Istighfar dan Permohonan Kekokohan Untuk Penghuni Kubur Yang Baru Meninggal

ISTIGHFAR DAN PERMOHONAN KEKOKOHAN UNTUK PENGHUNI KUBUR YANG BARU MENINGGAL

471- وَعَنْ عُثْمَانَ - رضي الله عنه - قَالَ: - كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ: "اِسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ, فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ" - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ الْحَاكِم

Dari Utsman radhiyallaahu anhu beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika selesai dari menguburkan jenazah beliau berdiri dan bersabda: Mohonlah ampunan untuk saudaramu dan mintakan untuknya kekokohan (dalam menjawab) karena sekarang dia sedang ditanya (riwayat Abu Dawud dan dishahihkan oleh alHakim)<<disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby dan al-Albany, dihasankan oleh al-Mundziri>>

📌 PENJELASAN:

Seseorang yang berada di alam barzakh (setelah kematian) akan ditanya tentang 3 hal: Siapa Tuhannya, siapa Nabinya, dan apa agamanya. Seorang mukmin akan diberi kekokohan untuk menjawab dengan tegas bahwa Tuhannya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabinya adalah Muhammad shollallahu alaihi wasallam, dan agamanya adalah Islam. Sebaliknya seorang munafiq akan menyatakan: “Hah..hah.. saya tidak tahu, saya mendengar orang-orang mengatakannya sehingga saya pun ikut mengucapkannya”. Orang munafiq itupun akan mendapatkan siksa kubur.

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menuntunkan agar pada saat selesai penguburan kita memohonkan ampunan untuk saudara kita dan memintakan kepada Allah kekokohan dalam menjawab pertanyaan dari Malaikat tersebut. Kita bisa mendoakan dengan ucapan semisal: Allaahummaghfirlahu.. (Ya Allah ampunilah ia), Allahumma tsabbithu…(Ya Allah kokohkanlah ia). Bisa juga dengan doa sesuai bahasa kita masing-masing yang intinya memohon ampunan Allah untuknya dan agar ia dikokohkan dalam menjawab pertanyaan di alam kubur.
 
〰〰〰

📝 Disalin dari buku "Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam (Syarh Kitab al-Janaiz Min Bulughil Maram)".  Penerbit Pustaka Hudaya, halaman 128-129.

💺 Penulis: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله.

〰〰〰〰〰〰〰
📚🔰Salafy Kendari || http://bit.ly/salafy-kendari
Pada 14.03.2016

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Poskan Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Komentar dilarang mengandung link Website/Medsos/Email dan berbagai bentuk KONTAK PRIBADI
- Setiap komentar akan diMODERASI dan atas pertimbangan tertentu, kami berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dikirim