Bagaimana Sikap Kita Menghadapi Sebuah Negara Yang Tidak Berhukum Dengan Hukum Islam

Tanya:
Bagaimana sikap kita menghadapi sebuah negara yang tidak berhukum dengan hukum islam?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh hafizhahullah

Dinasehati, diberi nasehat-nasehat yang baik, dengan cara yang terbimbing. Bagaimana nasehat yang baik? Nasehat yang penuh dengan hujjah, bukan hujatan! Nasehat yang penuh dengan apa? Hujjah, bukan hujatan, itu nasehat yang baik. Penuh dengan ilmu, dan kata-kata yang tepat, hormat. Antum saja, bukan sebagai pemerintah, bukan sebagai waliyul amr, kalau antum ditegur dengan hujatan, kecenderungannya menerima tidak nasehat itu atau justru menolak? Menolak! Apalagi waliyul amr? Antum sebagai ayah saja, waliyul amr di rumah. Antum kan waliyul amr di rumah? Ukuran 8 x 10 meter itu. Sudah itu antum pemerintahnya disitu, jangan nyebrang ke tempat lain, expansi tidak boleh. Nah di rumah itu antum waliyul amr, tiba-tiba ada anak antum protes, karena antum tidak adil. Membelikan sepeda si kakak dengan jenis yang bagus, sementara dia dibelikan yang jenis yang murahan.

"Tidak adil, bapak ini memang pengecut, pengkhianat! Bapak ini memang ahli neraka" (misalkan).

Kira-kia bapaknya menerima tidak nasehat? Atau justru yang muncul adalah kehancuran? Kehancuran yang muncul, bukan kebaikan. Tapi kalau anak itu baik

"Wah makasih pak, sepedanya yang bapak belikan untuk saya bagus. Terima kasih, semoga bapak mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah"

Enak kan? Bapaknya menyadari

"Oh anak ini saya belikan padahal kelas bawah ini ya, dia bersyukur, berterima kasih, mendoakan saya dengan pahala di sisi Allah. Besok saya belikan mobil dia"

Begitu kepada waliyul amr. Lha kalau dia (memberikan, -red) nasehat bagus nasehatnya tetapi disampaikannya bukan di depan ayah, di tetangga-tetangga:

"Bapak saya, saya nasehatkan kepada dia, agar berbuat adil bapak itu"

Ngomong tetangga, di sekolah ngomong teman-temannya, ngomong ke guru-gurunya. Apa kira itu nasehat yang benar? Nasehat yang benar itu datang kepada bapak, sampaikan:

"Wahai ayah, begini..., begitu..., Allah mengatakan begini..., rasul mengatakan begini..., maaf lho pak kalau saya salah, maaf lho pak, kalau saya lancang"

Itu kepada waliyul amr dalam ukuran 8 x 10 meter. Bagaimana waliyul amr dari Sabang sampai Merauke? Na'am barakallaahufiikum. Ya tentunya rasul telah membimbingkan.

"Lha iya ustadz, sudah pakai anuk koq ustadz, rahasia, sudah kita kirim surat dan kita umumkan di surat kabar bahwa kita telah mengirim surat kepada presiden. Kita tegur presiden begini, begitu, begini, begitu..."
"Lho tidak rahasia lagi dong? Surat kabar se Indonesia tahu"

Sementara rasul mengatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Iyadh bin Ghanim:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ

"Barangsiapa yang punya nasehat, kritikan kepada penguasa, jangan ditampakkan di depan umum. Jangan dilakukan secara terbuka, tapi hendaknya menyendiri dan sampaikan kepadanya"

فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

"Kalau diterima nasehatnya, itu yang diharapkan alhamdulillah. Berbagai saran dan usulan diterima dan diterapkan, itu yang kita inginkan, dengan harapan Allah menurunkan berkah dan rahmatNya ke negeri ini. Kalau ditolak ya sudah, antum sudah menunaikan apa? Tugasnya"

Demikian semestinya di dalam upaya mengingkari kemunkaran yang ada pada penguasa. Disamping itu juga adalah doa. Pertanyaannya bagaimana sikap kita menghadapi negara yang tidak berhukum dengan hukum islam? Berdasarkan dengan hukum-hukum barat, demokratos. Barakallahufiikum, doa. Doa kepada Allah, mintakan hidayah untuk pemimpin kita, untuk pemerintah ini.

"Ya Allah jadikan pemimpin kami, penguasa kami, pemimpin yang cinta Al Qur'an dan sunnah"
"Ya Allah berikan hidayah dan taufiq kepada mereka untuk beramal shaleh dan menjauhkan diri mereka, negeri ini, dan rakyat ini dari kemaksiatan ya Allah"
"Ampuni dosa-dosa mereka ya Allah"
"Jangan Engkau jadikan dosa-dosa mereka sebagai sebab hancurnya negeri ini ya Allah"

Doa dengan serius dan sungguh-sungguh! Sudah pernah doa untuk waliyul amr? Belum kan? Paling yang diminta:

"Ya Allah beri rizki ya Allah, beri kesehatan ya Allah"

Rugi, hanya terbatas kepada kita. Coba minta hidayah untuk waliyul amr dan taufiq agar menjadi baik. Insya Allah antum masuk rumah sakit gratis, malah diberi biaya, diberi ongkos, sehat, iya kan? Untuk rakyat semuanya, doakan agar negeri ini, pemerintah ini.

"Ya Allah jauhkan dari kaki tangan-kaki tangan yang jahat"
"Ya Allah jauhkan negeri ini dan penguasanya dari kungkungan orang-orang kafir dan negeri-negeri kafir ya Allah"

Begitu, doakan dalam shalat antum, dalam kesempatan-kesempatan yang mustajab, itu sikap seorang muslim. Lalu sikap yang berikutnya adalah kalau kita menginginkan penguasa yang baik, yang adil, rajin shalat, jujur, tidak berbuat dzalim, senang kepada islam dan syariat islam, pembela kepentingan muslimin, maka kita sebagai rakyat semuanya yang ada di masjid ini, yang ada di alun-alun sana, yang di pasar, yang di rumah, semuanya harus menjadi orang-orang shaleh. Harus menjadi orang-orang yang jujur. Istri harus jujur terhadap suaminya. Suaminya harus adil terhadap istrinya. Kalau suami di masyarakat ini cenderungnya, mayoritasnya tidak adil, tidak jujur, maka sulit dapat pemerintah yang baik.

Pernah disebutkan oleh ulama bahwa seorang pria dari pemberontak khawarij, datang menemui khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian dia mengatakan:

"Wahai khalifah Ali, kenapa dahulu di masa Abu Bakr As Siddiq sebagai khalifah, di masa Umar bin Khattab sebagai khalifah amirul mukminin, tidak ada orang-orang yang menuntut seperti ini, tidak ada pemberontakan dan yang semisalnya. Tetapi kenapa di masamu seperti ini sekarang?"

Maka Ali bin Abi Thalib menjawab:

"Ya karena dahulu di masa Abu Bakr As Siddiq, rakyatnya itu orang-orang ya aku diantaranya dan orang-orang yang semisal dengan aku"

Jadi rakyatnya itu kaya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, yang wanita-wanita kaya Aisyah rakyatnya, kaya siapa lagi? Ummu Salamah, diberi pemimpin kaya Abu Bakr As Siddiq. Sekarang kita rakyatnya bagaimana? Rakyatnya senang dukun.

"REG DUKUN" kirim...na'am

Rakyatnya senang judi, baik judi yang terang-terangan di lokalisasi perjudian yang semestinya harus ditutup itu, ataupun melalui media lainnya.

"Kirim kata-kata ini per sms dua ribu, menangkan seratus juta rupiah"

Dua ribu, judi! Melalui hp, masuk ke sekolah-sekolah, masuk ke rumah-rumah, istri-istri kita, istri-istri ustadz, istri-istri guru, semua masuk itu. Ikut, judi! Hanya saja tidak terlokalisasi di tempat tertentu, terlokalisasi di operator HP. Itu lokalisasi perjudian, sehingga tidak di jalan-jalan situ. Tidak di jalan-jalan, dilokalisasi dimana? Di operator HP, itu judi! Adu nasib, iya kan? Adu nasib, barakallahufiikum. Lha rakyatnya masih suka begitu, suka dangdutan

"Aku cinta padamu"

Terus-terusan begitu, maksiat demi maksiat, sihir demi sihir, terus di negeri ini. Penjualan jimat-jimat terus berkembang, iya kan? Barakallahufiikum, lha yang seperti ini mana mungkin Allah beri pemimpin yang baik? Allah mengatakan:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

"Yang demikian itu Allah jadikan sebagian orang-orang yang dzalim itu sebagai penguasa, pemimpin, terhadap orang dzalim yang lainnya disebabkan dosa-dosa yang mereka lakukan" (QS Al-An'am: 129)

"Iya pemimpinnya dzalim ini, pemerintahnya"
"Iya karena kamu juga dzalim. Kamu shalatnya tidak benar, dipanggil ke masjid oleh adzan yang dikumandangkan, kamu tidak datang ke masjid, rakyat banyak yang tidak shalat"

Coba antum lihat sekarang! Perhatikan di masjid-masjid! Banyak yang tidak shalat. Ibu-ibu rumah tangga juga banyak yang tidak shalat. Durhaka kepada suami. Anak-anak juga durhaka kepada ayah dan ibunya, membentak ayah dan ibunya. Sekarang itu, terus kemaksiatan. Mana mungkin! Maka dari itu, sikap kita sebagai rakyat adalah berbenah, berbenah diri. Kalau rakyatnya memenuhi masjid, suka pada Qur'an, suka pada sunnah nabi, tidak ada aqidah menyimpang, tidak dibiarkan syi'ah berkeliaran, tidak dibiarkan dia dimakan oleh syubhat-syubhat liberalisme, dan yang lainnya. Insya Allah negeri ini menjadi baik, barakallahufiikum.

Berwibawa negeri ini dihadapan musuh-musuhnya. Sekarang kita tidak berwibawa. Singapura yang kecil, ditiup itu ambruk itu berani kurang ajar sekarang terhadap negeri kita. Iya kan? Berani mencaci, ngomong seenaknya tentang negeri kita. Karena kita sudah tidak punya wibawa, ribut sendiri, berebut sendiri, na'am. Begitu, na'am.

Download Audio disini

Sumber http://www.thalabilmusyari.web.id/2016/07/bagaimana-sikap-kita-menghadapi-sebuah.html
Pada 11.07.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim