Buah Ketaqwaanmu

Allah memang menciptakan manusia agar mereka beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Akan tetapi perlu dipahami, bahwa ketika Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya, bukan berarti Allah membutuhkan peribadahan hamba-Nya atau membutuhkan hamba itu sendiri. Bukan berarti pula Allah akan mendapatkan kemanfaatan dari apa yang dilakukan hamba-Nya. Allah adalah Dzat yang Maha Kaya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Ingat, bahwa ketika kita beribadah kepada-Nya, maka sungguh ibadah itu justru akan memberikan manfaat kepada kita. Pasti… kita akan mendapatkan manfaat dari berbagai bentuk peribadahan yang kita lakukan. Terkadang, manfaat itu Allah berikan kepada kita dalam keadaan kita tiada menyadarinya. Maka, semakin seseorang menundukan dirinya kepada Allah, menjalankan berbagai bentuk ibadah yag mampu ia lakukan, maka ia pasti akan mendapatkan manfaat dari apa yang telah ia lakukan. baik di dunia, atau pun kelak ia raih di akhirat. Pasti…

Allah sendiri yang mengikrarkan,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Siapapun yang beramal shalih, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia seorang yang mukmin, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang thoyyibah dan pasti akan Kami balaskan pahala untuk mereka dengan yang lebih baik dari pada apa yang sekedar mereka amalkan” [Q.S. an Nahl: 97]

Allah telah berjanji – dan Allah adalah Dzat yang pantang menyelisihi janji-. Janjinya selalu benar dan tepat. Tiada pernah sekali pun Allah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi tentu, satu hal yang  harus kita camkan, ketika Allah berjanji untuk memberikan suatu hal pada hamba-Nya, maka Allah pun mempersyaratkan terwujudnya apa yang Ia perintahkan dari hamba-Nya agar apa yang dijanjikannya itu terwujud pada hamba-Nya.

Perhatikan kembali ayat di atas. Dengan jelas, hamba itu meraih kehidupan yang thayyibah di dunia dan mendapatkan balasan yang lebih dari sekedar yang mereka amalkan ialah dengan adanya iman dan disertai amal shalih.

Iman yang dituntut dari Allah tentunya bukan sekedar iman yang cukup diaku-akukan lisan semata tanpa adanya realisasi apa yang telah ia ikrarkan. Iman yang dituntut oleh Allah ialah keimanan yang mencakup segala hal yang harus diimani. Lalu kemudian dipraktekan dan dijalankan apa yang menjadi konsekwensi iman tersebut. Inilah tugas pertama kita, jika benar kita ingin meraih janji-Nya, maka kita musti benar mau belajar dan mempelajari lebih lanjut iman yang diridhai dan dituntut oleh Allah dari kita.

Kemudian dalam beramal shalihpun, ia dianggap sebagai amal shalih jika dilakukan oleh seorang yang “mukmin” dan terpenuhi padanya dua syarat.

pertama, dilakukan dengan penuh keikhlasan, mengerahkan ketundukan dirinya untuk-Nya semata dalam ibadah. ia melakukan amal ibadah tersebut semata ingin meraih ridha-Nya dan juga janji-Nya. Bukan ridha dan janji selain-Nya

Kedua, amalan yang ia lakukan sesuai yang dicontohkan oleh utusan-Nya. Sebab tidaklah syariat itu datang kecuali melewati pengajaran sang utusan. Oleh karenanya, amalan-amalan yang telah diajarkan oleh utusan-Nya inilah yang akan diterima oleh-Nya, adapun amalan-amalan baru yang tidak pernah sama sekali diajarkan oleh utusan-Nya, maka amalan itu tertolak dan bukan amal shalih.

Nah, jika seseorang telah mengusahakan hal-hal tersebut di atas ada pada dirinya, yakni, ia telah beriman sesuai dengan perintah-Nya dan juga ia pun telah benar-benar “shalih” dalam amalannya, maka pasti, janji-Nya untuk memberikan kehidupan yang thayyibah di dunia ini akan ia raih dan ia dapatkan. Adapun jika terluput darinya salah satu dari hal-hal yang harus ia miliki di atas, maka tiada salah jika Allah pun melewatkan janji-Nya darinya.

pembaca, perlu diketahui bahwa kehidupan thayyibah yang Allah janjikan ini, adalah ‘thayyibah’ disisi-Nya. Sebab Ialah yang paling mengerti kebaikan buat kita di dalam kehidupan dunia ini. Ya, Allah akan memberikan kepadanya kehidupan yang thayyibah itu dengan cara-Nya, yang paling tepat dan sesuai untuk hamba-Nya itu.

Jangan pernah sekali-kali kita meyakini bahwa kehidupan yang thayyibah itu sangat identik dengan kehidupan yang penuh dengan harta dunia. Bukan. Kehidupan thayyibah yang Allah berikan lebih mahal nilainya dari pada dunia dan seisinya. Mengapa, karena apa yang Allah berikan kepada kita akan Ia sesuaikan dengan ilmu-Nya mengenai efek dari pemberian-Nya. Terkadang, kemiskinan justru merupakan kehidupan thayyibah bagi seseorang. Walaupun mungkin ia merasa berat memikulnya. Akan tetapi Allah memilihkan untuknya kemiskinan dengan ketaqwaan itu karena Allah tahu, dengan ilmu-Nya, bahwa ia justru akan semakin jauh dan menjauhi-Nya jika Ia berikan padanya harta. Atau mungkin justru harta itu akan membuatnya terlena dan membuatnya melupakankan-Nya. Allah saat ini sangat cinta terhadap hamba-Nya, yang karena kemiskinan yang Allah pilihkan untuknya, maka setiap waktu Ia dapati hamba-Nya bersimpuh, menengadahkan tangannya, menetes air matanya, terus memohon dan merendahkan dirinya dihadapan-Nya. Yang mungkin hal ini akan hilang darinya jika ia mendapatkan harta. Subhanallah.

Atau mungkin, Allah tahu, dengan ilmu-Nya, jika ia berikan harta dunia kepadanya, maka keadaan keluarganya yang saat ini penuh dengan mawaddah dan rahmat diantara mereka akan pupus dan hilang serta berganti dengan kekacauan dan ketidak harmonisan diantara mereka. Subhanallah. Tentunya, masih banyak hikmah lain atas keputusan-Nya yang terkadang jauh dari sekedar bayangan kita.

Artinya, kehidupan thayyibah yang Allah berikan untuk hamba-Nya, sekali lagi, itu Ia berikan sesuai dengan cara-Nya yang selalu menyertai hikmah-Nya. Intinya, berhusnuzhanlah selalu kepada Allah dalam segala keputusan-Nya. Maka kita selalu memohon kepada Allah agar ia selalu melapangkan kita untuk menerima segala bentuk keadilan-Nya.Wallahu a’lam. [Abu Ruhma Sufyan]

Sumber http://tashfiyah.com/buah-ketaqwaanmu/
[ 26.06.2016 ]


Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim