Konsekuensi Pernyataan Syahadat Kita bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah

✅🌹 Konsekuensi Pernyataan Syahadat Kita bahwa Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam adalah Utusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

➖🔹➖🔹➖🔹➖🔹➖🔹➖

🌷 Sebagai Seorang Rasul/Utusan Allah, Kita Harus Bersikap Sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama :

💐 Membenarkan Berita/Khabar yang berasal dari Beliau, Mentaati Perintah Beliau, Menjauhi Larangan Beliau dan Tidaklah Beribadah kepada Allah Kecuali dengan yang Beliau Syariatkan/Tuntunkan.

1⃣. Kita Harus Membenarkan Seluruh Khabar yang Datang dari Rasulullah.

🔰 Jika memang Shohih sebuah Hadits, Maka kita Wajib Meyakininya walaupun Bertentangan dengan Akal Pikiran Kita.

💠 Rasulullah Tidaklah Berbicara dengan Hawa Nafsunya, Tetapi justru Beliau Berbicara Berdasarkan Wahyu dari Allah, Sebagaimana dalam AlQuran disebutkan :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ اْلهَوَى () إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُّوْحَى 

🍃 Dan Tidaklah ia Berbicara berdasarkan Hawa Nafsunya, yang Diucapkannya Hanyalah sesuai Wahyu yang Diwahyukan (Kepadanya). (Q.S AnNajm : 3-4).

2⃣ dan 3⃣. Kita Wajib Menjalankan Perintah-perintah dari Rasulullah Shollallaahu Alaihi Wasallam dan Menjauhi Larangan – larangan Beliau. Hal ini sesuai dengan yang Allah nyatakan :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

🍃 Dan Apa-apa yang Datang dari (Perintah) Rasul maka Ambillah dan Apa-apa yang kalian Dilarang darinya Maka Berhentilah. (Q.S AlHasyr : 7).

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (النساء :65)

🍃 Maka Tidaklah, Demi TuhanMu, Tidaklah mereka Beriman sampai Menjadikan Engkau (Wahai Muhammad) sebagai Hakim atas Hal-hal yang mereka Perselisihkan, kemudian Mereka tidak Mendapati di Dalam Diri mereka Sempit Dada atas Apa yang engkau Putuskan dan Mereka Menerima dengan Penuh Penerimaan. (Q.S AnNisaa’:65).

4⃣. Kita Tidaklah Beribadah kepada Allah Kecuali dengan Tatacara yang Beliau Tuntunkan.

♻️ Para Ulama Memberikan suatu Kaidah yang demikian Bernilai bahwa : Asal Segala Sesuatu yang Berkaitan dengan Permasalahan Duniawi adalah Halal Dilakukan Selama Tidak Ada Larangan Padanya.

🌀 Berkaitan dengan Urusan Duniawi kita yang tidak Mengandung unsur Larangan dalam Syariat Islam, Rasulullah Shollallaahu Alaihi Wasallam Bersabda :

أَنْتُمْ أَعْلَمُ  بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

🍃 Kalian Lebih Tahu tentang Urusan Dunia Kalian….(H.R Muslim).

💡 Berbeda dengan urusan Dien, terdapat suatu Kaidah :

فَاْلأَصْلُ فِي اْلعِبَادَاتِ اْلبُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى اْلأَمْرِ

🍃 Secara asal, Pelaksanaan Ibadah adalah Batal (Haram dilakukan) sampai Ada Dalil yang Memerintahkannya. (Disebutkan dalam Kitab I’laamul Muwaqi’iin karya Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah juz I hal 344 penerbit Daarul Jayl, Beirut cetakan tahun 1973).

🌷 Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

🍃 Barangsiapa yang Mengamalkan suatu Amalan, yang Tidak Ada Perintah Kami (dalam Dien) maka Tertolak. (H.R Muslim).

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

🍃 Barangsiapa yang Mengada-adakan suatu Hal yang Baru dalam Urusan kami ini (Dien) yang Tidak ada Perintah padanya, Maka Tertolak. (H.R AlBukhari).  

~~~~~~~~~~~~~~~~

📙 Dikutip dari Buku "Memahami Makna Bacaan Sholat"
(Sebuah Upaya Menikmati Indahnya Dialog Suci dengan Ilahi).

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

=====================
http://telegram.me/alistiqomah
Pada 11.03.2016

Postingan terkait: