Tata Cara Sholat Gerhana

SHOLAT GERHANA : IBADAH DAN HIKMAH YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA (4)💐🌹🌷

📚SILSILAH FAWAID MUHIMMAH

{BAB 3}

📚🌷TATA CARA SHOLAT GERHANA (1)

▶️3.1. Panggilan Untuk Sholat Gerhana.

Disunnahkan untuk memanggil manusia untuk melakukan sholat gerhana dengan panggilan, “Ash Sholatu Jamiah” (الصلاة جامعة)

📣Panggilan ini dilakukan dua kali, atau tiga kali, dengan patokan apakah sudah didengar manusia atau tidak. Panggilan ini adalah panggilan yang khusus untuk sholat gerhana menurut pendapat yang dirajihkan oleh Asy syaikh Al’Utsaimin, yang mana sebagian ulama yang lain berpendapat panggilan ini juga digunakan untuk sholat Istisqo’ dan sholat ‘id. (lihat Asy syarhul Mumti 5/199 )

Dalilnya adalah sebuah hadits dari Abdullah bin ‘amr bin al ‘ash:

✅"Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan seseorang untuk menyerukan : Ash Sholatu Jamiah" (Taudhihul Ahkam 3/62)

▶️3.2. Bacaan Pada Sholat Gerhana Dengan Jahr.

📝Berdasarkan dalil:

لحديث عائشة ـ رضي الله عنها ـ: «أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم جهر في صلاة الخسوف

✅Artinya: dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

📝📣Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam  membaca dengan jahr (dikeraskan) dalam sholat gerhana” (HR Al Bukhari: 1065)

💯Ada sebuah Qoidah yang diterapkan untuk hal ini, seperti disebutkan oleh Asy syaikh Al’Utsaimin:

(أن الصلاة الجهرية في النهار إنما تكون فيما يجتمع الناس عليه) .

✅Artinya: Sholat Jahriah pada siang hari dilakukan hanya pada sholat yang terdapat perkumpulan manusia yang disebabkan olehnya. (Asy syarhul Mumti 5/184).

▶️3.3 Sifat (Cara) Sholat Gerhana
Terdapat beberapa pendapat tentang sifat sholat gerhana:

📬Pendapat pertama : Sholat gerhana sama seperti sholat biasa.

📬Pendapat Kedua : Sholat gerhana dilakukan dengan enam rukuk dan empat sujud

📬Pendapat Ketiga : Sholat gerhana dilakukan dengan delapan rukuk dan empat sujud

📬Pendapat Keempat  : Sholat gerhana dilakukan dengan sepuluh rukuk dan empat sujud.

☀️⛅️🌥Dalam keadaan gerhana tidaklah terjadi dizaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya satu kali saja, oleh karena itulah para ulama merajihkan hadits ‘Aisyah daripada riwayat-riwayat yang lain, yaitu sholat gerhana tersebut dilakukan dengan 4 rukuk dan 4 sujud.

🌥☁️🔰Adapun riwayat-riwayat yang lain telah dilemahkan oleh para ulama, diantaranya: Imam Ahmad, Al Bukhari, Asy Syafi’I, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan lainnya. ((Taudhihul Ahkam 3/6)

♻️Rincian tata cara sholat gerhana ini, akan kami sampaikan pada tulisan berikutnya Insya Allah.

📝Ditulis Oleh: Ustadz Abu Khuzaimah Al Fadanji Hafizhahullah

📮(Padang  27 Jumadil  ‘Ula  1437 H, 7 Maret  2016)

📣💯Maraji’:

(1). Al Mulakhos Al Fiqhiyyi (134) oleh Asy Syaikh Sholih bin Fauzan Alu Fauzan.

(2). Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram Oleh Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam (wafat 1423 H)

(3). Asy Syarhul Mumti ‘ala Zadi Mustaqni’Oleh Asy Syaikh Al ‘Utsaimin (wafat 1421 H)
__________________

Posting :
Senin, 07 Maret 2016
Jam. 15.30

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

▶️3.3 Sifat (Cara)  Sholat Gerhana

✅💯Untuk rincinya maka sholat gerhana dilakukan dengan cara sebagai berikut:

📣Berkata Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi (wafat 620 H) rahimahullah:

🔰🔆“Sholat gerhana dilakukan dua rakaat dengan takbiratul ihram pada rakaat pertama, kemudian membaca doa istiftah, kemudian ta’awudz lalu membaca Surat Al Fatihah, kemudian Surat Al Baqorah atau yang semisal dengannya (dari sisi panjangnya bacaan), kemudian dia rukuk lalu dia bertasbih kepada Allah sepanjang (semisal pembacaan 100 ayat Al Qur’an), kemudian dia bangkit berdiri sambil mengucapkan Sami Allahu liman Hamidahu Rabbana wa lakal hamdu, kemudian kembali membaca Al Fatihah dan surat Ali Imran atau yang semisal dengannya dari sisi panjangnya, kemudian dia rukuk dengan panjangnya sekitar 2/3 rukuknya yang pertama, kemudian dia bangkit berdiri sambil mengucapkan Sami Allahu liman Hamidahu Rabbana wa lakal hamdu, kemudian dia sujud dan memanjangkannya pada setiap sujud tersebut, kemudian dia berdiri untuk mengerjakan Rakaat yang kedua.

♻️🔰(Pada rakaat kedua ini) dibaca surat Al Fatihah dan surat An Nisa, kemudian dia rukuk lalu dia bertasbih kepada Allah sepanjang 2/3 dari panjang tasbihnya pada rukuk yang kedua (pada rakaat pertama:  pen) kemudian dia berdiri dan membaca surat Al Fatihah dan surat Al Maidah, kemudian dia rukuk kembali, dengan panjangnya dibawah/kurang  daripada rukuk yang sebelumnya, kemudian dia bangkit berdiri sambil mengucapkan (Sami Allahu liman Hamidahu Rabbana wa lakal hamdu) kemudian sujud. (Al Mugni 2/313)

♻️Setelah sujud, sifat sholat sama dengan sholat yang biasa.

📚💐Mengambil kesimpulan dari penjabaran ini, sholat gerhana terdiri dari 2 (dua) rakaat yang mana dalam setiap rakaat tersebut terdapat, dua kali berdiri, dua kali qiraah (membaca dengan jahr) kemudian dua kali rukuk serta dua kali sujud”

🗃Masalah :

⏩1. Bacaan apakah yang dibaca dalam rukuk yang demikian panjangnya?

📣Jawab:

✅Asy Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

🗂“ (lakukan) pengulangan tasbih, yaitu kalimat :

«سبحان ربي العظيم»

(subhanallahu wa bihamdihi)  ....atau

«سبحانك اللهم ربنا وبحمدك
اللهم اغفر لي»

(Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirliy).....atau
«سبحان الله وبحمده عدد خلقه، ورضا نفسه، وزنة عرشه، ومداد كلماته»

(subhanallahu wa bihamdihi ‘adada kholqihi wa ridho nafsihi, wa zinata arsyihi, wa midada kalimaatihi)

📕Berdasarkan keumuman dalil:

«أما الركوع فعظموا فيه الرب»

💯Artinya: “adapun ketika rukuk agungkanlah Rabb”
Maka setiap amalan yang terdapat padanya pengagungan terhadap Ar Rabb, maka ini disyariatkan. (Asy Syarhul Mumti’ 184/5)

⏩2. Bagaimana jika selesai sholat sedangkan gerhana belum selesai?apa yang dilakukan ?

📣Jawab:

✅Asy Syaikh Sholih Fauzan mengatakan:

📕“Jika sholat telah selesai sedangkan gerhana belum selesai maka, (amalan yang dilakukan) adalah dzikir kepada Allah, dan berdoa, sampai selesai gerhana, dan tidak perlu mengulangi shalat.” (Al Mulakhos Al Fiqhiy : 135)
Allahu a’lam.

📝Ditulis Oleh: Ustadz Abu Khuzaimah Al Fadanji Hafizhahullah

📮(Padang  28  Jumadil  ‘Ula  1437 H, 8 Maret  2016)

🔰Maraji’:

(1). Al Mulakhos Al Fiqhiyyi oleh Asy Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan.

(2). Al Mugni li Ibni Qudamah Al Maqdisi wafat: (620 H)

(3). Asy Syarhul Mumti ‘ala Zadi Mustaqni’Oleh Asy Syaikh Al ‘Utsaimin (wafat 1421 H)
____________________

Postting :
Selasa, 08 Maret 2016
Jam. 15.00 wib

~~~~~~~~~~~~~~~~~~
📡🌍 Publikasi :
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Link Access :
📟https://bit.ly/SilsilatusSholihinPadang
---------------------------
📮https://telegram.me/SilsilatusSholihin

====================
🇮🇩💫Ⓜ️Ma'had Silsilatus Sholihin Padang

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim