Talqin di Kuburan

TALQIN DI KUBURAN

472- وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ أَحَدِ التَّابِعِينَ قَالَ: - كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إِذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ, وَانْصَرَفَ اَلنَّاسُ عَنْهُ, أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ: يَا فُلَانُ! قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ. ثَلَاثُ مَرَّاتٍ, يَا فُلَانُ! قُلْ: رَبِّيَ اللَّهُ, وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ, وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ - صلى الله عليه وسلم - - رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا . وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا

Dari Dhomroh bin Habiib radhiyallaahu anhu -salah seorang Tabiin- beliau berkata: Mereka dulu menyukai jika telah diratakan kubur atas mayit dan manusia telah berpaling diucapkan di kuburnya: Wahai Fulaan, Ucapkan Laa Ilaaha Illallaah, 3 kali. Wahai Fulaan ucapkan: Robbiyallah wa diinil Islam wa Nabiyyii Muhammad (riwayat Said bin Manshur secara mauquf), dan dari riwayat atThobarony semisal dengan itu dari hadits Abu Umamah secara panjang<< anNawawy menyatakan bahwa sanadnya lemah dalam al-Majmu’(5/304) dilemahkan juga oleh al-Iraqy dalam Takhrij al-Ihya’ (4/420) >>

📌 PENJELASAN:

Hadits ini dilemahkan oleh sekian banyak Ulama’ di antaranya al-Imam anNawawy, al-‘Iraqy (guru Ibnu Hajar al-‘Asqolaany), Ibnus Sholaah, Ibnul Qoyyim, al-Hafidz Ibnu Hajar sendiri pada sebagian karyanya. Dikuatkan oleh ad-Dhiyaa’ dan Ibnu Hajar pada sebagian karyanya yang lain dengan melihat jalur-jalur penguat yang ada. Al-Imam Ahmad menyatakan bahwa perbuatan itu diamalkan oleh penduduk Syam, sedangkan Ibnul Araby menyatakan bahwa hal itu diamalkan oleh penduduk Madinah dan sebagian tempat seperti di Cordoba (Lihat al-Maqooshidul Hasanah karya as-Sakhowy (murid Ibnu Hajar) juz 1 halaman 264).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya: Apakah disyariatkan talqin mayit dewasa ataupun yang masih anak-anak?

Beliau menjawab: talqin terhadap mayit disebutkan oleh sebagian Ulama para pengikut asy-Syafi’i dari Khurasan. Dianggap baik pula perbuatan itu oleh al-Mutawalliy, ar-Rofi’i dan selain mereka berdua. Sedangkan dari asy-Syafi’i sendiri tidak ternukil apapun (pendapatnya tentang talqin mayit). Dari kalangan Sahabat Nabi, sebagian mengamalkannya seperti Abu Umamah al-Bahily, al-Watsilah bin al-Asqa’ dan selainnya. Sebagian pengikut Ahmad menganggapnya mustahab (disukai). Pendapat yang benar adalah bahwasanya itu boleh dan bukan kebiasaan yang selalu dilakukan. Wallaahu A’lam (Majmu’ al-Fataawa Ibnu Taimiyyah 24/299).

Beliau juga pernah ditanya: Apakah talqin terhadap mayit adalah wajib?

Beliau menyatakan:talqin (mayit) setelah meninggalnya tidaklah wajib berdasarkan ijma’ para Ulama’. Juga bukan amalan yang masyhur dari kaum muslimin di masa Nabi dan para Khulafaur Rasyidin. Akan tetapi terdapat atsar dari sebagian Sahabat Nabi seperti Abu Umamah dan Watsilah bin al-Asqo’. Sebagian Ulama’ ada yang memberikan rukhshoh (keringanan dalam mengamalkan) seperti Ahmad. Hal itu dianggap mustahab (disukai) oleh sebagian pengikutnya dan pengikut asy-Syafi’i. Sebagian Ulama’ membencinya dengan keyakinan bahwa itu bid’ah. Maka pendapat tentang ini ada 3: mustahab (disukai), makruh(dibenci), dan mubah (boleh). Ini adalah pendapat yang paling adil. Sebenarnya pendapat yang mustahab yang diperintahkan dan dikhususkan oleh Nabi shollallaahu alaihi wasallam adalah mendoakan mayit (Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah (24/297)). 

Bagi kaum muslimin yang cenderung pada pendapat bahwa talqin pada saat jenazah selesai dikuburkan adalah boleh dilakukan, hendaknya tidak mentalqin dengan menduduki kubur karena terdapat larangan Nabi dalam hal itu. Hendaknya ia duduk di sisi kubur, tidak tepat di atas kuburnya.

〰〰〰

📝 Disalin dari buku "Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam (Syarh Kitab al-Janaiz Min Bulughil Maram)".  Penerbit Pustaka Hudaya, halaman 130-132.

💺 Penulis: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله.

〰〰〰〰〰〰〰
📚🔰Salafy Kendari || http://bit.ly/salafy-kendari
Pada 14.03.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim