Apakah Shalat Tarawih Mempunyai Jumlah Raka'at Tertentu Atau Tidak?

APAKAH QIYAM RAMADHAN(tarawih)MEMPUNYAI JUMLAH RAKA'AT TERTENTU ATAU TIDAK?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

س2: هل لقيام رمضان عدد معين أم لا؟
ج2: ليس لقيام رمضان عدد معين على سبيل الوجوب، فلو أن الإنسان قام الليل كله فلا حرج، ولو قام بعشرين ركعة أو خمسين ركعة فلا حرج، ولكن العدد الأفضل ما كان النبي - صلى الله عليه وسلّم - يفعله، وهو إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة ركعة، فإن أم المؤمنين عائشة - رضي الله عنها - سُئِلت: كيف كان النبي يُصَلي في رمضان؟ فقالت: لا يزيد في رمضان، ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة[8]، ولكن يجب أن تكون هذه الركعات على الوجه المشروع، وينبغي أن يطيل فيها القراءة، والركوع، والسجود، والقيام بعد الركوع، والجلوس بين السجدتين، خلاف ما يفعله بعض الناس اليوم، يصليها بسرعة تمنع المأمومين أن يفعلوا ما ينبغي أن يفعلوه، والإمامة ولاية، والوالي يجب عليه أن يفعل ما هو أنفع وأصلح. وكون الإمام لا يهتم إلا أن يخرج مبكرًا؛ هذا خطأ، بل الذي ينبغي أن يفعل ما كان النبي - صلى الله عليه وسلّم - يفعله من إطالة القيام، والركوع، والسجود، والقعود حسب الوارد، ونكثر من الدعاء، والقراءة، والتسبيح، وغير ذلك.

💎Oleh: Syaikh Muhammad bin sholeh Al Utsaimin Rahimahullah.

❓❓❓PERTANYAAN ke 2:  Apakah Qiyam Ramadhan (tarawih) mempunyai jumlah raka’at tertentu atau tidak?

👉 JAWABAN : Qiyam Ramadhan (tarawih) tidak mempunyai jumlah raka’at tertentu secara wajib, seandainya seseorang shalat tarawih satu malam penuh maka tidak apa-apa, maka seandainya seseorang tarawih 20 raka’at atau 50 raka’at juga tidak apa-apa, akan tetapi jumlah yang paling utama yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kerjakan adalah 11 raka’at atau 13 raka’at. Karena sesungguhnya ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu 'anha ditanya: “ Bagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada bulan Ramadhan?maka ia menjawab: “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat tidak lebih dari 11 raka’at pada bulan Ramadhan atau bulan selainnya”(H.R. Bukhari dan Muslim).Akan tetapi wajib melaksanakan raka’at-raka’at ini berdasarkan apa yang telah disyariatkan, dan hendaknya memperpanjang bacaan Qur’an, ruku’, sujud, berdiri setelah ruku’ (I’tidal),serta duduk diantara dua sujud.

⚠️Berbeda dengan apa yang dilakukan sebahagian manusia pada hari ini, mereka shalat tarawih  dengan cepat sehingga tidak bisa tuma’ninah (tenang pada posisinya)  untuk melakukan apa yang seyogyanya mereka lakukan (gerakan shalat). Imam adalah pemimpin, dan pemimpin wajib untuk melakukan apa yang paling bermanfa’at dan yang memberi kemashlahatan, dan keadaan imam yang hanya untuk menyelesaikan shalat dengan cepat , maka ini adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi hendaknya bagi imam melakukan apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lakukan, yaitu memperpanjang bacaan Qur’an, ruku’, sujud, dan duduk semestinya. Serta kita juga memperbanyak do’a, membaca Al-qur’an, Tasbih (mengucapkan Subhanallah) dan lainnya.

✍ Alih bahasa dan ditulis oleh: Al Ustadz Abu Hufaizhah Al Maidany Hafizhahullah.

🌈@LilHuda🌈
🔻🔻🔻🔻🔻
📬 Telegram Ahkam, Tanya jawab
📲 tlgrm.me/LilHuda

🔶💠💠💠🔶💠💠💠🔶
Pada 06.06.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim