Berilah Ruang untuk Anak-anak Kita

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
( Edisi 21 )

Dalam sebuah jamuan, Rasulullah Shallallohu'alaihi wasallam hadir disertai para sahabat. Demikianlah Rasulullah yang selalu mengusahakan untuk selalu dekat dengan sahabat-sahabatnya. Kedekatan yang kuat akan memudahkan koordinasi, meningkatkan kualitas komunikasi dan melancarkan proses transfer ilmu. Bukankah demikian Rasulullah mengajarkan? Selalu dekat dengan para sahabat.

Dalam jamuan tersebut, disajikanlah minuman yang diserahkan kepada Rasulullah sebagai orang pertama. Beliaupun minum. Setelah itu kepada siapakah minuman akan beliau berikan sebagai giliran selanjutnya?

Sebagaimana yang sudah dipahami bahwa sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Shallallohu'alaihi wasallam dalam setiap pembagian makanan dan minuman selalu diurutkan dari sebelah kanan beliau.
Pada kesempatan itu qadarulloh secara posisi, Ibnu Abbas yang ketika itu masih anak-anak berada di sebelah kanan beliau. Sementara di sebelah kiri, kaum orangtua juga duduk dengan rapi. Dilematis. Satu sisi beliau ingin memuliakan sahabat sepuh dengan mendahulukan mereka. Sisi yang lain, yang lebih berhak dalam hal urutan adalah yang duduk disebelah kanan.

Beliau adalah figur yang sangat bijaksana. Oleh karena itu, Rasulullah bertanya kepada Ibnu Abbas kecil :

"Apakah engkau memberikan ijin, jika aku memberikan giliran minum kepada orang-orang tua itu?”

Luar biasa! Rasulullah adalah sosok yang sangat menghargai, bahkan kepada anak-anak sekalipun. Beliau juga mengakui keberadaan dan hak-hak anak. Dalam pengakuan hak, Rasulullah tidak membeda-bedakan antara yang tua dan yang masih anak-anak. Seandainya mau, bisa saja Beliau memberikannya kepada orang-orang tua secara langsung. Namun, beliau ingin sekali menanamkan pendidikan karakter secara kuat.

Ibnu Abbas yang memang mempunyai hak untuk didahulukan nyatanya menjawab :

”Tidak mau, demi Allah. Saya tidak akan mendahulukan orang lain dalam mengambil bagian saya dari Anda, wahai Rasulullah!”

Sisa atau bekas minum dari Rasulullah tidak ingin dilewatkan begitu saja oleh Ibnu Abbas. Sebab, Ibnu Abbas ingin mendapatkan berkah dari beliau. Sesuatu yang menjadi kekhususan Rasulullah saja dan tidak berlaku pada selain Beliau Shallallohu'alaihi wasallam.

Rupanya, jika diteliti lebih lanjut, kita bisa menyimpulkan bahwa Rasulullah di dalam proses mendidik, selalu memberikan ruang secukupnya kepada anak-anak. Terkadang beliau mengajak anak-anak untuk berpikir, terkadang dengan memboncengkan lalu menitipkan pesan-pesan, terkadang dengan mengajukan pertanyaan dan terkadang beliau menugaskan anak-anak.

Rasulullah selalu memberikan ruang untuk tampil buat anak-anak. Kepercayaan sebuah urusan diserahkan kepada mereka. Usamah bin Zaid yang masih muda belia pernah ditunjuk menjadi panglima perang untuk satu pasukan besar yang terdiri dari para sahabat-sahabat senior. Anas bin Malik sering memperoleh tugas dari beliau. Zaid bin Tsabit malah ditunjuk untuk menjadi penulis wahyu dan penerjemah bahasa.

Walaupun anak-anak diberi ruang untuk berbicara, ruang untuk tampil, kesempatan untuk memimpin, kesempatan untuk menjalankan tugas, dipercaya dalam beberapa hal, dilibatkan dalam diskusi dan musyawarah, bukan berarti kita melepas mereka selepas-lepasnya. Sebagai orangtua, kita pun berkewajiban untuk terus membimbing dan mengarahkan. Jika benar atau bagus, anak-anak harus diapresiasi. Apabila salah atau keliru, kita masih berkesempatan untuk mengarahkan.

oooo____oooo

Tepat sepekan yang lalu, anak-anak kita di Lendah diacarakan untuk berkemah di pesisir pantai Selatan, tepatnya pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. Dari yang kita perkirakan bakal diikuti oleh dua puluh lima atau maksimal tiga puluh anak, ternyata di hari H, peserta mencapai empat puluh anak. Hal ini adalah bukti bahwa anak-anak kita sangat antusias jika diajak untuk berkegiatan positif.

Sepekan sebelum perkemahan, rapat kecil-kecilan dilakukan. Koordinator utama yakni pak Amin Grogol saya pilih berdasarkan curriculum vitae beliau yang memang gemar dengan kegiatan berkemah dan mendaki gunung.

Bahkan saat masih bekerja di Jepang dahulu, saat-saat senggang, pak Amin memanfaatkan waktu dengan naik gunung. Gunung Fuji-pun pernah beliau daki.

Koordinator umum dibantu dan didukung oleh tim yang telah dibagi secara rapi bentuk tugas dan scedhule kerjanya sekaligus. Siapa yang bertugas menyampaikan surat pemberitahuan kepada aparat desa? Mas Gunawan. Sebab, lokasi perkemahan dipusatkan pada halaman belakang rumah beliau yang berbatasan dengan pesisir pantai.

Menyaksikan kesungguhan dalam senyum dari ikhwan-ikhwan Lendah untuk mensukseskan program perkemahan anak-anak, membuat saya bahagia, bangga dan terharu. Semua berjalan sesuai rencana dan harapan. Sebuah sistem baru telah lahir di Lendah. Artinya apa? Artinya, untuk ke depan, program-program perkemahan dan yang serupa sudah bisa berjalan. Sebab, sebuah tim yang solid dan handal telah terbentuk serta teruji dengan baik kinerjanya. Baarakallahu fiikum

Kegiatan sudah dimulai dari Kamis siang. Tenda-tenda didirikan sejak pagi. Maklum saja, sebab perkemahan kali ini adalah yang pertama, sehingga kemah masih didirikan oleh para pembina. Esok waktu, biarlah anak-anak sendiri yang belajar cara mendirikan kemah dan tenda. Sebagai bentuk pelatihan buat mereka.

Saya baru bisa bergabung di malam hari. Sebab, bakda Maghrib saya masih harus menunaikan tugas mengajar di Pondok Wates. Dalam perjalanan menuju lokasi perkemahan, saya sempatkan untuk singgah di sebuah toko alat tulis. Empat puluh buku tulis saya beli sebagai hadiah untuk semua anak yang ikut berkemah. Tiap-tiap buku saya tuliskan di dalamnya sebuah pesan buat anak-anak plus nama saya beserta tanda-tangan.

Namun, satu hal yang membuat saya prihatin adalah mental anak-anak kita di Lendah. Panjenengan yang ikut hadir pada waktu Shubuh di hari Jum'at itu pasti siap memberikan kesaksian bahwa apa yang menjadi keprihatinan saya adalah benar-benar beralasan. Masih ingat, kegiatan apa yang dilakukan ba'da Shubuh kala itu?

Saya meminta anak-anak untuk maju ke depan. Berdiri tegak menghadap teman-temannya sendiri. Saya meminta mereka memegang gagang microphone untuk kemudian memperkenalkan diri. Saya meminta mereka untuk menyebutkan nama, umur, asal sekolah dan alamat rumah. Namun, apa hasilnya?

Dari empat puluh anak itu, semuanya berdiri dengan kaki gemetar, kata yang terbata-bata, grogi dan gugup. Bahkan ada yang akhirnya menangis sebelum sempat mengucapkan sepatah katapun. Walaupun rata-rata mampu bertahan di depan dengan berdiri untuk memperkenalkan diri, namun mereka melakukannya dengan mental yang kurang menggembirakan.

Kenapa hal ini terjadi? Apa latar belakangnya?

Barangkali karena kita belum benar-benar mencontoh dan meneladani Rasulullah dalam mendidik anak. Rupanya, kita belum memberikan ruang yang cukup buat anak-anak kita untuk berbicara, tampil ke depan, mengemukakan pendapat dan terlibat dalam musyawarah. Kita cenderung meminta anak-anak untuk diam mendengarkan, memposisikan mereka untuk selalu menuruti kemauan kita dan seterusnya. Bukankah kita sering mendengar kata-kata : ”Udah, anak-anak terakhir saja” atau “Anak-anak nanti saja”.

Mumpung masih ada kesempatan, Anda sebagai orangtua, tolonglah untuk banyak-banyak memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara dan berpendapat. Mulailah dari hal-hal yang kecil, seperti misalnya bertanya : ”Rumah kita akan dicat. Menurutmu nak, warna apa ya yang cocok?”

Libatkanlah anak-anak dalam diskusi dan musyawarah, sehingga esok besarnya ia telah terbiasa berbicara, mempunyai mental berpendapat, tidak cenderung pendiam dan tidak kaget dengan adanya perbedaan pandangan dalam rapat.

Barangkali, esok waktu, anak Anda diberi keluasan ilmu oleh Allah, niscaya ia akan berani untuk menyampaikan di hadapan orang banyak. Dari atas mimbar atau podium.

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah Kulonprogo
28 April 2016

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
http://tlgrm.me/kajianislamlendah
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Pada 29.04.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim