Sepenggal Kisah Dakwah di Asiki

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
( Edisi 13 )

Saya sempat mengajukan pertanyaan kepada ikhwan Asiki tentang kegiatan taklim yang selama ini telah diselenggarakan secara rutin. Ternyata, kebelumadaan ustadz yang menetap, membuat mereka harus cerdas untuk menemukan solusi. Kajian via telepon akhirnya menjadi jalan keluar.

Kajian via telpon dilakukan dua kali dalam sepekan. Senin malam Selasa di Mess Staf Asiki dan Rabu malam Kamis di CPO. Bersama Ustadz Abdul Aziz Hafidzahulloh dari Sorong, mereka terus bersemangat dalam mengaji. Kitab Arba'in Nawawi mereka upayakan untuk dihafalkan dengan bimbingan ustadz Abdul Aziz. Meskipun hanya via telepon.

Untuk kajian bulanan, setiap hari Ahad pekan pertama, mereka juga melangsungkan kajian via telepon dengan Ustadz pembimbing yang dipilih secara bergantian.

Bisakah kita membayangkannya? Mereka, dengan jumlah yang tidak sebanyak kita di Lendah, berasal dari beberapa distrik yang berbeda, lalu duduk berkumpul untuk ngaji. Mereka duduk dengan buku dan alat tulis. Menggunakan meja kecil, lalu dengan serius mencatat tanpa berhadapan langsung dengan sang Ustadz. Hanya dengan mendengar suara, kadang jelas kadang samar-samar, terkadang putus-putus. Tergantung signal jaringan telekomunikasi.

Majalah-majalah yang dikelola oleh Salafiyyin Alhamdulillah sudah bisa sampai di Asiki, merekapun berlangganan. Untuk mengikuti perkembangan  kekinian, mereka upayakan dengan cara mendownload dari website Salafiyyin, kemudian mereka menerbitkan buletin. Terkait pendidikan anak-anak usia dini, mereka mengelolanya sendiri, meskipun dengan segala keterbatasan yang ada. Karena mereka yakin bahwa program pendidikan, walaupun dikemas sangat sederhana, asalkan dikonsep di atas Al Qur’an dan As Sunnah, masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pendidikan yang penuh fasilitas, namun akhirnya menjauhkan anak dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Beberapa anak yang sudah menginjak masa remaja, dititipkan di pondok-pondok Salafiyyin. Ada beberapa anak yang mondok di Ma’had Maros Sulawesi Selatan, ada pula yang di Ma’had Al Bayyinah Gresik. Kesemuanya itu sebagai usaha didalam bersyukur kepada Allah dengan mengarahkan anak-anak mereka supaya bisa mempelajari Islam dengan benar, yakni menanamkan pendidikan agama sedini mungkin.

Ketiadaan ustadz yang menetap, pastinya menjadi kendala tersendiri dalam keberlangsungan dakwah. Namun,  keberadaan ustadz juga bukan menjadi jaminan kemudian bisa terbebas dari kendala dalam dakwah.

Kapan dan dimanapun, yang namanya menegakkan dakwah Salafiyyah pasti akan dihadapkan dengan berbagai macam kendala. Itu sudah pasti dan tidak bisa dihindari.
Karena untuk menguji seberapa besar kesabaran seorang hamba mengemban amanah dakwah. Sebesar apa nilai ketulusannya untuk berjuang di jalan Allah. Kesabaran itu dinilai dengan ketegaran kita ketika menghadapi kendala yang ada.

Namun, yakinlah bahwa ujian demi ujian itu sudah disesuaikan dengan tebal tipisnya iman. Semakin kuat keimanan seseorang, akan bertambah berat pula ujiannya. Dengan tetap istiqomah dan ikhlas, pahala yang diperolehpun akan semakin besar.

00000_____00000

“Sudah? Kasih nama As Sunnah saja!”, pesan Ustadz Shadiqun kepada pakdhe Yoyok.

Pesan itu disampaikan terkait dengan penamaan sebuah masjid sederhana yang dibangun oleh Pakdhe Yoyok sekeluarga. Masjid itu letaknya masih didalam lokasi perusahaan Korindo Asiki, namun statusnya milik pakdhe Yoyok. Semula, masjid itu dinamakan Masjid Umar bin Khatab. Namun, mengikuti nasehat dari Ustadz Shadiqun, masjid itu pun kemudian diganti nama menjadi Masjid As Sunnah.
Posisinya sangat strategis. Walaupun berada di tengah hutan, namun lokasinya berada di samping perempatan jalan yang mengubungkan jalur Merauke-Boven Digoel dan camp-camp sekitar perkebunan sawit.
Bangunan masjid itu berada di luar area perumahan ikhwan-ikhwan. Harapannya kelak bisa menjadi sebuah tempat untuk pusat koordinasi dakwah di Asiki.

Posisi masjid juga berada salah satu jalur yang menghubungkan Indonesia dengan Papua New Guinea. Ada Pasar Bastop yang mempertemukan para penjual dan pembeli dari kedua negara. Jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari masjid Pakdhe Yoyok.

Kami sempat sejenak mengunjungi lokasi pasar yang berada di tepi rawa-rawa itu. Di sana juga terdapat sebuah pos TNI yang dibangun untuk pengamanan perbatasan.
Pasar kecil yang hanya ada sekitar sepuluh lapak itu ternyata beromset besar. Masyarakat Papua New Guinea datang untuk menjual hasil tangkapan laut, sungai dan hasil buruan di hutan. Hasil penjualan digunakan untuk membeli sembako dan barang kebutuhan rumah tangga dari warga Indonesia.

Beromset besar?
Coba dihitung kasar saja. Sebagai contoh harga gelembung ikan Kakap Emas, tiap satu ons bernilai sekitar empat juta rupiah. Jika sekilo saja, berartikan sudah empat puluh juta? Sementara tentunya banyak kilo yang dibawa kepasar itu. Dan bukan gelembung ikan kakap saja, berbagai macam ikan diperjualbelikan. Pokoknya, jika tidak menyaksikan sendiri, barangkali kita tidak akan pernah percaya kalau terdapat sebuah pasar kecil yang terletak di tengah hutan, di tepi rawa perbatasan.

Di pos TNI itu, kami bertemu dengan seorang anggota Yonif 301/PKS yang ternyata sudah mulai aktif mengikuti kajian.
Masya Allah! Di ujung timur Indonesia, seorang anggota TNI salafy sedang bertugas di perbatasan. Semoga Allah melindunginya dan juga melindungi seluruh anggota TNI lainnya.

Malam Rabu, Pakdhe Yoyok mengundang masyarakat termasuk ikhwan-ikhwan dari beberapa camp perusahaan. Turut diundang juga anggota TNI yang sedang bertugas di perbatasan. Alhamdulillah, undangan dalam rangka peresmian masjid tersebut disambut positif. Saya dan Ustadz Ayip yang diminta untuk memberikan Tausiyah, bisa merasakan hangatnya suasana malam itu. Termasuk hadir juga beberapa personil Kopassus yang baru sepekan bertugas.

Acara makan bersama setelah pengajian malam itu, mudah-mudahan menjadi salah satu titik maju untuk perkembangan dakwah Salafiyyah di Asiki.

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Merauke,
Malam Kamis
30 Maret 2016

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
https://telegram.me/kajianislamlendah
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Pada 01.04.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim