Cara Bermuamalah di Lingkungan RT

Tanya:
Bagaimana cara bermuamalah atau bergaul di lingkungan RT melihat keadaan jaman sekarang umat sudah campur aduk antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh hafizhahullah

Keliru ya, muhrim itu orang yang sedang melakukan ihram. Yang betul mahram. Kita sering mendengar di masyarakat, muhrim iya? Keliru, muhrim itu orang yang sedang melakukan ihram, pakai baju ihram itu, itu dinamakan orang yang sedang muhrim. Tetapi kalau yang dimaksud saudara, ibu, putra, putri, dan yang lainnya, itu namanya mahram. Namanya mahram!

Cara bermuamalahnya sesuai dengan aturan syariat. Pertama menebarkan salam, ini kan cara bermuamalah, iya? Sesama muslim, kenal atau tidak kenal, pokoknya muslim "Assalamu'alaikum", pakai peci tidak pakai peci, yang namanya muslim, tetap kita ucapkan "Assalamu'alaikum". Kalau ada yang sakit, dikunjungi! Ada yang butuh bantuan, dibantu! Ini cara bermuamalah di lingkungan RT, begitu juga di lingkungan RW, sama! Tidak ada bedanya. Khawatir nanti terus ada pertanyaan

"Lha kalau di lingkungan RW bagaimana ustadz?"

Sama saja, jadi sama. Yang namanya muslim, darimanapun, bahasanya apapun, warna kulitnya bagaimanapun, sama. Yang namanya muslim, kita menyatakan "Assalamu'alaikum". Kalau sakit dikunjungi. Kalau meninggal dunia, dimakamkan, dimandikan jenazahnya, dan seterusnya.

Lha tapi kalau disitu ada hal-hal yang menyelisihi syariat. Misalkan contohnya acara,

"Anu pak ustadz, di kampung ada acara mbangun pentas"
"Apa?"

"Dangdutan dalam rangka 1 Muharram"

Sudah memperingati satu Muharramnya keliru, tidak ada contohnya, iya?

"Lho ustadz, daripada memperingati 1 Januari"

Tidak pakai daripada, tidak dicontohkan oleh rasul, tidak juga oleh sahabatnya, tidak dicontohkan oleh para imam. Tidak imam Malik, tidak imam Syafi'i, tidak imam imam Ahmad, tidak Bukhari, tidak Muslim, tidak imam Nawawi, tidak Ibnu Hajar, tidak Ibnu Taimiyah, semuanya tidak ada yang mencontohkan peringatan satu Muharram. Pakai pentas dangdutan lagi, waduh luar biasa kan!

"Anu ustadz, dalam rangka kerukunan lingkungan RT ustadz!"

Ya lebih baik saya rukun sama Allah saja, daripada rukun sama manusia tapi begini caranya, tidak benar! Maka tetap kita minta maaf

"Tidak bisa hadir pak"
"Lho, kenapa tidak hadir, tidak mau bertetangga?"

"Mau saya, kalau ada yang sakit saya datang, kalau ada yang butuh ya saya bantu semampu saya. Kalau ketemu di jalan, assalamu'alaikum. Kalau ada yang meninggal dunia ya saya antar. Tapi kalau ini ya maaf saja, tidak bisa"
"Lho kenapa?"

"Karena ini tidak diridhai oleh Allah"

Tidak diridhai, yang nyanyi perempuan lagi, waduh sudah! Perempuan itu diperintahkan oleh Allah untuk tidak melembutkan suaranya. Melembutkan dalam bicara saja tidak boleh, ketemu orang laki

"Assalamu'alaikum"

Itu melembutkan sudah.

"Oh tidak ustadz, dalam rangka menghormati"
"Ya bukan begitu caranya"

Itu saja tidak benar, ketemu orang laki yang bukan mahramnya

"Mari pak, singgah!"

Nah ini sudah tidak benar begitu, apalagi nyani, kira-kira bagaimana? Sudah tidak benar, apalagi dalam bab apalagi dan seterusnya ya tambah tidak benar. Sudahlah, jadi minta maaf saja, na'am. Minta maaf, jadi semuanya harus diatur oleh syariat, begitu lho. Peraturan RT, peraturan RW, peraturan adat, peraturan semua harus tunduk kepada qolallah qola rasulullah, terhadap Al Qur'an dan sunnah rasul shallallahu 'alaihi wasallam wajib untuk tunduk kepada dua peraturan yang bersumber dari wahyu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu cara bergaul di dalam lingkungan rukun tetangga.

www.thalabilmusyari.web.id

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim