Nabiyina Muhammad wa alihi wa sahbihi wa sallam.

Komite Fatwa dan Riset Ilmiah Kerajaan Saudi Arabia, fatwa nomor 17.940

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah

 

Bolehkah Menyembelih Hewan Qurban di Masjid?[59]

PERTANYAAN

– Ana dan Istri berniat melaksanakan Qurban, Atas nama siapakah hewan qurban itu. Atas nama Keluarga atau Nama masing-masing.

– Bagaimanakah hukum acara penyembelihan hewan qurban yang dilakukan di Masjid secara bersama-sama dan apakah setiap akan memotong hewan qurban itu ada Ijab Qobul atau penyebutan nama orang yang berqurban.

JAWABAN

Syaikhuna Mufti KSA Bagian Selatan Syaikh Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah menjawab :

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan para Shahabatnya.

Wa ba’du :

Kurban adalah sunnah muakkadah bagi yang memiliki kemampuan secara materi. Dan kurban dibebankan kepada kaum pria sebagai pemberi nafkah keluarga serta berlaku bagi dirinya dan keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya atas setiap keluarga untuk berkurban setiap tahunnya…”.

Adapun penyembelihan hewan kurban di masjid-masjid dan lingkungan masjid seperti halamannya dan sebagainya, maka ini adalah bid’ah. Kami belum pernah mendengar seorang-pun melakukannya kecuali penduduk Indonesia. Sebab darah yang mengalir (yaitu darah yang menyembur saat proses penyembelihan) adalah najis. Dan tidak boleh mengalirkan darah tersebut di masjid-masjid dan lingkungannya. Sebab perbuatan ini membuat najis masjid. Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya :

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Al An’am : 145.

Penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan di tempat penjagalan atau di tanah lapang, jika tidak, maka masing-masing menyembelih hewan kurbannya di tempat tinggalnya. Bertakwalah kepada Allah wahai penduduk Indonesia. Janganlah kalian membuat najis masjid-masjid dengan darah (hewan kurban) yang mengalir yang najis berdasarkan ketetapan Al Qur’an dan ijma’ para Ulama’ dari sejak zaman Shahabat hingga sekarang.

Adapun seseorang mewakilkan hewan kurbannya kepada tukang jagal, maka jika menyerahkan(nya) kepadanya anda katakan : “Sembelihlah hewan kurbanku untukku”. Maka yang demikian adalah perwakilan anda kepadanya. Wabillahit-taufiq.

Yang mendikte fatwa ini

Yang mulia Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi

19 Syawal 1428 H

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وبعد :

الجواب : الأضحية سنة مؤكدة على القادر عليها ماديا وهي على الرجل المكلف بالنفقة وتكون باسمه وأهل بيته. قال النبي صلى الله عليه وسلم :

((يا أيها الناس إن على كل أهل بيت في كل عام أضحية…)).

أما ذبح الأضاحي في المساجد وما حولها مثل حوشه وما أشبه ذلك. فهذه بدعة. لم نسمع بأحد فعلها إلا أهل أندونسيا. لأن الدم المسفوح نجس, ولا يجوز أن يسفح في المساجد وما حولها, لأن هذا العمل تنجيس لها. وقد قال الله عز وجل :

((قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ)) الأنعام : 145.

ذبح الأضحية إما في المجزرة أو في الفضاء وإلا فكل واحد يذبح أضحيته في بيته. اتقوا الله يا أهل أندونسيا لا تنجسوا المساجد بالدم المسفوح الذي هو نجس بصريح القرآن وبإجماع العلماء من زمن الصحابة إلى الآن.

أما كونه يوكل الجزار في ذبح أضحيته, فأنت إذا أعطيته وقلت له “اذبح لي أضحيتي” فذالك توكيل منك له. وبالله التوفيق.

أملى هذه الفتوى

فضيلة الشيخ أحمد بن يحيى النجمي

19 شوال 1428 هـ

 

WAKTU PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN[60]

Awal Waktu

Awal waktu menyembelih hewan qurban adalah setelah shalat Ied secara langsung, tidak dipersyaratkan menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan shalat Ied, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran shalat Ied. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum waktunya maka diqadha pada waktunya bila qurbannya wajib karena nadzar. Atau dinilai sebagai daging biasa bila qurban yang sunnah serta diperbolehkan untuk menggantinya pada waktunya bila menghendaki. Dalilnya adalah hadits-hadits berikut:
a. Hadits Al-Bara` bin ‘Azib, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلىَّ صَلَاتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى

“Barangsiapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih hewan qurban seperti kami, maka telah benar qurbannya. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553)
Hadits senada juga datang dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no. 1552).
b. Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556) dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah yang menyembelih sebelum shalat. Rasulullah bersabda:

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya saja.”
Dalam lafadz lain (no. 5560) disebutkan:

وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang menyembelih (sebelum shalat), maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan qurban sedikitpun.”

Akhir Waktu

Waktu penyembelihan hewan qurban adalah 4 hari, hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya matahari di hari keempat yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.
Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan Al-Bashri imam penduduk Bashrah, ‘Atha` bin Abi Rabah imam penduduk Makkah, Al-Auza’i imam penduduk Syam, Asy-Syafi’i imam fuqaha ahli hadits rahimahumullah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/411-412).
Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim  sebagai berikut:
1. Hari-hari tersebut adalah hari-hari Mina.
2. Hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyriq.
3. Hari-hari tersebut adalah hari-hari melempar jumrah.
4. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang diharamkan puasa padanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى

“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah.”
Adapun hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata:

كَانَ الْـمُسْلِمُونَ يَشْرِي أَحَدُهُمُ الْأُضْحِيَّةَ فَيُسَمِّنُهَا فَيَذْبَـحُهَا بَعْدَ الْأضْحَى آخِرَ ذِي الْحِجَّةِ

“Dahulu kaum muslimin, salah seorang mereka membeli hewan qurban lalu dia gemukkan kemudian dia sembelih setelah Iedul Adha di akhir bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Baihaqi, 9/298)
Al-Imam Ahmad mengingkari hadits ini dan berkata: “Hadits ini aneh.” Demikian yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/193). Wallahu a’lam.

Menyembelih di Waktu Siang atau Malam?

Tidak ada khilaf di kalangan ulama tentang kebolehan menyembelih qurban di waktu pagi, siang, atau sore, berdasarkan firman Allah:
“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)
Mereka hanya berbeda pendapat tentang menyembelih qurban di malam hari. Yang rajih adalah diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/413) dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no. fatwa 9525). Yang dimakruhkan adalah tindakan-tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya, seperti kurang terkoordinir pembagian dagingnya, dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa.
Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari dan menyebutkan malam), tidaklah menunjukkan persyaratan, namun hanya menunjukkan keafdhalan saja.
Adapun hadits yang diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Ibnu ‘Abbas dengan lafadz:

نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ الذَبْحِ بِاللَّيْلِ

“Nabi ﷺ melarang menyembelih di malam hari.”
Al-Haitsami dalam Al-Majma’ (4/23) menyatakan: “Pada sanadnya ada Salman bin Abi Salamah Al-Janabizi, dia matruk.”
Sehingga hadits ini dha’if jiddan (lemah sekali). Wallahu a’lam. (lihat Asy-Syarhul Kabir, 5/194)

 

SIFAT DAN TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN

Tata Cara Menyembelih Hewan Qurban[61]

Berikut ini akan disebutkan beberapa hukum dan adab seputar penyembelihan hewan, baik itu qurban ataupun yang lain.

  1. Hewan sembelihan dinyatakan sah dan halal dimakan bila terpenuhi syarat-syarat berikut:
  2. Membaca basmalah tatkala hendak menyembelih hewan. Dan ini merupakan syarat yang tidak bisa gugur baik karena sengaja, lupa, ataupun jahil (tidak tahu). Bila dia sengaja atau lupa atau tidak tahu sehingga tidak membaca basmalah ketika menyembelih, maka dianggap tidak sah dan hewan tersebut haram dimakan. Ini adalah pendapat yang rajih dari perbedaan pendapat yang ada. Dasarnya adalah keumuman firman Allah:

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (Al-An’am: 121)

Syarat ini juga berlaku pada penyembelihan hewan qurban. Dasarnya adalah hadits Anas riwayat Al-Bukhari (no. 5565) dan Muslim (no. 1966), bahwa Nabi berqurban dengan dua kambing kibasy yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk:

وَيُسَمِّي وَيُكَبِّرُ

“Beliau membaca basmalah dan bertakbir.”

  1. Yang menyembelih adalah orang yang berakal. Adapun orang gila tidak sah sembelihannya walaupun membaca basmalah, sebab tidak ada niat dan kehendak pada dirinya, dan dia termasuk yang diangkat pena takdir darinya.
  2. Yang menyembelih harus muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nasrani). Untuk muslim, permasalahannya sudah jelas. Adapun ahli kitab, dasarnya adalah firman Allah :

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu.” (Al-Ma`idah: 5)

Dan yang dimaksud ‘makanan’ ahli kitab dalam ayat ini adalah sembelihan mereka, sebagaimana penafsiran sebagian salaf.

Pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama, sembelihan ahli kitab dipersyaratkan harus sesuai dengan tata cara Islam.

Sebagian ulama menyatakan, terkhusus hewan qurban, tidak boleh disembelih oleh ahli kitab atau diwakilkan kepada ahli kitab. Sebab qurban adalah amalan ibadah untuk taqarrub kepada Allah, maka tidak sah kecuali dilakukan oleh seorang muslim. Wallahu a’lam.

  1. Terpancarnya darah

Dan ini akan terwujud dengan dua ketentuan:

  1. Alatnya tajam, terbuat dari besi atau batu tajam. Tidak boleh dari kuku, tulang, atau gigi. Disyariatkan untuk mengasahnya terlebih dahulu sebelum menyembelih. Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khadij, dari Nabi, beliau bersabda:

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ، أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ

“Segala sesuatu yang memancarkan darah dan disebut nama Allah padanya maka makanlah. Tidak boleh dari gigi dan kuku. Adapun gigi, itu adalah tulang. Adapun kuku adalah pisau (alat menyembelih) orang Habasyah.” (HR. Al-Bukhari no. 5498 dan Muslim no. 1968)

Juga perintah Rasulullah kepada Aisyah ketika hendak menyembelih hewan qurban:

يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ. ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ

“Wahai Aisyah, ambilkanlah alat sembelih.” Kemudian beliau berkata lagi: “Asahlah alat itu dengan batu.” (HR. Muslim no. 1967)

  1. Dengan memutus al-wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan. Inilah persyaratan dan batas minimal yang harus disembelih menurut pendapat yang rajih. Sebab, dengan terputusnya kedua urat tersebut, darah akan terpancar deras dan mempercepat kematian hewan tersebut.

 

 

Faedah

Pada bagian leher hewan ada 4 hal:

1-2. Al-Wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan

  1. Al-Hulqum yaitu tempat pernafasan.
  2. Al-Mari`, yaitu tempat makanan dan minuman.

 

Rincian hukumnya terkait dengan penyembelihan adalah:

– Bila terputus semua maka itu lebih afdhal.

– Bila terputus al-wadjan dan al-hulqum maka sah.

– Bila terputus al-wadjan dan al-mari` maka sah.

– Bila terputus al-wadjan saja maka sah.

– Bila terputus al-hulqum dan al-mari`, terjadi perbedaan pendapat. Yang rajih adalah tidak sah.

– Bila terputus al-hulqum saja maka tidak sah.

– Bila terputus al-mari` saja maka tidak sah.

– Bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53)

  1. Merebahkan hewan tersebut dan meletakkan kaki pada rusuk lehernya, agar hewan tersebut tidak meronta hebat dan juga lebih menenangkannya, serta mempermudah penyembelihan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, tentang tata cara penyembelihan yang dicontohkan Rasulullah :

وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا

“Dan beliau meletakkan kakinya pada rusuk kedua kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)

Juga hadits Aisyah:

فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ

“Lalu beliau rebahkan kambing tersebut kemudian menyembelihnya.”

III. Disunnahkan bertakbir ketika hendak menyembelih qurban, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas di atas, dan diucapkan setelah basmalah.

  1. Bila dia mengucapkan:

بِسْمِكَ اللَّهُمَّ أَذْبَحُ

“Dengan nama-Mu ya Allah, aku menyembelih”, maka sah, karena sama dengan basmalah.

  1. Bila dia menyebut nama-nama Allah selain Allah, maka hukumnya dirinci.
  2. Bila nama tersebut khusus bagi Allah dan tidak boleh untuk makhluk, seperti Ar-Rahman, Al-Hayyul Qayyum, Al-Khaliq, Ar-Razzaq, maka sah.
  3. Bila nama tersebut juga bisa dipakai oleh makhluk, seperti Al-‘Aziz, Ar-Rahim, Ar-Ra`uf, maka tidak sah.
  4. Tidak disyariatkan bershalawat kepada Nabi ketika menyembelih, sebab tidak ada perintah dan contohnya dari beliau maupun para sahabatnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/408)

VII. Berwudhu sebelum menyembelih qurban adalah kebid’ahan, sebab tidak ada contohnya dari Rasulullah dan salaf.

Namun bila hal tersebut terjadi, maka sembelihannya sah dan halal dimakan, selama terpenuhi ketentuan-ketentuan di atas.

VIII. Diperbolehkan berdoa kepada Allah agar sembelihannya diterima oleh-Nya. Sebagaimana tindakan Rasulullah, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, terimalah (sembelihan ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967, dari Aisyah)

  1. Tidak diperbolehkan melafadzkan niat, sebab tempatnya di dalam hati menurut kesepakatan ulama. Namun dia boleh mengucapkan:

اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانِ

“Ya Allah, sembelihan ini dari Fulan.”

Dan ucapan tersebut tidak termasuk melafadzkan niat.

  1. Yang afdhal adalah men-dzabh (menyembelih) sapi dan kambing. Adapun unta maka yang afdhal adalah dengan nahr, yaitu disembelih dalam keadaan berdiri dan terikat tangan unta yang sebelah kiri, lalu ditusuk di bagian wahdah antara pangkal leher dan dada.

Diriwayatkan dari Ziyad bin Jubair, dia berkata: Saya pernah melihat Ibnu ‘Umar mendatangi seseorang yang menambatkan untanya untuk disembelih dalam keadaan menderum. Beliau berkata:

ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً، سُنَّةُ مُحَمَّدٍ

“Bangkitkan untamu dalam keadaan berdiri dan terikat, (ini) adalah Sunnah Muhammad.” (HR. Al-Bukhari no. 1713 dan Muslim no. 1320/358)

Bila terjadi sebaliknya, yakni me-nahr kambing dan sapi serta men-dzabh unta, maka sah dan halal dimakan menurut pendapat jumhur. Sebab tidak keluar dari tempat penyembelihannya.

  1. Tidak disyaratkan menghadapkan hewan ke kiblat, sebab haditsnya mengandung kelemahan.

Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu ‘Ayyasy Al-Mu’afiri, dia majhul. Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2795) dan Ibnu Majah (no. 3121).

XII. Termasuk kebid’ahan adalah melumuri jidat dengan darah hewan qurban setelah selesai penyembelihan, karena tidak ada contohnya dari Nabi dan para salaf. (Fatwa Al-Lajnah, 11/432-433, no. fatwa 6667)

Lupa Basmalah, Apakah Hewan Qurban Boleh Dimakan?[62]

Jika seseorang lupa mengucap bismillah ketika hendak menyembelih maka – dari pendapat yang terkuat – hukum sembelihan tersebut adalah tidak boleh dimakan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“ Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah Azza wa Jalla ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. “ (Al An’am: 121 )

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما أنْهَرَ الدَم وذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ

“Sembelihan yang telah dialirkan darahnya dan disebut nama Allah padanya maka makanlah“ HR Al Bukhari ( 5176 ) dan  Muslim ( 1929 )

Dari ayat dan hadits diatas kita ketahui bahwa syarat hewan sembelihan untuk bisa dimakan adalah harus dibacakan padanya nama Allah ( baca Bismillah ) disaat menyembelihnya.

Namun suatu hal yang perlu diketahui bahwa dalam masalah ini – yaitu menyebut nama Allah Ta’ala pada sembelihan atau pada buruan – memang ada perbedaan pendapat dikalangan ulama menjadi beberapa pendapat sebagai berikut :

PERTAMA : bahwa membaca Basmalah tidaklah wajib pada hewan buruan dan tidak wajib pula bagi sembelihan. Tak lain hukumnya adalah sunnah. Mereka berdalil dengan hadits yang tidak shahih :

“Sembelihannya seorang muslim adalah halal walaupun tidak disebut nama Allah padanya“ hadits dho’if : dikeluarkan Abu Daud di Marasil ( 378 ) dan Al Baihaqi ( 9/243 ) dan Ad Daruqutni  ( 4/295) dan keduanya mendhoifkannya juga didhoifkan oleh ibnul Qotthon di “ Bayanul Wahm wal Iham” (1369) dan syaikh Al Abany di Dho’if Al Jami’ ( 3039)

KEDUA : bahwa menyebut nama Allah Ta’ala adalah wajib dan gugur (wajibnya basmalah )  jika lupa dan tidak tahu hukumnya pada sembelihan maupun buruan.

KETIGA : Bahwa menyebut nama Allah Ta’ala adalah syarat pada sembelihan dan buruan namun gugur karena lupa pada sembelihan sementara tidak bisa gugur pada buruan.

Ini adalah pendapat yang masyhur dari para ulama fiqih madzab Hambali, bahwa apabila tidak menyebut nama Allah pada buruan sekalipun dikarenakan lupa  maka hewan buruan itu haram, jika lupa membaca nama Allah Ta’ala pada sembelihan maka ia halal. Apa dalil mereka ?

Mereka menjawab : karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Adiy bin hatim dan Abi Tsa’labah Al khusyani ketika melepas anak panah :

“ Apabila engkau melepas anak panahmu dan engkau telah menyebut nama Allah padanya maka makanlah ( binatang buruan itu) “ HR. Muslim ( 1929 )

Maka Beliau menjadikan halalnya untuk dimakan dengan dua syarat : pertama : niat yaitu melepas anak panah dan kedua : menyebut nama Allah.

Kita katakan ( kata Asy Syaikh Al Utsaimin ) : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga telah mengatakan dalam hal sembelihan :

“sembelihan yang telah dialirkan darahnya dan disebutkan nama Allah padanya maka makanlah“ HR Al Bukhari ( 5176 ) dan  Muslim ( 1929 )

Maka beliau mensyaratkan dua syarat : pertama dialirkan darahnya ( dengan disembelih ) dan kedua : menyebut nama Allah.

Maka tidak ada beda (antara buruan dan sembelihan), lantas kita katakan : kalau kita memberikan udzur/keringanan “karena lupa” pada sembelihan maka tentunya terlebih lagi pada binatang buruan, karena pada buruan waktunya datang dengan tiba-tiba dan butuh cepat. Dan para pemburu cenderung buyar pikirannya apabila melihat binatang buruan, sehingga terkadang dia terjatuh kedalam lubang atau terbentur batang pohon sementara ia tidak merasa maka hal itu tentunya lebih pantas untuk dapat udzur/keringanan dari pada seseorang yang menyembelih yang cenderung lebih tenang dan iapun sempat membaringkan hewan sembelihannya dan lalu lupa untuk mengucapkan bismillah.

KEEMPAT : bahwa mengucapkan basmallah atau menyebut nama Allah Ta’ala adalah syarat (untuk bisa dimakan) baik pada sembelihan maupun pada buruan. Dan tidak bisa gugur disebabkan karena lupa dan tidak mengerti hukumnya. Ini merupakan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan pendapat inilah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil.

 

Kalau ada orang yang berkata : bagaimana pendapatmu kalau lupa mengucap basmalah pada sembelihan seekor unta yang harganya lima ribu real dan kita katakan tidak halal dimakan, maka berarti tersia-siakan lima ribu real (senilai + Rp. 15 juta).

Maka bisa dijawab : hal itu termasuk perkara yang Allah berikan kemampuan bagi manusia untuk bisa melakukannya ( menyia-nyiakan sembelihan yang tidak disebut nama Allah padanya)

Jika ada yang berkata : dengan demikian berarti kalian menghilangkan harta orang.

Kita katakan : ini adalah seperti ucapan orang yang mengatakan : apabila engkau memotong tangan pencuri berarti menjadikan separoh tangannya tak berfungsi dia tidak punya tangan lagi. Sementara dengan dipotongnya tangan pencuri maka menjadi sedikit pencurian dan tidak ada orang yang berani mencuri.  Demikian juga apabila kita katakan kepada orang yang lupa mengucap bismillah saat mau menyembelih itu : sembelihanmu adalah haram untuk dimakan. Maka apabila dia akan menyembelih berikutnya yang kedua : maka mungkin dia akan menyebut nama Allah Ta’ala sepuluh kali dia tidak akan lupa lagi untuk seterusnya.  Dengan demikian kita telah menjaga syiar ini bahwasannya harus menyebut nama Allah Ta’ala pada sembelihan.

( lihat Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyyah Fii Masail Khilafiyyah liFadhilatis Syaikh Al Allamah Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin hal 514-516 cet. Dar AlMawaddah Riyadh )

Wallahu A’lam bis Showab.

Siapa yang Berhak Menyembelih Qurban Sapi yang Berserikat[63]

TANYA :

Siapakah yang berhak menyembelih kurban sapi yang berserikat darinya tujuh orang?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Ya tinggal dipilih siapa yang menyembelih, apakah salah satunya, atau diwakilkan.

Perlukah Disebutkan Nama-nama Orang dalam Penyembelihan Berserikat 7 Orang[64]

TANYA :

Penyembelihan yang berserikat tujuh orang, apakah perlu disebutkan nama-nama orang tersebut setelah basmallah dan takbir?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Tidak mengapa disebutkan nama-namanya ketujuh orang tersebut, termasuk diantara hal yang sunnah.

Bolehkah Menyembelih Qurban Menggunakan Samurai atau Pedang[65]

TANYA :

Bolehkah menyembelih hewan kurban menggunakan samurai atau pedang untuk berperang?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Boleh, asal jangan yang tumpul, yang tajam.

 

PEMBAGIAN DAGING QURBAN DAN HASIL QURBAN

Yang Dimakan dan Yang Dibagikan dari Hewan Qurban[66]

Disyariatkan bagi yang berqurban memakan dari hewan qurbannya, menghadiahkan dan bersedekah dengannya berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala :

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ( ….

supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan  atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS.Al-Hajj:28)

Dan firman-Nya:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ( ….

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri . Kemudian apabila telah roboh, maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya  dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS.Al-Hajj:36)

Yang dimaksud Al-Qani’ adalah orang yang meminta yang menghinakan diri.

Al-Mu’tar adalah yang menginginkan mendapat pemberian tanpa meminta.

 

 

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

“Makanlah, berilah makan dan simpanlah.”

(HR.Bukhari, Kitab: Al-Adhahi, bab: Maa yu’kalu min luhumil adhahi wamaa yutazawwadu minha, no:5569)

Memberi makan disini mencakup hadiah untuk orang- orang kaya dan sedekah kepada orang- orang miskin.

Dari Aisyah bahwa Nabi bersabda:

فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا

“Makanlah, simpanlah dan sedekahkanlah.”

(HR.Muslim, Kitab: Al-Adhahi, bab: Maa kaana an-nabiyyu ‘an akli luhuumil adhaahi, no:1971)

Telah berselisih para ulama semoga Allah merahmati mereka tentang kadar berapa yang dia makan, yang ia hadiahkan dan yang ia sedekahkan. Dan perkara ini mudah, namun yang baik ia memakan sepertiga, menghadiahkan sepertiga dan bersedekah dengannya sepertiga. Apa yang boleh dimakan, maka boleh disimpan meskipun dalam waktu yang lama selama tidak sampai kepada batas yang dapat merusak dagingnya jika dimakan. Kecuali dimasa-masa tahun kelaparan, maka tidak boleh menyimpannya lebih dari tiga hari, berdasarkan hadits Salamah bin Akwa’ radiallahu anhu berkata: bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

من ضَحَّى مِنْكُمْ فلا يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وفي بَيْتِهِ منه شَيْءٌ فلما كان الْعَامُ الْمُقْبِلُ قالوا يا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كما فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قال كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فإن ذلك الْعَامَ كان بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فيها

“Siapa diantara kalian yang berqurban, maka jangan dia menyisakan di rumahnya sedikitpun setelah malam ketiga.”Tatkala di tahun kemudian, mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami tetap melakukan seperti yang kami lakukan di tahun yang lalu?”, maka Nabi menjawab: “Makanlah, berilah makan dan simpanlah. Sesungguhnya tahun lalu manusia dalam keadaan lapar, maka aku ingin kalian menolongnya.” Muttafaq Alaihi.

Tidak ada perbedaan dalam hal bolehnya memakan dan memberi hadiah dari hewan qurban baik yang hukumnya anjuran (mustahab) ataupun wajib. Tidak ada perbedaan pula antara hewan qurban atas nama yang hidup maupun orang yang telah mati atau wasiat, sebab yang diberi wasiat sama kedudukannya dengan yang memberi wasiat dan yang memberi wasiat bisa memakan, menghadiahkan dan bersedekah dengannya. Ini merupakan kebiasaan yang terjadi diantara manusia dan yang yang menjadi kebiasaan manusia sama halnya seperti diucapkan secara lafazh.

Adapun seorang yang diwakilkan, jika yang mewakilkan telah mengijinkan wakilnya untuk memakan, memberi hadiah dan bersedekah atau ada penguat yang menunjukkan perijinan atau sudah menjadi kebiasaan di daerah tersebut, maka ia boleh melakukannya. Namun jika tidak mendapat perijinan, maka ia harus menyerahkan kepada yang mewakilkan tersebut untuk membaginya.

Diharamkan menjual sedikitpun dari hewan qurban baik dagingnya atau yang lainnya seperti kulit dan jangan dia memberikan kepada tukang potongnya sebagai imbalan dari upahnya atau sebagiannya sebab hal itu semakna dengan menjualnya.

Adapun yang telah diberikan kepadanya dalam bentuk hadiah atau sedekah, maka ia boleh berbuat sekehendaknya dari daging qurban tersebut seperti menjualnya dan yang lainnya asalkan dia tidak menjualnya kepada yang menghadiahkan atau menyedekahkan kepadanya.

_______________

Dari Kitab : “Talkhis Kitab Ahkam Al Udhiyah wa Adz Dzakat”

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Terjemah : Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahullah

Daging Kurban Dibagikan Ketika Sudah Dimasak atau Mentah[67]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa hadiah atau sedekah (dengan daging kurban) itu dengan daging mentah belum dimasak:

ثم إن الإهداء والصدقة إنما يكون باللحم النيئ دون المطبوخ، إذا كان يوم العيد وضحيت فأرسل إلى الفقراء ما تيسر، وأهدي إلى جيرانك وأصدقائك ما تيسر وكلِ الباقي.

“Kemudian memberi hadiah atau sedekah (dengan daging kurban) itu dengan daging mentah belum dimasak. Jika datang hari idul adha kemudian engkau berkurban, lalu engkau mengirimkan yang dimudahkan kepada orang-orang fakir miskin, dan memberi hadiah kepada tetanggamu dan teman karibmu yang dimudahkan dan makanlah sisanya.” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb rekaman yang ke 123)

Namun tidak berarti bersedekah dan memberi hadiah dengan daging kurban masak tidak boleh, di sana ada fatwa haiah kibar ulama

Pertanyaan : Apakah hukumnya menyembelih qurban, dan mana yang lebih utama, dagingnya dibagikan mentah atau matang, karena ada yang mengatakan bahwa sepertiga dari daging hewan qurban yang dikhususkan untuk bersedekah tidak boleh dimasak dan tidak boleh dipotong-potong tulangnya ?

Jawab :
Menyembelih hewan qurban hukumnya sunnah kifayah, dan sebagian ulama ada yang mewajibkannya (fardlu ‘ain), mengenai pembagian dagingnya, baik dalam keadaan dimasak atau mentah boleh keduanya, dan disyari’atkan agar yang berqurban memakan sebagian dari qurbannya, menghadiahkannya (kepada kerabat atau tetangga dll) serta bersedekah. (maksudnya agar daging hewan qurban tersebut, dibagi menjadi tiga bagian : pertama untuk dimakan oleh yang berkurban dan keluarganya, kedua dibagikan kepada kerabat, tetangga atau kenalan dan ketiga untuk kaum faqir-miskin.) (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No 9563)

Dari Abi Dzar Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak maraq, maka perbanyaklah airnya dan bagilah dengan tetanggamu.” (HR. Muslim)
Maraq biasanya dari daging atau lauk lainnya.

السؤال: ما هو حكم الأضحية، وما هو الأفضل، هل تقسم لحما أم طبخها أفضل؟ علما أن فيه بعض الناس يقول: إنه لا يجوز في الثلث الذي يتصدق به أن يطبخه أو يكسر عظمه.
الجواب: الأضحية سنة كفاية، وقال بعض أهل العلم: هي فرض عين، والأمر في توزيعها مطبوخة أو غير مطبوخة واسع، وإنما المشروع فيها أن يأكل منها، ويهدي، ويتصدق. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء الفتوى رقم (9563)
عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=53351

وعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( يا أبا ذر ، إذا طبخت مرقة ؛ فاكثر ماءها وتعاهد جيرانك )) رواه مسلم

Adakah Dalil tentang Pembagian Daging Qurban Menjadi 3 Bagian?[68]

Berkata Al Imam Al Albani rahimahullah:

“Hewan qurban hendaknya disedekahkan dengannya tanpa ada pembatasan khusus pada pembagiannya sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang: yaitu sepertiga sepertiga.

            Sepertiga untuk dia makan di hari ‘ied.

            Sepertiga untuk dia sedekahkan.

            Sepertiga untuk dia simpan.

Pembagian ini tidak ada landasannya (tidak ada dalilnya,-pen).

Adapun pembagian menjadi tiga macam TANPA PEMBATASAN maka ini warid (ada dalilnya)

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: (Dahulu aku melarang kalian untuk menyimpan daging qurban, maka sungguh makanlah kalian, dan sedekahkanlah dan simpanlah)

Tanpa ada pembatasan (sepertiga ⅓-pen).

Sumber : Silisilah Al Huda wa An Nur, Kaset No. 208

Alih bahasa: Syabab SaLaM

 هذا التثليث لا أصل له

 قال الإمام الألباني رحمه الله :

الأضحية لابد من أن يتصدق منها بشيء دون تحديد كما يزعم البعض :

»»» ثلاثة أثلاث :

> ثلث يأكله في العيد

> وثلث يتصدق به

> وثلث يدخره

هذا التثليث لا أصل له

وإنما تقسيم ثلاثة أقسام دون تحديد هذا وارد

لأن النبي عليه الصلاة والسلام قال:

(كنت نهيتكم عن ادخار لحوم الأضاحي، ألا فكلوا وتصدقوا وادَّخروا)

ما حدَّد

 المصدر :

[من سلسلة الهدى والنور ، شريط رقم (208)]

Hukum Mengambil Sebagian Daging Qurban untuk Dimakan Bersama[69]

TANYA :

Mengambil sebagian daging dari hewan kurban untuk dimasak dan dimakan bersama ikhwan dan panitia pada saat istirahat di siang hari, apakah hal tersebut ada sunnah dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya? Acara tersebut rutin kami lakukan setiap tahunnya, dan acara tersebut melibatkan ummahat, dan mereka para ummahat makan bersama ummahat lainnya.

JAWAB :

Oleh Ustadz Askari hafizhahulloh

Tidak mengapa, berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu Wata'ala menganjurkan untuk makan hasil kurbannya.

Bolehkah Daging Hewan Qurban Dijadikan Makanan Walimatul 'Ursy[70]

TANYA :

Bolehkah daging hewan kurban dijadikan makanan walimatul 'ursy?

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Boleh.

Bolehkah Mengumpulkan Kulit Hewan Qurban Untuk Pembangunan Masjid dan Semisalnya[71]

Asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah

PERTANYAAN :

Kepada Fadhilatus Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah. Assalamualaikum warahmatullah.

Kami adalah panitia pembangunan masjid di kota Sidi Bal’abbas (sebuah kota di Aljazair –pent). Bertepatan dengan Idhul Adha yang penuh berkah ini, kami mengumpulkan kulit hewan qurban dari penduduk kampung. Dan sebelumnya kami telah memberitahu mereka bahwa kami melakukan kegiatan ini dalam rangka meminta mereka untuk menyedekahkan kulit yang masih bagus untuk masjid. Panitia akan mengumpulkannya dan menjualnya, lalu menggunakan uang dari hasil penjualan tersebut untuk pembangunan masjid. Dan memang demikianlah yang dilakukan. Maka kami bertanya kepada Samahatus Syaikh apakah perbuatan ini mengandung penyelisihan terhadap syari’at? Mohon penjelasannya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

JAWABAN :

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَإِخْوَانِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Hukum dari pengelolaan semacam ini untuk menentukan boleh tidaknya maka dasarnya adalah kembali kepada hukum menjual kulit hewan qurban. Para ahli fikih berbeda pendapat tentang hukumnya. Pendapat yang paling kuat adalah tidak boleh menjual sedikitpun dari bagian hewan qurban, baik kulitnya maupun yang lain. Dan ini merupakan pendapat madzhab Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad pada riwayat yang mayshur, dan juga pendapat Abu Yusuf shahabat Abu Hanifah rahimahumullah.

Hal ini berdasarkan riwayat yang shahih dari Ali radhiyallahu anhu dia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi was sallam memerintahkan kepadaku untuk mengurusi onta beliau yang dijadikan sebagai qurban dan agar membagi-bagikan perlengkapannya (pelananya, bekas tali kekang, sepatunya dll –pent) dan kulitnya, dan beliau memerintahkan agar saya tidak memberi orang yang menyembelihnya sedikitpun darinya. Dan beliau mengatakan:

نَحْنُ نُعْطِيْهِ مِنْ عِنْدِنَا.

“Kami akan memberi upah tersendiri dari kami.” [1]

(HR. Al-Bukhary no. 1716, Muslim no. 1317, Ahmad I/69, dan Ad-Darimy II/74 dari hadits Ali radhiyallahu anhu. Lihat juga: Irwaa’ul Ghaliil no. 1161)

Atas dasar ini maka tidak boleh mengelola kulit hewan qurban kecuali sebatas yang dibolehkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, yaitu dengan memanfaatkan kulitnya dengan dibuat sandal, sepatu, pakaian, tas, dan semisalnya. Jadi kedudukannya seperti waqaf.

Demikianlah, dan jika telah jelas bahwa pengelolaan semacam ini tidak boleh dilakukan sendiri, maka tidak boleh juga dengan cara digantikan oleh orang lain. Dan sebuah tujuan tidak boleh membenarkan cara (yang diharamkan –pent).

Jadi kesucian masjid dalam hal memakmurkan, membangun, dan memperbagusnya, yang ini semua merupakan salah satu dua bentuk kesucian, sepantasnya untuk selalu disertai dengan saudaranya, yaitu berupa kesucian iman, bahkan kesucian pertama tadi bersumber darinya.

وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنْ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَإِخْوَانِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Aljazair, 12 Rabi’uts Tsani 1422 H yang bertepatan dengan 22 Juni 2002

Alih bahasa: Abu Almass

Hukum Menjual Kulit Qurban dan Menukar dengan Daging[72]

PERTANYAAN :

Bagaimana hukum menjual kulit kurban dan menukar dengan daging?

JAWABAN  (Oleh: Al Ustadz Qomar Su’aidi)

Menjual kulit, nabi katakan :

(من باع أضحيته فلا أضحية له)

“Seorang yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tiada kurban baginya”

Bararti berat ini ya, dianggap TIDAK ADA KURBAN baginya oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jadi DIHINDARI!! ,

Walaupun sebagian ulama’ada yang mengatakan boleh tapi itu pendapat sebagian ulama’ yang mungkin benar mungkin salah. Kalo sekali lagi untuk dibelikan daging, dishodaqohkan juga, tapi ini pendapat masih perlu dikaji, ya kan?!

Kalo hadits nabi sudah jelas.

Maka dari itu sekarang tinggal bagaimana caranya, dan itu mudah, kasihkan saja orang yang memang membutuhkan lebih dari yang lain, ini biasanya mungkin satu keluarga, kita kasih 1kg atau 1/2 kg.

Untuk(orang) ini 1/2 kg + kulit misalnya, setelah dia miliki mau dijual boleh, mau dia keringkan boleh, mau dia bikin kerupuk boleh, mau dia bikin jaket kulit boleh, terserah.. urusan dia.

Kalo mau dijual (oleh penerima) kita tunjukkan. misalnya dimana jualnya, (kita jawab) itu disana. Kadang orang tidak tahu kemana menjualnya, (maka) kita tunjukkan.

Yang penting bagi kita ‘sebagai penanggung jawab’ sudah melaksanakan tugas,(yaitu) tidak boleh menjual.

Atau bagi saya yang berkurban -misalnya- sudah melaksanakan hukum Allah, (yaitu) tidak boleh menjual.  (Intinya) Saya kasihkan orang.. setelah dimiliki, terserah dia.

Bolehkah Menjual Kulit Qurban untuk Dibelikan Hewan Qurban Lagi?[73]

TANYA :

Bolehkah kulit kurban dijual untuk dibelikan hewan kurban lagi dari uang hasil penjualannya?

 

JAWAB :

Oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askary hafizhahullah

Tidak diperbolehkan.

 

 

 

HADITS HADITS LEMAH SEPUTAR IBADAH QURBAN[74]

Kesempurnaan Sembelihan

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِي ﷺ قَالَ: أُمِرْتُ بِيَوْمِ اْلأَضْحَى عِيْدًا جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ. قَالَ الرَّجُلُ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ أَجِدْ إِلاَّ أُضْحِيَّةً أُنْثَى أَفَأُضَحِّي بِهَا؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَأَظْفَارِكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَتِلْكَ تَمَامُ أُضْحِيَّتِكَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Aku diperintahkan pada hari Adha sebagai hari raya. Allah menghadiahkannya untuk umat ini.” Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana pendapatmu (kabarkan kepada saya) jika aku tidak mendapatkan kecuali sembelihan hewan betina, apakah aku menyembelihnya?” Beliau menjawab: “Jangan. Akan tetapi ambillah dari rambut dan kukumu, cukur kumis serta bulu kemaluanmu. Itu semua sebagai kesempurnaan sembelihanmu di sisi Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2786)
Al-Mundziri menjelaskan: “Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i. Sanad hadits ini lemah di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama ‘Isa bin Hilal Ash-Shadafi. Tidak ada yang menguatkan kecuali Ibnu Hibban.”
Asy-Syaikh Al-Albani mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)

Sembelihan Dikhususkan Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

عَنْ حَنَشٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ أَوْصَانِي أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ فَأَنَا أُضَحِّي عَنْهُ

Dari Hanasy ia berkata: “Aku melihat ‘Ali bin Abi Thalib sedang menyembelih dua ekor domba. Kemudian aku bertanya: ‘Apa ini?’ Ali pun menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mewasiatkan kepadaku agar aku menyembelih hewan qurban untuknya, dan akupun menyembelihkan untuknya.” (HR. Abu Dawud no. 2786, At-Tirmidzi no. 1495)
Sanad hadits ini lemah, terdapat di dalamnya seorang rawi yang bernama Abul Hasna`, yang dia tidak dikenal. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)

Pahala di Setiap Rambut Hewan Qurban Bagi yang Berqurban

فِي اْلأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada setiap hewan qurban, terdapat kebaikan di setiap rambut bagi pemiliknya.” (HR. At-Tirmidzi. Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini maudhu’ (palsu).”)

Hewan Qurban Adalah Tunggangan di Atas Shirath

اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلىَ الصِّرَاطِ

“Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”
Hadits ini lemah sekali (dha’if jiddan). Dalam sanadnya ada Yahya bin Ubaidullah bin Abdullah bin Mauhab Al-Madani, dia bukanlah rawi yang tsiqah, bahkan matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan oleh para ulama). Juga ayahnya, Ubaidullah bin Abdullah, adalah seorang yang majhul. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani (2/14, no. hadits 527, dan 3/114, no. hadits 1255), Dha’iful Jami’ (no. 824). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 60 dan 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)

عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فِإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ

“Gemukkanlah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”
Hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya. Ibnu Shalah berkata: “Hadits ini tidak dikenal, tidak pula tsabit (benar datang dari Nabi ﷺ).” (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 64, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)

Darah Sembelihan Jatuh di Tempat Penyimpanan Allah

أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوا وَاحْتَسِبُوا بِدِمَائِهَا، فَإِنَّ الدَّمَ وَإِنْ وَقَعَ فِي الْأَرْضِ فَإِنَّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Wahai sekalian manusia, berqurbanlah dan harapkanlah pahala dari darahnya. Karena meskipun darahnya jatuh ke bumi namun sesungguhnya dia jatuh ke tempat penyimpanan Allah.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath)
Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya ada ‘Amr bin Al-Hushain Al-’Uqaili, dia matrukul hadits, sebagaimana dinyatakan Al-Haitsami. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani (2/16, no. hadits 530). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)
Wallahu ta’ala a’lam.

NASEHAT BAGI YANG AKAN MENYEMBELIH QURBAN[75]

Asy-Syaikh Fawaz Al-Madkhaly hafizhahullah

Seseorang hendaknya jangan menyebut-nyebut harga hewan kurban di majelis atau di kalangan teman-temannya, dan jangan menggerutu karena harganya naik drastis, karena dia akan menyembelihnya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan Allah selalu mendengar ucapannya. Bahkan hendaknya dia mempersembahkannya kepada Allah dengan jiwa yang lapang. Seandainya ada seorang datang kepadamu sebagai tamu dan engkau menyembelih hewan untuk menjamunya lalu dia mendengarmu menyebut-nyebut harga hewan yang engkau sembelih untuknya itu, kira-kira seperti apa tanggapannya dan bagaimana perasaannya?! (Tentu Allah lebih layak untuk dimuliakan –pent)

Dan berkaitan dengan telah dekatnya waktu menyembelih, maka wahai saudaraku muslim dan muslimah, jangan sekali-kali engkau menshare atau menulis karikatur atau gambar dalam bentuk apapun atau kemontar-komentar yang mengejek atau menghina hewan kurban. Karena hewan kurban termasuk syi’ar agama Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ.

“Demikianlah, dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah maka sesungguhnya hal itu termasuk bentuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Alih bahasa: Abu Almass

 

[1] Dinukil dari asysyariah.com/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[2] Dinukil dari asysyariah.com/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[3] Dinukil dari asysyariah.com/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[4] Dinukil dari asysyariah.com/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[5] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2014/10/fatwa-ulama-tentang-hukum-berkurban.html (03/10/2014)

 

[6] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-hukum-orang.html

[7] Sumber www.manhajul-anbiya.net/mana-yang-afdhal-lebih-utama-menyembelih-qurban-ataukah-bershadaqah-senilai-harga-qurban/ (18/09/2015)

[8] Sumber www.manhajul-anbiya.net/bolehkah-aqiqah-sekaligus-qurban/ (19/09/2015)

[9] Dinukil dari forumsalafy.net/tanya-jawab-fikih-qurban-bagian-2/ (22/09/2014)

[10] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1112 (01/10/2014)

[11] Sumber www.manhajul-anbiya.net/hukum-memperbanyak-udhiyyah-hewan-qurban-dalam-satu-rumah/ (16/09/2015)

[12] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-bolehkah_5716.html (17/10/2013)

[13] Sumber www.manhajul-anbiya.net/bolehkah-menyembelih-lebih-dari-satu-hewan-qurban-dan-hukum-berserikat-dalam-seekor-kambing/ (16/09/2015)

[14]Sumber  www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah_1812.html (17/10/2013)

[15]Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1141 (03/10/2014)

[16] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1139

[17] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1123 (02/10/2014)

[18] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1114 (02/10/2014)

[19] Dinukil dari asysyariah.com/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[20] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-bagaimana.html (17/10/2013)

[21] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2015/01/bolehkah-berkurban-mengatasnamakan.html (10/01/2015)

[22] Sumber asysyariah.com/sunnah-yang-terabaikan-bagi-orang-yang-mau-berkurban/ (17/11/2011) - Ditulis al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

[23] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah-wajib.html (18/10/2013)

[24] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-hukum_7532.html (18/10/2013)

[25] Dinukil dari asysyariah.com/tata-cara-menyembelih-hewan-qurban/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[26] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-untuk-kurban.html (18/10/2013)

[27] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-patungan.html (18/10/2013)

[28] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1144 (03/10/2014)

[29] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apa-hukum.html (17/10/2013)

[30] Dinukil dari forumsalafy.net/tanya-jawab-fikih-qurban-bagian-5/ (24/09/2014)

[31] Dinukil dari forumsalafy.net/tanya-jawab-fikih-qurban-bagian-2/ (22/09/2014)

[32] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-hukum-hewan.html (18/10/2013)

[33] Dinukil dari asysyariah.com/memilih-hewan-kurban/

[34] Dinukil dari asysyariah.com/memilih-hewan-kurban/

[35] Dinukil dari asysyariah.com/memilih-hewan-kurban/

[36] Dinukil dari www.salafybpp.com/fiqh/hewan-qurban-yang-afdhal-baik-jenis-atau-sifatnya-dan-yang-makruh (26/09/2014) - Terjemah : al-Ustadz Abu Muawiyah Askari

[37] Dinukil dari asysyariah.com/kriteria-ideal-hewan-qurban/ (17/11/2011)

[38] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-mana-yang.html (18/10/2013)

[39] Dinukil dari asysyariah.com/cacat-yang-menghalangi-keabsahan-hewan-qurban/ (17/11/2011)

[40] Dinukil dari asysyariah.com/cacat-yang-menghalangi-keabsahan-hewan-qurban/ (17/11/2011)

[41] Dinukil dari www.salafybpp.com/fiqh/hewan-qurban-yang-afdhal-baik-jenis-atau-sifatnya-dan-yang-makruh (26/09/2014) - Terjemah : al-Ustadz Abu Muawiyah Askari

[42] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1158 (03/10/2014)

[43] Sumber ahlussunnahkarawang.com/?p=1160 (03/10/2014)

[44] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah-sah_17.html (17/10/2013)

[45] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah-sah.html (17/10/2013)

[46] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah-boleh_1496.html (17/10/2013)

[47] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-hukum-sapi.html (18/10/2013)

[48] Dinukil dari salafybpp.com/fiqh/cara-menetapkan-hewan-qurban-dan-hukum-hukumnya (27/09/2014) diterjemahkan al Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahullah

[49] Dinukil dari salafybpp.com/fiqh/cara-menetapkan-hewan-qurban-dan-hukum-hukumnya (27/09/2014) diterjemahkan al Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahullah

[50] Dinukil dari salafybpp.com/fiqh/cara-menetapkan-hewan-qurban-dan-hukum-hukumnya (27/09/2014) diterjemahkan al Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahullah

[51] idem

[52] Dinukil dari asysyariah.com/tata-cara-menyembelih-hewan-qurban/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[53] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-bolehkah_8858.html (17/10/2013)

[54] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah-boleh.html (17/10/2013)

[55] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-apakah-hewan.html (17/10/2013)

[56] Sumber asysyariah.com/tempat-menyembelih-hewan-qurban/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[57] Sumber www.manhajul-anbiya.net/menyembelih-hewan-qurban-di-negeri-lain/ (18/09/2015)

[58] Sumber www.manhajul-anbiya.net/boleh-bagi-orang-yang-tinggal-di-negeri-asing-mengirimkan-uang-seharga-hewan-qurban-kepada-anak-anaknya-di-negeri-asalnya/ (18/09/2015)

[59] Sumber www.darussalaf.or.id/fatwa-ulama-tanya-jawab/bolehkah-menyembelih-hewan-qurban-di-masjid/?fdx_switcher=true

[60] Sumber asysyariah.com/waktu-penyembelihan-hewan-qurban/ (17/11/2011) - ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 

[61] Dinukil dari asysyariah.com/tata-cara-menyembelih-hewan-qurban/ (17/11/2011) ditulis al-Ustadz Muhammad Afifuddin

[62] Sumber www.darussalaf.or.id/fiqih/lupa-basmalah-sebelum-menyembelih-apakah-hewan-qurban-boleh-dimakan/ (20/10/2012)

[63] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-siapakah-yang.html (18/10/2013)

[64] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-penyembelihan.html (18/10/2013)

[65] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-bolehkah_2456.html (17/10/2013)

[66] Sumber www.salafybpp.com/fiqh/yang-dimakan-dan-yang-dibagikan-dari-hewan-qurban (28/09/2014)

[67] Sumber sunnah.web.id/daging-kurban-dibagikan-ketika-sudah-dimasak-atau-mentah/ (25/09/2015)

[68] Sumber salafymakassar.net/apakah-ada-dalil-tentang-pembagian-daging-qurban-menjadi-3-bagian/ (25/09/2015)

[69] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-hukum_6237.html (18/10/2013)

[70] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-bolehkah.html (17/10/2013)

[71] Sumber forumsalafy.net/bolehkah-mengumpulkan-kulit-hewan-qurban-untuk-pembangunan-masjid-dan-semisalnya/ (27/09/2014)

[72] Sumber forumsalafy.net/tanya-jawab-fikih-qurban-bagian-4/ (23/09/2014)

[73] Sumber www.thalabilmusyari.web.id/2013/10/pertanyaan-seputar-kurban-bolehkah_5774.html (17/10/2013)

[74] Dinukil dari asysyariah.com/sunnah-yang-terabaikan-bagi-orang-yang-mau-berkurban/ (17/11/2011) - Ditulis al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

 

[75] Sumber forumsalafy.net/nasehat-bagi-yang-akan-menyebelih-qurban/ (26/09/2014)

Postingan terkait:

2 Tanggapan

  1. Alhamdulillah terima kasih atas penjelasannya...jazakumullahu khoiron katsiron

    BalasHapus

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim