Batasan Syar'i Bagi Orang Yang Sakit Untuk Tidak Berpuasa

BATASAN SYAR'I BAGI ORANG YANG SAKIT UNTUK TIDAK BERPUASA

📝Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah berkata

{ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً }،

"Dan janganlah kalian memnunuh diri-diri kalian; sesungguhnya Allah Maha penyayang terhadap kalian." (An Nisa': 29)

"Ayat ini mengandung larangan membunuh diri dan setiap perkara yang di dalamnya ada madharat. Berdasarkan ini kami katakan: "Jika puasa bermadharat terhadap orang yang sakit, maka puasa haram atasnya.
Bila ada yang bertanya: "apa ukuran bermadharat?"
Kami jawab: Sesungguhnya madharat itu bisa diketahui dengan rasa dan pemberitaan.

Adapun dengan rasa yaitu seorang yang sakit bisa merasakan dirinya kalau puasa itu memadharatkankannya, memperparah sakitnya dan memperlambat kesembuhan dan sebagainya.
Adapun pemberitaan yaitu seorang dokter yang ahli dan terpercaya memberitahunya tentang puasa akan memadharatkannya.
Sehingga bila yang memberitahunya orang awam, maka tidak diambil ucapannya dan bila yang memberitahunya seorang dokter yang tidak ahli namun dia berprofesi dokter, maka juga tidak diambil ucapannya.

Lalu apakah disyaratkan dokter tersebut muslim agar kita percaya dengannya, sebab orang non muslim tidak bisa dipercaya?

Dalam perkara ini ada dua pendapat ulama, namun yang benar hal itu tidak dipersyaratkan, sehingga kapanpun kita percaya dengan ucapannya, maka kita amalkan ucapannya dalam menggugurkan puasa, karena hal ini adalah pekerjaannya dan seringnya orang kafir itu komitmen dengan pekerjaan dan reputasinya, sehingga dia hanya mengatakan apa yang benar menurut keyakinannya

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun percaya dengan orang kafir dalam hal yang sangat besar bahayanya yaitu ketika Beliau hijrah dari Mekah ke Madinah dengan menyewa seorang musyrik dari Bani ad-Daily yang dipanggil dengan Abdullah bin Uraiqith untuk menunjukkan jalan, padahal permasalahannya bahaya, karena kaum Quraisy sedang mencari Ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan memberi seratus ekor unta bagi siapa yang menunjukkan keberadaan Beliau. Namun ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam percaya dengannya.

Jadi hal ini menjadi dalil bahwa orang musyrik bila kita mempercayainya maka kita ambil ucapannya.

📚Asy-Syarhu al-Mumti'

📁http://bit.ly/Al-Ukhuwwah
Pada 31.05.2016

{ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً }،

أن الآية تتضمن النهي عن قتل النفس، وكل ما كان فيه ضرر.
وعليه فنقول: إذا كان الصوم يضر المريض كان الصوم حراماً عليه.
فإذا قال قائل: ما مقياس الضرر؟
قلنا: إن الضرر يعلم بالحس، وقد يعلم بالخبر؛ أما بالحس فأن يشعر المريض بنفسه أن الصوم يضره، ويثير عليه الأوجاع، ويوجب تأخر البرء، وما أشبه ذلك.

وأما الخبر فأن يخبره طبيب عالم ثقة بذلك، أي: بأنه يضره؛ فإن أخبره عامي ليس بطبيب فلا يأخذ بقوله، وإن أخبره طبيب غير عالم، ولكنه متطبب، فلا يأخذ بقوله، وإن أخبره طبيب غير ثقة فلا يأخذ بقوله.
وهل يشترط أن يكون مسلماً لكي نثق به؛ لأن غير المسلم لا يوثق؟
فيه قولان لأهل العلم، والصحيح أنه لا يشترط، وأننا متى وثقنا بقوله عملنا بقوله في إسقاط الصيام؛ لأن هذه الأشياء صنعته، وقد يحافظ الكافر على صنعته وسمعته، فلا يقول إلا ما كان حقاً في اعتقاده، والنبي صلّى الله عليه وسلّم وثق بكافر في أعظم الحالات خطراً، وذلك حين هاجر من مكة إلى المدينة استأجر رجلاً مشركاً من بني الدَيَّل، يقال له: عبد الله بن أريقط؛ ليدله على الطريق وهذه المسألة خطرة؛ لأن قريشاً كانت تبحث عن الرسول صلّى الله عليه وسلّم وجعلت مائة ناقة لمن يدل عليه، ولكن الرسول صلّى الله عليه وسلّم كان واثقاً منه، فدل هذا على أن المشرك إذا وثقنا منه فإننا نأخذ بقوله.


Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim