Liang Lahad dalam Kubur dan Meninggikan Kubur Sekedar Sejengkal

LIANG LAHAD DALAM KUBUR DAN MENINGGIKAN KUBUR SEKEDAR SEJENGKAL

467- وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - أَلْحِدُو ا لِي لَحْدًا, وَانْصِبُوا عَلَىَّ اللَّبِنَ نُصْبًا, كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - . - رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallaahu anhu ia berkata: Letakkan aku di lahad, dan tegakkan batu bata di atas (jasad)ku sebagaimana dilakukan hal itu terhadap (jenazah) Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam (riwayat Muslim)

📌 PENJELASAN:

Lahad adalah liang yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian arah kiblat untuk meletakkan mayit di dalamnya. Mayit dibaringkan dengan bertumpu pada sisi kanan jasadnya dan menghadap kiblat, sambil dilepas tali-tali selain tali kepala dan kaki. Tidak perlu menyingkap wajahnya kecuali jika meninggal dalam keadaan ihram.

Setelah mayit dimasukkan ke dalam lahad, lubang lahad itu ditutup dengan batu-bata atau papan kayu sebagai pelindung untuk jenazah. Jika masih ada celah, ditutup dengan tanah liat.

468- وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ جَابِرٍ نَحْوُهُ, وَزَادَ: - وَرُفِعَ قَبْرُهُ عَنِ الْأَرْضِ قَدْرَ شِبْرٍ - وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّان

Dan dalam riwayat alBaihaqy dari Jabir radhiyallahu anhu semisal dengan itu, dengan tambahan (lafadz): dan ditinggikan kuburnya dari bumi sekadar satu jengkal (dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

📌 PENJELASAN:

Ketika meratakan tanah pada kuburan, gundukan tanahnya dilebihkan sehingga kuburan lebih tinggi dari permukaan tanah sekedar 1 jengkal. Hal itu agar kubur tersebut lebih terlindungi dan tidak dihinakan.

Peninggian tersebut tidak boleh lebih dari 1 jengkal berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib yang diperintah oleh Nabi shollallaahu alaihi wasallam untuk tidak membiarkan kuburan yang ditinggikan kecuali diratakan (H.R Muslim). Peninggian yang dilarang adalah yang melebihi 1 jengkal.

Peninggian kubur ini diserupakan seperti punuk unta. Sebagaimana dalam hadits:

عَنْ سُفْيَانَ التَّمَّارِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا

Dari Sufyan atTammaar ia menceritakan bahwa ia melihat kubur Nabi shollallaahu alaihi wasallam seperti punuk (H.R al-Bukhari)

Boleh juga memberi tanda semacam batu yang ditanam pada kubur di posisi kepala jenazah sebagaimana yang dilakukan Nabi shollallahu alaihi wasallam terhadap kubur Utsman bin Madzh-‘un dan beliau bersabda:

أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي

“Aku berikan tanda dengannya kubur saudaraku “(H.R Abu Dawud, sanadnya dinyatakan hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam atTalkhiisul  Habiir (2/133).

Namun, tanda tersebut (yang di tempat kita kebanyakan disebut ‘batu nisan’) tidak diperbolehkan untuk ditulisi. Berdasarkan hadits:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُجَصَّصَ الْقُبُورُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا ...

Dari Jabir –radhiyallaahu anhu- ia berkata: Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam melarang kuburan dikapur dan ditulisi (H.R atTirmidzi no 972)

Al-Imam asy-Syaukaany menyatakan:di dalam hadits ini terdapat dalil tentang pengharaman menulis terhadap kuburan. Secara dzhahir tidak ada perbedaan antara menulis nama mayit atau selainnya (Nailul Authar (4/475))
 
〰〰〰

📝 Disalin dari buku "Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam (Syarh Kitab al-Janaiz Min Bulughil Maram)".  Penerbit Pustaka Hudaya, halaman 119-121.

💺 Penulis: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله.

〰〰〰〰〰〰〰
📚🔰Salafy Kendari || http://bit.ly/salafy-kendari
Pada 04.03.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim