Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhuma

Angin panas gurun menerbangkan pasir menerpa tubuh-tubuh tak berdaya itu. Butir-butir pasir panas semakin menambah berat hari-hari mereka. Namun, janji dari Yang Maha Perkasa telah lekat dalam keyakinan. Bahwa, pertolongan-Nya subhanahu wa ta’ala sangatlah dekat. Seandainya tidak di dunia fana ini, pasti akan tergapai di akhirat sana.

Siksaan orang-orang kafir, berbagai kekejaman dan penistaan pada tubuh-tubuh lemah itu tidak mampu menggoyahkan kokohnya keimanan dalam qalbu mereka. Ya, orang-orang kafir itu hanya mampu menyakiti badan mereka. Para musuh Allah subhanahu wa ta’ala itu tidak kuasa menyentuh hati mereka.
صَبۡرًا يَا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوۡعِدَكُمُ الۡجَنَّةُ
“Sabarlah wahai keluarga Yasir, sungguh janji bagi kalian adalah surga.”
Janji mulia dari Rasul mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiada dusta, bukan pula pura-pura. Hati miris. Betapa sakit melihat saudara seiman tersiksa dengan hebat, sementara diri tidak bisa berbuat apa.

Ketika Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya disiksa di gurun pasir yang panas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati mereka. Beliau tidak mampu menolong mereka. Dengan sangat sedih beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kabar gembira itu, “Bersabarlah keluarga Yasir, sungguh janji kalian adalah surga.” Allahu Akbar! Janji siapa lagi yang diharap setelah seorang Rasul yang mengucapkan? Kenikmatan apalagi setelah surga yang abadi? Orang yang cerdask akan bersabar di alam fana ini untuk meraih kenikmatan kekal dan hakiki.

Keadaan kaum muslimin di awal Islam memang sangat lemah. Hanya beberapa orang yang bersegera menyambut dakwah kemenangan dan kebahagiaan ini. Itu pun sebagian besar adalah orang-orang yang lemah. Wanita, budak, atau seorang yang bukan bagian dari kabliah besar yang mampu melindungi. Keluarga Ammar termasuk yang ketiga.

Ayah Ammar, Yasir adalah seorang Arabi Qahthani Madzhaji. Yaitu berasal dari Yaman. Yasir pergi ke Makkah untuk mencari saudaranya. Di Makkah, beliau meminta perlindungan kepada Abu Hudzaifah bin Al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Kemudian menikah dengan Sumayyah, seorang budak dari Bani Makhzum. Terlahirlah Ammar. Sehingga, Ammar berwala’ kepada Bani Makhzum. Karena bukan asli Bani Makhzum, status suaka Ammar dan keluarga beliau sangat lemah.

Sehingga, orang-orang kafir Quraisy mudah menimpakan tekanan yang hebat kepada Ammar dan keluarganya. Apalagi, keluarga Ammar termasuk pertama yang menampakkan keislaman. Mujahid rahimahullah mengatakan, “Orang pertama yang menampakkan keislaman ada tujuh: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Bilal, Khabab, Shuhaib, Ammar, dan ibunya yaitu Sumayyah. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Begitu hebat siksaan musyrikin Quraisy kepada mereka. Sumayyah, Ibunda Ammar, adalah seorang syahidah pertama dalam Islam. Beliau wafat dengan sangat tragis. Musuh Allah, Abu Jahl menusukkan tombak pada bagian bawah perut beliau hingga wafat. Allah subhanahu wa ta’ala telah meridhai beliau.

Memang, siksaan yang sangat berat. Dipanggang di bawah terik matahari yang membakar, dipukul, dibiarkan kehausan dan kelaparan, hingga tidak mampu lagi untuk duduk tegak. Saking hebatnya siksaan itu, dengan berat dan terpaksa, Ammar radhiyallahu ‘anhuma menuruti kemauan orang kafir untuk mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyanjung sesembahan mereka. Sementara qalbu beliau penuh dengan keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan, “Ammar memenuhi dirinya, dari kepala sampai kakinya dengan keimanan.” [H.R. Ibnu Majah dan yang lainnya dari shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’]. Subhanallah!

Allah subhanahu wa ta’ala turunkan ayat tentang keadaan beliau.
مَن كَفَرَ بِٱللهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَـٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلْبُهُۥ مُطۡمَئِنٌّۢ بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرًا فَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٌ مِّنَ ٱللهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal qalbunya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” [Q.S. An Nahl: 106].
Demikian kesepakatan ulama yang disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah tentang ayat ini.

Sangat banyak keutamaan shahabat yang mulia, Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma. Beliau termasuk As Sabiqunal Awwalun (yang pertama masuk Islam), ikut serta dalam Baiatur Ridhwan, berhijrah ke Madinah, turut dalam perang Badar, dan seluruh peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun para ulama berselisih apakah beliau juga berhijrah ke Habasyah.

Ammar radhiyallahu ‘anhuma sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khalid bin Al Walid radhiyallahu ‘anhu pernah berkisah, “Pernah terjadi salah paham antara diriku dan Ammar. Sehingga ucapanku kepadanya sangat kasar. Maka Ammar mengadukanku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun kemudian balik mengadukannya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menyebutkan kalimat yang kasar kepada Ammar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam. Sementara Ammar menangis, dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidakkah engkau melihat Khalid?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala beliau. Kemudian bersabda, ‘Siapa yang memusuhi Ammar, Allah akan memusuhinya. Siapa yang membuat marah Ammar, Allah akan murka kepadanya.’ Sejak saat itu, -kata Khalid-, tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada keridhaan Ammar kepadaku. Aku pun menemuinya, sehingga Ammar ridha kepadaku.”

Hadits yang menujukkan keutamaan Ammar radhiyallanhu ‘anhuma sangat banyak. Sebagian yang telah disebutkan cukup menggambarkan kepada kita tentang kemuliaan beliau.

Kedudukan beliau di sisi para shahabat pun sangat disegani. Ketika Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu menggantikan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah, beliau mengirim surat kepada penduduk Kufah, daerah di Irak. Umar menulis, “Amma ba’du: Sungguh aku telah mengutus kepada kalian Ammar sebagai pemimpin kalian dan Abdullah bin Mas’ud sebagai pengajar sekaligus wakil Ammar. Keduanya termasuk orang mulia di kalangan shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Taatilah keduanya, teladanilah keduanya.”

Menjelang wafatnya Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan beberapa orang pernah bertanya kepadanya tentang perselisihan yang menimpa kaum muslimin. Hudzaifah memang terkenal sebagai shahabat yang banyak mengetahui berita rahasia terkait perselisihan dan selainnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Apabila kaum muslimin berselisih, apa yang engkau nasihatkan kepada kami?” Hudzaifah menjawab, “Ikutilah Ibnu Sumayyah (Ammar). Sesungguhnya, ia tidak pernah meninggalkan kebenaran sampai matinya. Ia selalu bersikap sesuai kebenaran.” Demikianlah wasiat Hudzaifah.

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada Ammar, “Ammar, kelak kelompok jahat yang akan membunuhmu.”

Tersirat dengan jelas dari hadits ini bahwa Ammar memang selalu menepati kebenaran hingga wafatnya. Ya, beliau berada bersama orang yang benar, sementara yang memerangi merekalah yang jahat dan salah.

Kabar kenabian itu sangat tepat. Saat terjadi fitnah perang Shiffin, Ammar berada di barisan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Setelah berjuang dengan hebat membela Amirul mukminin, beliau gugur sebagai syahid, sebagaimana berita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam usia yang ke 93 tahun (sebagian menyebutkan 91 atau 94), Abul Yaqazhan Ammar bin Yasir bin Amir bin Malik bin Kinanah bin Qais bin Al Hushain bin Al Wadzim bin Tsa’labah bin Auf bin Haritsah bin Amir Al Akbar bin Yam bin Ansi bin Malik Al Ansi berpulang menyusul ayah bunda dan kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di suatu hari, Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma pernah minta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Izinkan masuk, silakan untuk orang suci yang disucikan.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai beliau. Allahu a’lam. [Farhan].


Referensi
Usdul Ghabah karya Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abdul Karim (Ibnul Atsir) rahimahullah
Al Isti’ab Fi Ma’rifatil Ashhab karya Abu Umar Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Bar rahimahullah
Al Ishabah Fi Tamyizi Ash Shahabah karya Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalani rahimahullah

Sumber: Majalah Tashfiyah, edisi 31 volume 3 1434 H / 2013 M rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim