Tafsir Surat Yaasin Ayat 39

✅📖 TAFSIR SURAT YAASIN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Ayat Ke-39 Surat Yaasin.

👈 وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

🍃 Arti Kalimat: dan bulan, Kami tetapkan manzilah-manzilahnya hingga ia kembali bagaikan tandan kurma yang sudah tua.

☝️ Allah menetapkan adanya manzilah-manzilah bagi bulan. Manzilah itu adalah lintasan; orbit; atau perubahan posisi bulan terhadap matahari dan bumi. Tiap malam bulan berada pada manzilah yang berbeda, sehingga penampakannya di bumi juga berbeda-beda. Siklus itu berjalan dengan waktu yang disebut manusia dengan 1 bulan.

🌙 Awal bulan, berbentuk hilal penampakan bulan sangat lemah, bagai bulan sabit yang sangat kecil. Malam berikutnya ia berada pada manzilah yang lain, semakin bertambah terang dan bulatannya semakin sempurna. Pada pertengahan bulan jadilah ia bulan purnama yang terang dan bulatannya sempurna. Beranjak malam berikutnya, bulatan itu berkurang dan sinarnyapun berkurang. Hingga menjelang berakhir periode bulan itu, ia kembali melemah seperti bulan sabit kecil yang melengkung yang disebutkan dalam ayat itu: bagaikan tandan kurma yang sudah tua. Tandan kurma yang sudah tua akan melengkung putih kekuningan.

🔰 Fase penampakan bulan itu sebenarnya mirip dengan fase tumbuh kembang manusia. Manusia dari masa kecil bayi adalah anak kecil tak berdaya. Kecil fisik dan kekuatannya, kemudian beranjak mengalami pertumbuhan menjadi anak, kemudian remaja. Setelah itu dewasa. Setelah melalui usia dewasa, berangsur-angsur kekuatan fisik berkurang. Tubuh yang sebelumnya tegap menjadi bungkuk.

🌈 Pada ayat ini Allah menyebutkan sifat al-qodiim pada makhluknya. Suatu sifat yang mengandung makna kekurangan, yaitu tua, kuno, dan semisalnya.

💥 Karena itu, tidak benarlah ungkapan para Ahli Filsafat yang menisbatkan sifat al-Qodiim atau Qidaam kepada Allah, karena lafadz al-qodiim atau qidaam itu mengandung unsur kekurangan.

🌹 Sesungguhnya Sifat Allah adalah sempurna. Tidaklah dinisbatkan kepada Allah sifat yang mengandung unsur kekurangan. Demikian juga dalam ayat al-Quran maupun hadits Nabi yang shahih tidak ada penyebutan sifat qodiim bagi Allah.

🌺 Sifat Allah yang lebih tepat sesuai dengan lafadz ayat dan hadits adalah al-Awwal yaitu Yang Paling Pertama, tidak ada sesuatupun yang mendahuluinya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

🍃 Dialah al-Awwal, al-Aakhir, adz-Dzhaahir, dan al-Baathin. Dan Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S al-Hadiid ayat 3).

🌐 Makna Nama dan Sifat yang disebutkan dalam ayat itu diperjelas oleh hadits Nabi:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ

🍃 Ya Allah, Engkaulah al-Awwal yang tidak ada sesuatupun sebelumMu. Engkau adalah al-Aakhir yang tidak ada sesuatupun setelahMu. Engkau adalah adz-Dzhaahir yang tidak ada sesuatupun di atasMu. Engkau adalah al-Baathin yang tidak ada sesuatu apapun selain Engkau (Allah Maha Dekat, Maha Mengetahui)(H.R Muslim).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📖 Dikutip dari Buku "TAFSIR SURAT YAASIN"

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

=====================
http://telegram.me/alistiqomah
Pada 23.06.2016


Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim