Jawaban Syubhat Seputar Haramnya Fotografi

Pertanyaan Keenam dari Fatwa Nomor4513

Pertanyaan 6: Banyak tersebar syubhat seputar haramnya fotografi, mohon jawaban secara terperinci tentang syubhat-syubhat berikut ini:
a) Mereka mengatakan bahwa gambar hasil fotografi tidak termasuk menyamai ciptaan Allah, tetapi itu hanyalah mencetak bayangan seseorang dalam sebuah film yang tidak ada campur tangan dari manusia sama sekali untuk membentuk gambar tersebut.
b) Mereka mengatakan bahwa foto itu ibarat bayangan seseorang pada cermin, kalau seandainya gambar pada cermin itu permanen, apakah itu diharamkan?
c) Mereka mengatakan bahwa orang yang membolehkan (melihat) televisi dengan syarat tidak ada sesuatu yang haram untuk dilihat, secara tidak langsung ia juga membolehkan gambar, karena telavisi adalah sejumlah gambar yang digerakkan dengan cepat, sehingga orang yang menyaksikannya mengira bahwa gambar itu bergerak.
(Nomor bagian 1; Halaman 672)
d) Mereka mengatakan bahwa seandainya gambar itu diharamkan, kenapa diperbolehkan foto untuk pembuatan paspor bagi orang yang tinggal di Mesir misalnya, dan hendak menunaikan ibadah haji, karena tidak mungkin seseorang itu mencuri agar ia bisa melaksanakan ibadah haji? Begitu juga tidak bisa dibayangkan bagaimana mungkin seseorang menunaikan haji tanpa pembuatan kartu tanda pengenal dan kebutuhan-kebutuhan lain yang sangat penting.

(Nomor bagian 1; Halaman 673)
Jawaban 6: Menurut kami bahwa gambar sesuatu yang bernyawa (memiliki ruh) hukumnya tidak boleh, berdasarkan beberapa hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam. Hadits-hadits tersebut bersifat umum bagi orang-orang yang menjadikan menggambar (memotret) itu sebagai profesi atau tidak, baik itu cara menggambarnya dengan mengukir (melukis) dengan tangannya atau dengan kamera di studio atau dengan alat yang lain. Jika pembuatan gambar termasuk sesuatu yang sangat penting seperti foto untuk kartu izin tinggal, paspor dan foto para penjahat untuk mengenali ciri-ciri mereka jika berbuat kejahatan lalu melarikan diri dan lain sebagainya, maka hal ini diperbolehkan. Adapun membawa masuk gambar sesuatu yang memiliki ruh ke dalam rumah, jika diletakkan di tempat yang rendah sehingga ada kemungkinan terinjak, maka keberadaannya di dalam rumah tidak dilarang menurut syariat Islam. Demikian pula jika gambar tersebut ada dalam paspor dan kartu izin tinggal atau yang semisalnya, maka boleh dibawa masuk ke dalam rumah karena suatu kepentingan. Akan tetapi jika orang yang menyimpan gambar tersebut bertujuan untuk mengagungkannya maka itu hukumnya tidak boleh. Hukumnya berbeda, apakah ini termasuk syirik besar atau hanya tergolong maksiat, hal itu tergantung niat orang yang menyimpannya. Jika menyimpannya karena untuk mengingat orangnya, maka ini tidak boleh karena hukum asalnya adalah dilarang dan tidak diperbolehkan menggambar atau membawa masuk ke dalam rumah kecuali untuk tujuan syar`i, sedangkan menyimpan gambar dengan tujuan untuk mengenang orangnya tidak termasuk tujuan syar`i. Tentang gambar telanjang yang ada dalam majalah, maka tidak boleh dibeli dan dibawa masuk ke dalam rumah karena hal itu akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada maslahat untuk mengenang -- itupun kalau ada maslahatnya-- jika tidak ada, maka hal ini sangat diharamkan. Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan sesungguhnya perkara yang haram itu jelas, dan di antara kedua perkara tersebut ada perkara-perkara yang syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat maka sesungguhnya dia telah berlepas diri demi (keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka dia telah terjerumus dalam perkara haram, seperti seorang penggembala yang menggembala di kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya. Ketahuilah bahwasanya setiap raja memiliki kawasan terlarang dan sesungguhnya kawasan terlarang Allah itu ialah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Dan Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang lelaki yang datang lalu bertanya tentang kebaikan Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati, meskipun orang-orang memfatwakan bahwa hal itu boleh
Fotografi tidak seperti halnya gambar orang yang berdiri di depan cermin, karena gambar yang tampak pada cermin itu hanya bayangan yang akan hilang dengan perginya seseorang dari cermin tersebut, sedangkan fotografi tetap ada (permanen) setelah orang tersebut pergi dari kamera. Gambar tersebut akan memberi efek buruk pada aqidah seseorang, dan keindahannya akan memberi efek buruk pada akhlaknya. Dan terkadang gambar juga dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan seperti dipakai untuk pembuatan paspor, kartu tanda penduduk, kartu izin tinggal atau pada surat izin mengemudi.

(Nomor bagian 1; Halaman 674)
Fotografi bukanlah sekedar mencetak akan tetapi proses sebuah alat yang menghasilkan gambar, maka hal ini termasuk menyamai ciptaan Allah. Larangan tentang gambar bersifat umum, karena mengandung unsur menyamai ciptaan Allah dan berbahaya terhadap aqidah dan akhlak, dengan tanpa memandang alat atau cara gambar tersebut dihasilkan.
Adapun televisi maka hukumnya haram jika siarannya adalah nyayian, musik, gambar, pameran foto dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. Dan diperbolehkan jika isinya berupa ceramah-ceramah agama, iklan perdagangan, perpolitikan dan lain sebagainya yang tidak ada larangan dalam syariat Islam. Jika keburukannya lebih dominan maka hukumnya berdasarkan yang dominan.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua Komite : Abdurrazzaq `Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghadyan
Anggota    : Abdullah bin Qu'ud             


Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim