Apakah Setan Dan Jin Bisa Terlihat?

APAKAH SETAN DAN JIN BISA TERLIHAT?

Allah subhanahu wata'ala telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dibandingkan sekian makhluk-Nya;

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
[[sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk]]

Allah juga tentukan keutamaan manusia dari segenap hamba-Nya dengan sekian banyak keutamaan yang menyebabkan makhluk yang tidak bisa bersabar untuk tunduk dan patuh akan ketentuan dan keputusan-Nya binasa dalam kedengkian mereka. Dengan sebab asal inilah Allah jadikan musuh bagi kita diantaranya setan dari kalangan jin.
Secara asal Allah telah Menghendaki besarnya ujian bagi bani Adam dari makar dan permusuhan si-seteru abadi itu dengan memisah alam keduanya, dimana mereka bisa menyaksikan kita (kecuali pada keadaan tertentu yang akan disebutkan sebagai solusi di bagian akhir tulisan, biidznillah) sementara kita secara umum tidak bisa menyaksikan mereka.
Allah ingatkan keputusan-Nya ini dalam surat al A'rof:27

‏( ﻳَﺎﺑَﻨِﻲَ ﺁﺩَﻡَ ﻻَ ﻳَﻔْﺘِﻨَﻨّﻜُﻢُ ﺍﻟﺸّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻛَﻤَﺂ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺃَﺑَﻮَﻳْﻜُﻢْ ﻣّﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨّﺔِ ﻳَﻨﺰِﻉُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻟِﺒَﺎﺳَﻬُﻤَﺎ ﻟِﻴُﺮِﻳَﻬُﻤَﺎ ﺳَﻮْﺀَﺍﺗِﻬِﻤَﺂ ﺇِﻧّﻪُ ﻳَﺮَﺍﻛُﻢْ ﻫُﻮَ ﻭَﻗَﺒِﻴﻠُﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻻَ ﺗَﺮَﻭْﻧَﻬُﻢْ ﺇِﻧّﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﺍﻟﺸّﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺂﺀَ ﻟِﻠّﺬِﻳﻦَ ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ‏)

((Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ayah-bunda (pertama) kalian dari surga, dia menanggalkan dari keduanya pakaian mereka agar keduanya saling terlihat kepada keduanya aurat mereka. Sesungguhnya dia dan jin sejenisnya melihat kamu pada suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sebagai para teman dan penyokong bagi orang-orang yang tidak beriman.))

Dalam "Ma'alimutTanzil" 3/223 al Imam alBaghowiy menukilkan penafsiran Malik bin Dinar rahimahumullah:
إن عدوا يراك ولا تراه لشديد الخصومة والمؤنة إلا من عصم الله
"Bahwa terdapat suatu (jenis) musuh yang mereka dapat melihat engkau sedangkan engkau tidak melihatnya dikarenakan demikian dahsyatnya pertikaian dan perseteruan, KECUALI PIHAK YANG DIJAGA ALLAH."

BISAKAH JIN TERLIHAT?

Jika di sana terdapat nukilan ucapan ulama yang sekilas terkesan tegas menolak bisanya jin dilihat manusia maka masih terbuka beberapa kemungkinan yang tidak mengharuskan pertentangan terhadap potensi terlihatnya sebagian mereka.
Ucapan yang diriwayatkan dari al Imam asyaSyafi'iy rahimahullah misalnya:
... قال عبد الرحمن بن أحمد المهدي: سمعت الربيع بن سليمان يقول:سمعت الشافعي رحمه الله يقول: من زعم - من أهل العدالة - أنه يرىالجن، أبطلت شهادته، لأن الله - عز وجل ثقول:(إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم) الآية، إلا أن يكون نبيا
"... Abdurrahman bin Ahmad alMahdiy telah berkata: Aku pernah mendengar arRobi' bin Sulaiman berkata: Aku pernah mendengar asySyafi'iy rahimahullah berkata: "Barang siapa yang menyangka - dari kalangan manusia yang adil - bahwa dia melihat jin, menjadi batal persaksiannya. Karena Allah 'Azza wajalla telah berfirman (yang maknanya)
((Sesungguhnya dia dan jin sejenisnya melihat kamu pada suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka)) (cuplikan) ayat alQuran, kecuali jika dia seorang Nabi."
Pernyataan beliau tersebut masih ada kemungkinan pertemuannya, setidaknya ada kemungkinan yang beliau rahimahullah maksudkan dengan "...persangkaan..." sebagai keyakinan asal, mutlak, bisa kapanpun melihat jin sesuai kehendaknya. Kiranya yang demikian akan menjadi bantahan tegas untuk para penganut sekte sufi yang tak jarang meyakini para wali mereka memiliki kemampuan "kasysyaf" (mampu menyibak alam ghaib, termasuk melihat jin!). Tentu keyakinan kasysyaf semacam ini kita setujui dapat membatalkan persaksiannya.
Sementara yang dikuatkan para ulama (lainnya) adalah bukan kemampuan melihat dari sisi manusianya, namun lebih kepada potensi terlihatnya jin tanpa kesengajaan atau usaha khusus dari pihak yang melihat.
Sehingga dapat dimaklumi mengapa al Imam asySyafi'iy memberi batasan dalam ucapan beliau "... - dari kalangan manusia yang adil -..." dan "kecuali jika dia seorang nabi" bisa jadi untuk memisahkan antara orang yang mengaku dapat melihat jin dengan sengaja (jelas mereka secara asal tidak disebut manusia yang adil) dengan pihak yang tiba-tiba ditampakkan tanpa sengaja. Wallahu a'lam.

Walaupun perlu diakui memang terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini, sebagaimana diringkas oleh alQurthubiy rahimahullah dalam tafsir beliau:
قال بعض العلماء: في هذا دليل على أن الجن لا يرون، لقوله" من حيث لا ترونهم" قيل: جائز أن يروا، لأن الله تعالى إذا أراد أن يريهم كشف أجسامهم حتى ترى. قال النحاس:" من حيث لا ترونهم" يدل على أن الجن لا يرون إلا في وقت نبي، ليكون ذلك دلالة على نبوته، لأن الله جل وعز خلقهم خلقا لا يرون فيه، وإنما يرون إذا نقلوا عن صورهم. وذلك من المعجزات التي لا تكون إلا في وقت الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم...
"sebagian ulama menyatakan: pada ayat ini terdapat dalil bahwa jin tidak dapat dilihat, berdasarkan Firman-Nya: (yang artinya) [[pada suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka]].
Ada juga yang menyatakan bisa saja terlihat. Karena Allah Ta'ala jika menghendaki untuk memperlihatkan mereka niscaya akan disingkapkanlah jasad mereka sehingga terlihat. AnNuhhas (rahimahullah) berkata: "(makna ayat) [[pada suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka]] menunjukkan bahwa Jin tidak terlihat kecuali di masa Nabi, agar (kekhususan) yang seperti itu menjadi bukti akan kenabian beliau (shollallahu 'alaihi wasallam). Karena Allah telah menciptakan mereka sebagai suatu makhluq yang (secara asal) tidak terlihat, hanyalah mereka bisa terlihat ketika beralih rupa dari bentuk aslinya.
...
Sampai dengan penjelasan beliau
... وقد جاء في رؤيتهم أخبار صحيحة. وقد خرج البخاري عن أبي هريرة قال: وكلني رسول الله صلى الله عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان، وذكر قصة طويلة، ذكر فيها أنه أخذ الجني الذي كان يأخذ التمر، وأن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: (ما فعل أسيرك البارحة). وفي صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (والله لولا دعوة أخي سليمان لأصبح موثقا يلعب به ولدان أهل المدينة) - في العفريت الذي تفلت
Sementara juga telah ada sekian kabar sahih tentang melihat mereka. Sebagaimana alBukhariy telah mencantumkan dari Abu Hurairah beliau berkata: "Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam telah menugaskanku untuk menjaga Zakat Ramadhan...", dan diceritakan kisah yang panjang, yang disebutkan pula di sana bahwa beliau sempat memegang tangan si-Jin yang telah mencuri kurma. Dan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada beliau: ((apa yang telah dilakukan tawananmu tadi malam?)).
Juga (terdapat) dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: ((kalaulah bukan karena telah adanya doa saudaraku (Nabi) Sulaiman (yang telah meminta penguasaan terhadap jin bagi beliau-pent.), niscaya si-Jin tersebut akan terikat di pagi hari dalam keadaan dijadikan bahan permainan anak-anak penduduk Madinah)); tentang Ifrit yang telah dilepaskan."

Syaikhul Islam Ahmad ibnu Taimiyyah rahimahullahu menyebutkan dalam "alJawabushShahih liman Baddala DinalMasih" 4/289:
ﻭﺍﻟﺠﻦ ﻳﺮﺍﻫﻢ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ
"Dan JIN TELAH DILIHAT oleh banyak orang"

Juga dalam "MinhajusSunnah" 2/149, beliau rahimahullah tegaskan:
ﻭﺳﻠﻒ ﺍﻷﻣﺔ ﻭﺃﺋﻤﺘﻬﺎ ﻭﺟﻤﻬﻮﺭ ﻧﻈﺎﺭﻫﺎ ﻭﻋﺎﻣﺘﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻦ ﻳﻤﻜﻦ ﺭﺅﻳﺘﻪ ‏
"Sementara salaf ummat ini, para imamnya, mayoritas cendekiawannya, serta masyarakat umumnya (berpandangan) bahwa (sebagian) JIN MUNGKIN SAJA DILIHAT."

Al'allamah asySyaukaniy rahimahullah menuliskan:
وقد استدل جماعة من أهل العلم بهذه الآية على أن رؤية الشياطين غير ممكنة، وليس في الآية ما يدل على ذلك، وغاية ما فيها أنه يرانا من حيث لا نراه، وليس فيها أنا لا نراه أبدا، فإن انتفاء الرؤية منا له في وقت رؤيته لنا لا يستلزم انتفاءها مطلقا
"Dan sekelompok ahli ilmu telah berdalil dengan ayat ini bahwa melihat setan tidak akan mungkin. (Padahal) tidaklah ada petunjuk yang demikian pada ayat ini. (Yang benar) sekedar disebutkan padanya bahwa dia itu bisa melihat dari posisi yang tidak kita lihat. Dan bukanlah maknanya kita tidak akan pernah bisa melihatnya sama sekali. Karena peniadaan penglihatan kita di waktu dia melihat kita tidaklah mesti meniadakan (kemungkinan terlihatnya) secara mutlak."

Di masa kini, mungkin kita masih ingat dengan kisah yang dituturkan oleh Syaikh Rabi' bin Hadi alMadkhali tentang terlihatnya penampakan sosok yang aneh oleh beliau bersama saudaranya dalam sebuah perjalanan mereka, hingga beliau menyatakan:
"... Akan tetapi, di sana sekarang ini ada orang-orang yang mengambil pemikiran Muhammad Abduh (murid Al-Afghani) dalam pengingkaran terhadap sihir, sungguh menyedihkan, dan pengingkaran melihat jin. Pemikiran ini asalnya adalah dari kaum Mu’tazilah pemuja akal, yang mereka berhukum dengan akal-akal mereka dalam urusan agama dan kehidupan. Sungguh menyedihkan.
Maka tidak mustahil kadang syaitan bisa dilihat. Dan saya tandaskan pada kalian, kalau saya melihat sendiri hal ini."
Simak kembali kelengkapanya di:
http://forumsalafy.net/benarkah-syaitan-bisa-dilihat-dan-bisa-berubah-ubah-bentuknya/

Syaikh Abdul Aziz arRajihiy hafidzahullah juga mendukung peniadaan dari kemutlakan kondisi asal tersebut dalam syarh beliau terhadap tafsir ibnu katsir ketika menjelaskan ayat di atas:
هذا هو الأصل أن الشيطان يرى الإنسان ولا يراه, وقد يتبدى الجني للإنسان, وقد يظهر بعض الأحيان, لكن هذا قليل, والغالب والأصل: أن الشياطين والجن يرون الناس والناس ولا يرونهم
"Inilah kondisi asalnya, bahwa setan bisa melihat manusia sementara dia (manusia) tidak melihatnya. Meski TERKADANG JIN BISA TERLIHAT OLEH MANUSIA, DAN BISA NAMPAK PADA SEBAGIAN WAKTU, NAMUN YANG DEMIKIAN JARANG TERJADI, dimana keumuman dan asalnya: bahwa setan merekalah yang melihat manusia sementara manusia tidak melihat mereka."

Maka untuk menyederhanakan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Secara asal Jin adalah makhluk ghaib yang tidak tampak oleh manusia selain Nabi.

2. Pada kondisi tertentu bisa saja Jin terlihat oleh manusia, dan tidak melazimkan yang demikian sebagai indikasi berta'awun dengan jin atau dukun yang merupakan perbuatan syirik. Bahkan terdapat fakta bahwa sebagian ulama juga pernah menyaksikan sosok Jin.

3. Namun tentu jika pengakuan kemampuan melihat alam jin sering terjadi, atau bahkan diklaim berlangsung terus menerus, maka sebagaimana jawaban ustadz Qomar Su'adiy nampaknya ada indikasi hubungan dengan jin dan berta'awun dengan mereka.

Wallahu a'lam

---------------------
Rujukan Kitab dan Risalah:
- "Ma'alimutTanzil" karya al Baghowiy rahimahullah
- "alJami' li AhkamilQur-an" karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syamsuddin alQurthubiy rahimahullah
- "FathulQodir" karya Muhammad bin 'Ali asySyaukaniy alYamaniy rahimahullah
-  "Tafsir al Imam asySyafi'iy" - Sebuah Kumpulan dan Catatan - Desertasi gelar Doktor Ahmad bin Musthofa alFarran

Pranala pendukung:
- www.mnhj.net/vb/threads/9124-إثبات-رؤية-الجن-للإنس-وإستحسانهم-وعشقهم!
- www.sahab.net/forums/?showtopic=124149
- www.djelfa.info/vb/archive/index.php/t-762227.html

Ditulis oleh:
Abu Abdirrahman Sofian عفى الله عنه ولواديه وللمسلمين ... آمين
sebagai penjelasan pertanyaan seputar tema, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian.

dipublikasikan melalui:
group WA al I'tishom | Kraksaan | 26 Rabi'ul Akhir 1437 H

 Telegram Ahkam,tanya jawab
Join Channel:
https://tlgrm.me/LilHuda
_________________________________
Pada 27.04.2016


Postingan terkait: