Aisyah radhiyallahu 'anha

Ibunda Kaum Mukminin

Sosok pendamping setia bagi manusia suci. Bahkan dari atas langit ke tujuh Allah subhanahu wa ta’ala membersihkan namanya dari tuduhan keji. Kecerdasannya adalah berkah bagi umat. Betapa kaum muslimin, dari dahulu dan insya Allah sampai menjelang kiamat kelak, mereka mengambil faidah dari nukilan beliau terhadap tuntunan ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah.

Beliaulah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Putri Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Seorang istri dari Nabi yang mulia dan anak seorang yang mulia. Beliau berkuniah Ummu Abdillah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kuniah ini dari anak saudari beliau, Asma`, yaitu Abdullah bin Az Zubair. Sejak kecil beliau tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga muslim. Sebagaimana yang beliau tuturkan sendiri, “Sebelum aku memasuki usia tamyiz, kedua orang tuaku telah masuk Islam.” Ibunya adalah Ummu Rumman bintu ‘Amir bin Uwaimir bin Abdus Syamsi. Aisyah memiliki beberapa saudara. Mereka adalah Asma`, Muhammad, Abdurrahman, dan Ummu Kultsum.

Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah seorang yang sangat dalam keilmuannya. Di kalangan wanita, beliau adalah shahabiyah yang terbanyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan termasuk 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dari beliau pulalah kaum muslimin banyak mengambil pelajaran seputar kehidupan rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab beliau termasuk istri Rasulullah, dan merekalah yang mengetahui kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rumah.

Sangat banyak keutamaan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari lisan mulia yang tidak mengucapkan kecuali wahyu pun menyebutkan keutamaan itu. Di antaranya, “Banyak dari kalangan lelaki yang mencapai kesempurnaan. Namun, tidak mencapainya dari wanita kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keutamaan ats tsarid atas seluruh makanan.” [H.R. Al Bukhari, dari shahabat Abu Musa Al Asyari radhiyallahu ‘anhu]. Ats Tsarid adalah makanan yang istimewa saat itu.

Beliau adalah wanita yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan lelaki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.”

Termasuk keutamaan Aisyah radhiyallahu ‘anha atas istri Nabi yang lain adalah Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menurunkan wahyu kepada Rasulullah dalam satu selimut bersama istri beliau kecuali ketika bersama Aisyah. Ini pula yang menjadi jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para istri beliau tatkala mereka cemburu dengan sikap beliau kepada Aisyah. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pun mengistimewakan Aisyah atas istri Nabi yang lain.

Maka bukanlah suatu hal yang salah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengistimewakan Aisyah. Bahkan malaikat Jibril ‘alaihis salam menitipkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau, sebagaimana tersebut dalam shahih Al Bukhari.

Maka nama harum beliau menghiasi setiap generasi. Sanjungan dan kesaksian terhadap kemuliaan beliau selalu ada dari waktu ke waktu.

Atha` bin Abi Rabah rahimahullah, salah seorang ulama generasi tabiin mengatakan, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih, yang paling berilmu, paling tajam pikirannya terhadap keadaan manusia.” Urwah bin Zubair rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat seorang yang lebih berilmu tentang fiqih, pengobatan, serta syair daripada Aisyah radhiyallahu ‘anha.” Az Zuhri rahimahullah mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan ilmu para istri nabi serta seluruh ilmu wanita, ilmu Aisyah masih lebih unggul.”

Kehidupan Rumah Tangga

Kehidupan rumah tangga beliau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga. Di sana akan diketahui bagaimanakah seharusnya kaum muslimin menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Aisyah, putri Ash Shidiq, dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kala itu berumur 7 tahun, dan membangun kehidupan rumah tangga bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berumur 9 tahun. Tepatnya dua atau tiga tahun sebelum perintah hijrah ke negeri Madinah.

Beliau dinikahi Rasulullah di bulan Syawal, setelah meninggalnya Khadijah radhiyallahu ‘anha. Pernikahan ini sebetulnya didasarkan atas mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 3 malam berturut-turut. Sedang mimpi beliau adalah wahyu dari Allah. Sebagaimana hal ini disebutkan oleh Urwah bin Az Zubair rahimahullah.

Selama 9 tahun lamanya Aisyah radhiyallahu ‘anha menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai datang saat perpisahan dengan suami tercinta. Ketika sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin berat, beliau meminta ijin kepada istri-istri beliau untuk tinggal di rumah Aisyah selama sakitnya. Pada akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dalam pangkuan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Saat itu beliau masih berumur 18 tahun.

Setelah meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa mengajarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meriwayatkan lebih dari dua ribu hadits Rasulullah. Baik yang beliau dapatkan secara langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari shahabat senior semisal Abu Bakr, Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan yang lainnya. Sehingga beliau banyak didatangi oleh para penuntut ilmu. Baik dari kalangan para shahabat, ataupun tabiin. Di antara shahabat yang mengambil ilmu dari beliau adalah Abu Hurairah, Abu Musa Al Asy’ari, dan lainnya. Sedang dari kalangan tabi’in semisal Said bin Musayyib, Alqamah, Masruq, serta para wanita tabi’in, seperti Hafshah binti Sirin.

Aisyah radhiyallahu ‘anha wafat pada tahun 57 atau 58 Hijriyah. Tepatnya di hari selasa bulan Ramadhan dalam umur 64 tahun. Sebelum meninggal, beliau berpesan untuk menyegerakan pemakamannya. Maka beliau pun kemudian dimakamkan setelah kaum muslimin melaksanakan shalat witir di pekuburan Baqi’. Yang menurunkan jenazah beliau adalah para kemenakannya sendiri seperti Abdullah bin Az Zubair, Urwah bin Az Zubair, Qasim bin Muhammad, Abdullah bin Muhammad, serta Abdullah bin Abdirrahman. Semoga Allah meridhai beliau. Amin Wallahu a’lam. [Hammam].


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 20 vol. 02 1433H-2012M rubrik Figur.

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim